
Belum lama, dalam sebuah pameran buku yang belakangan semakin jarang saya kunjungi, saya mencomot tiga buku berukuran kecil dan tipis untuk dibawa ke kasir. Kenapa kecil, karena harganya relatif murah dan terutama tak akan terlihat mengintimidasi saat hendak dibaca—kapan-kapan. Juga, untuk semacam pengimbang, karena pada saat yang sama istri saya menggendong beberapa buku berukuran besar.
Salah satu dari tiga buku kecil itu berterakan nama Julian Barnes di sampulnya. Saya kenal nama ini, seorang penulis Inggris pemenang Booker. Juga, ini tak kalah penting, ia konon penggemar bola. Ya, berkait sepakbola, Barnes yang lain seharusnya lebih menarik, tapi penulis dengan keterkaitan pada sepakbola seperti Hornby, Fry, hingga Pamuk, selalu punya nilai plus untuk saya.
Yang mungkin juga penting, saya kenal penerjemahnya. Afris Irwan namanya, tipe orang buku Jogja yang bergelut dan bekerja dalam kesunyian (atau, khusus untuk Afris, barangkali malah dalam keramaian, mengingat ia seringkali terlihat bekerja di tengah hiruk-pikuk warung kopi di sekitaran Sorowajan) demi pembaca-pembaca bodoh semacam saya ini. Untuk orang yang secara personal merasa berhutang lebih besar kepada Koesalah dibanding kepada Pramoedya, yang merasa tak bisa baca apa-apa dan tak akan mampu membaca apa-apa tanpa nama-nama seperti Hasif Amini, Max Arifin, M. Baihaqi, Imam Aziz, Arief B. Prasetyo, Rh. Widada, hingga Nurul Hanafi, saya selalu memiliki semacam titik lembut di dada untuk mereka.
Lalu, persis di depan kasir, tiba-tiba ada ingatan yang menguat dan, secara bersamaan, ada rasa bersalah yang naik merambat. Saya rasanya tidak hanya tahu tentang Julian Barnes; saya sepertinya punya beberapa bukunya. Ketika istri saya menyusul dengan belanjaan yang lebih banyak, saya menyerahkan dompet kepadanya dan memilih menepi. Sedikit menolong, meskipun itu jelas upaya mengelak dan menipu diri yang sia-sia saja.
Dan, benar. Begitu sampai rumah, ketika saya hendak mencari tempat yang cocok untuk menyisipkan tiga buku kecil yang baru saya beli, saya menemukan tiga buku Barnes dalam tumpukan yang terpencar-pencar. Tak satu pun yang benar-benar sudah dibaca. Salah satunya bahkan masih dengan bungkus plastiknya. Entah sudah berapa tahun ia di sana.
***
Saya sudah lama memutuskan tak mengikuti hiruk-pikuk sastra (Indonesia) dengan sikap aktif, apalagi reaktif. Dulu, saat masih mengerjakan novel pertama, saya putuskan tak membaca novel-novel pemenang DKJ agar tak menulis menyerupai novel-novel itu. Begitu memenangkannya, saya pikir saya tak harus punya penjelasan yang njelimet lagi, entah teknis atau ideologis, untuk jadi sekadar penyimak dari kejauhan. Konsekuensinya, saya biasanya tidak ambil bagian dalam keramaian sastra yang sedang tren. Sering kali karena tidak mau, tapi hampir pasti karena tidak bisa—mana bisa, wong belum baca.
Konsekuensi lain, dan ini terlihat mencolok, adalah koleksi buku sastra (Indonesia) saya seperti macet di satu masa yang sudah lama lewat. Seorang kawan yang mampir ke rumah belum lama ini bilang bahwa rak buku sastra saya terlihat seperti rak seorang yang kuliah Sastra pada tahun 80an. Itu artinya, rak buku saya lebih tua dua dekade dibanding usia aktual pemiliknya.
Ya, mereka bisa menemukan Eka Kurniawan atau Iksaka Banu atau Linda Christanty atau Ziggy atau Pratiwi Juliani atau Felix Nesi di situ, tapi buku-buku mereka nyaris tenggelam di tengah-tengah tumpukan Putu Wijaya atau Kuntowijoyo atau Ashadi Siregar, atau buku-buku kritik Takdir, Bagyo, Dami N. Toda, Kleden, Hartoyo Andangjaya, Teeuw, Umar Junus, atau seri proses kreatif suntingan Pamusuk Eneste—semua jenis buku dari masa-masa masih sekolah. Sudah begitu, beberapa proyek novel paling belakangan saya kerjakan mendorong saya untuk membaca fiksi-fiksi ’70-‘80an, membuat saya menumpuk novel-novel pop Indonesia yang memang mendominasi era-era itu.
