Syaikh Abu Ahmad al-Qalanisi

Beliau adalah Mush’ab bin Ahmad al-Baghdadi atau yang dikenal juga dengan sebutan Abu Ahmad al-Qalanisi. Beliau termasuk salah seorang sufi terdahulu. Berasal dari Marw, Turkumanistan. Sepantaran dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi dan Ruwaim al-Baghdadi. Wafat di Mekkah pada tahun 290 Hijriah setelah menunaikan ibadah haji.

Di dalam kitab Hilyah al-Awliya’ karya Syaikh Abu Nu’aim al-Ashfihani dituturkan bahwa Syaikh Abu Ahmad al-Qalanisi adalah seorang sufi yang dikenal dengan sikap rendah hati, penuh derma kepada sesama, menanggung penderitaan orang lain, harum hatinya, dan penuh pengorbanan.

Tentang kedermawanan sang sufi, Syaikh Maniyyah al-Bashri pernah menuturkan kisah sebagaimana berikut ini. “Pada suatu hari, saya pernah bepergian bersama beliau. Kami mengalami lapar yang sangat luar biasa. Beliau lalu mengeluarkan makanan berupa tajin dari tepung yang enak dan menyodorkannya kepada saya. Seperti orang yang sedang bergurau, beliau berkata kepada saya: ‘Kau menjadi tanggung jawab saya?’ Saya jawab ya. Dan beliau betul-betul mendahulukan saya ketimbang dirinya berkaitan dengan masalah makanan itu.”

Kita bayangkan bahwa di saat beliau juga lapar, di saat beliau juga membutuhkan makanan itu untuk menjadi asupan dirinya agar lebih bertenaga di tengah perjalanan, beliau masih memiliki hati yang luas dan penuh rasa derma yang dibuktikan dengan sepenuhnya memberikan makanan itu kepada kawan seperjalanannya.

Tindakan penuh derma seperti itu mengingatkan kita kepada para sahabat Anshar, kepada orang-orang beriman di Madinah ketika menerima kedatangan para sahabat Muhajirin yang datang dari Mekkah. Para sahabat Anshar yang mulia itu mendahulukan kepentingan para sahabat Muhajirin walaupun sesungguhnya mereka juga sangat membutuhkan segala sesuatu yang telah diberikan kepada orang-orang yang hijrah dari Mekkah tersebut.

Betapa sangat indah apa yang dilakukan oleh para sahabat Anshar itu. Sampai-sampai Allah Ta’ala turun tangan sendiri mengabadikan peristiwa penting itu sebagaimana bisa kita tengok di dalam salah satu firman hadiratNya pada surat al-Hasyr ayat sembilan.

Demikian pula apa yang telah diteladankan kepada kita oleh Syaikh Abu Ahmad al-Qalanisi. Di benak beliau, sama sekali tidak ada rasa ingin mementingkan diri sendiri. Yang ada adalah sebaliknya. Yakni, adanya sifat altruistik, sifat keberpihakan kepada orang lain yang jauh melebihi keberpihakannya kepada dirinya sendiri.

Dengan penuh kesadaran, beliau pernah menyatakan: “Bangunan madzhab tasawuf kami didirikan di atas tiga syarat: kami tidak menuntut seorang pun untuk menunaikan kewajiban kepada kami, kami menuntut diri kami sendiri untuk senantiasa melaksanakan kewajiban kepada orang lain, dan kami memastikan diri kami bertindak presesif pada segala sesuatu yang kami kerjakan.”

Tindakan Syaikh Abu Ahmad al-Qalanisi yang sangat altruistik itu konon didahului oleh tindakan beliau sendiri yang sangat tidak mengenakkan. Yaitu, pada suatu waktu beliau bersama dengan para sufi. Lantas, beliau mengatakan kepada mereka, “Ini sarungku,” sembari menunjuk kepada sarung yang dimilikinya. Para sufi itu lalu “mengusir” beliau lantaran kata-kata yang menunjuk pada kepemilikan personal tersebut.

Artinya adalah bahwa keanekaragaman karakter para sufi itu sesungguhnya secara hakiki adalah tunggal belaka. Sama sekali tidak diperkenankan di kalangan mereka adanya nafsu pribadi yang menyembul ke permukaan. Sebab, hal itu tidak menunjukkan bahwa “engkau adalah aku yang lain.” Di kalangan mereka, yang semestinya senantiasa menggema hanyalah ego Allah Ta’ala belaka. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.