Tentu, keinginan untuk menyapih diri dari keramaian sastra Indonesia mutakhir tak membuat saya berhenti membeli buku. (Saya hanya punya buku-buku itu untuk disukai, bagaimana bisa meninggalkannya?) Minat saya pada sejarah Indonesia masa Revolusi hingga Orde Baru (baik sebagai pembaca maupun sebagai penulis) masih begitu menggebu, sehingga godaan atas terbitnya kajian-kajian baru masih terus merongrong saya untuk mengumpulkannya.
Sama dengan kesenangan saya pada bacaan tentang film, khususnya film India. Meskipun dimulai agak terlambat, minat inilah yang paling cepat berkembang, menciptakan tumpukannya sendiri, baik lewat membeli secara acak maupun mencetaknya sendiri dari pdf-pdf yang bisa ditemukan di internet. Ia, juga, secara tak langsung merembet ke mana-mana, mulai dari buku-buku tentang film Hollywood hingga film-film Jakarta, dan belakangan Hong Kong. Tak mengherankan, buku-buku ini sekarang sudah memiliki rak khususnya, dan jelas ia masih akan terus bertambah.
Kesenangan atas film India akhirnya juga menyeret saya mengumpulkan prosa India. Awalnya malas-malasan, tapi untuk satu-dua alasan itu memang tak terhindarkan. Dimulai dari orang-orang atau karya-karya prosa yang memiliki hubungan tipis-tipis dengan film seperti Manto dan Narayan, ia merembet ke semata prosanya orang India, lalu apa pun yang terkait dengan India, dan akhirnya apa pun yang terkait Anak Benua India. Maka terkumpullah novel-novel Vikram Seth, Amitav Ghosh, Aravind Adiga, Rohinton Mistry, Hanif Kureishi, Monica Ali, Taslima Nasreen, hingga Mohammed Hanif. Sebagian karena perjumpaan yang acak saja, sebagian lain karena didorong untuk melengkapi kepingan yang sebelumnya telah dimulai oleh Rushdie, Naipaul, Roy, dan Lahiri—agar tidak terkesan hanya nama-nama yang disebut terakhir itu saja yang India punya setelah Tagore.
Juga menjadi jelas, ketika saya melipir dari keriuhan sastra Indonesia, saya tak serta-merta bisa meninggalkan sastra—atau, dalam cakupan yang sedikit lebih luas, saya tak bisa meninggalkan cerita. Saya selalu menyukai humor garing orang Inggris atau Irlandia, namun setelah membaca memoar Nick Hornby dan Frank McCourt rasa suka itu berada pada level yang berbeda. Maka masuklah Stephen Fry, Toby Young, Tina Brown, Russell Brand, hingga Clive James—meskipun yang terakhir ini sebenarnya orang Australia.
Hornby dan McCourt, dua orang yang bukan siapa-siapa sebelum menulis memoarnya, juga membuat saya mudah sekali tergoda untuk mengumpulkan kenang-kenangan hidup orang-orang tak dikenal atau yang tak saya kenal. Dari sisi ini, mereka membawa masuk para pemabuk anonim, remaja-remaja blangsak, juga orang-orang bejat semacam James Frey, Alizabeth Wurtzel, Augusten Burroughs, Tucker Max, atau Scotty Bowers—yang karena saking telernya, atau saking bejatnya, beberapa di antaranya dianggap membual atau membesar-besarkan kisah hidup mereka. Hal terbaik dari mengumpulkan memoar orang-orang jenis ini adalah menemukan Edmund White, yang bercerita kisah hidupnya sebagai seorang pemuda gay di tengah kehidupan intelektual dan seni New York era ‘70-‘80an.
Ketika Roy dan Adiga disambut riuh di Indonesia usai memenangkan Booker, saya merasa bertindak tidak adil ketika menemukan Pat Barker dan melewatkannya, hanya karena saat itu tak seorang pun di Gramedia atau Diva tertarik menerjemahkannya. Ini adalah awal ketika saya mulai mengumpulkan buku-buku penulis yang mungkin tak akan saya baca. Saya menyukai buku Marina Lewycka bahkan sejak dari judulnya, dan karena itu saya tak punya alasan untuk mengabaikan novel dengan judul yang tak kalah menariknya dari Tibor Fischer. Bersama nama-nama lain dalam label yang sama (Flanagan, Jackson, Ishiguro, Haddon), saya rasa Barnes menyusup masuk dengan tiga novelnya. Dan, ya, saya tak mengingatnya.
***
Bagaimana pun, ini bukan tentang tsundoku dan rasa bersalah karena melakukannya. (Saya punya banyak kesalahan yang saya sesali, namun menumpuk buku bukan salah satunya.) Tanpa perlu mengutip Eco, saya bisa katakan bahwa saya senang berada di tumpukan buku seperti senangnya seekor sapi di tengah padang rumput.
Saya tak peduli dinding rumah saya tanpa tempelan lukisan atau karya seni apa pun seperti umumnya rumah kelas menengah urban yang punya selera, asal di temboknya ada rak-rak yang penuh buku. Saya senang berlama-lama tidak melakukan apa-apa, hanya bengong saja, memandangi punggung-punggung buku. Dan karena tak yakin betul apakah khayalan Borges tentang surga yang penuh buku itu benar-benar ada, maka saya berusaha menciptakan surga kecil saya sendiri di dunia, dengan bekerja di antara serakan buku-buku.
Saya cuma kadang menyesali hilangnya beberapa kenikmatan lama berkait buku dan/atau membaca buku. Entah karena bertambahnya usia yang membuat kita makin manja, atau karena gajet yang membuat kita semakin mudah terdisrupsi, tapi terutama justru karena pekerjaan saya sebagai pengarang.
Saya mengenang dengan rasa senang saat saya masih dengan mudah mengingat semua buku yang saya punya, juga urutan-urutan penataannya (buku A berada di samping buku B, penulis X terselip di antara beberapa buku dari penulis Y) ketika buku saya masih satu rak kecil saja. Tentu saja semua buku itu terbaca. Saya kangen dengan masa ketika, pada satu waktu, saya memutuskan akan menapis buku-buku dari era Kebangkitan Nasional hingga masa Revolusi Rakyat, yang mencakup dari Shiraishi di Solo hingga Reid di Sumatera Timur—via McVey, Mrazek, Gouda, Goerge dan Audrey Kahin, Kurasawa, Dahm, Frederick, Van Dijk, Cribb, dan Anderson. Dan saya sanggup melakukannya. Saya ingin kembali merasakan suasana ngelangut berhari-hari seperti seusai menyelesaikan Asturias, atau merasakan kebingungan-kebingungan semacam “apa sih ini maksudnya” setelah terengah-engah membaca Kundera, atau terus-terusan menertawakan kekonyolan si Santiago setelah menamatkan Coelho—dan bicara kepada semua orang bahwa Coelho, alih-alih mengilhami kita untuk mengembara menemukan Jiwa Buana, justru mengajarkan saya untuk lebih tekun mengorek-ngorek lantai rumah sendiri.
Membawa pulang buku dari Shopping atau dari Raja Murah Gejayan dan menuliskan “Milik Mahfud Ikhwan” di sampul dalam, menambahkan tandatangan, memberikan tengara (entah mencatat kenapa dan bagaimana buku itu ditemukan atau sekadar menerakan hal apa yang hari itu telah atau sedang saya lakukan atau apa yang sedang saya pikirkan), kemudian membubuhkan tanggal, adalah hal-hal yang sangat membahagiakan untuk orang yang dulu sama sekali tak punya buku. Dari sanalah biasanya saya mengingat buku-buku yang saya punya. Kini, dengan dua atau tiga paket datang tiap hari, sebagiannya tiba ketika saya tidak berada di rumah, saya sudah merasa gembira bisa membuka paket dan memastikan buku yang datang sesuai dengan pesanan, lalu dengan dingin melemparkannya ke tumpukan.
Saya sedih bahwa semakin instens saya menulis, semakin saya jauh dari membaca dengan rasa senang; semakin ingin menghasilkan buku, semakin saya diarahkan untuk membaca buku yang “dibutuhkan” dibanding yang “diinginkan”—sementara yang terus saya tumpuk tentu saja adalah buku-buku yang saya inginkan. Saya sedih bahwa saya bisa membaca Allende dari tengah, atau membaca Arundhati Roy dengan melompat-lompat, dan saya merasa itu baik-baik saja. Saya sedih bahwa setiap mencoba meluangkan waktu untuk membaca Kureishi bacaan saya kemudian tersela, dan hal yang sama berulang lagi ketika mencoba buku Kureishi yang lain, dan begitu terus, sampai saya menemukan ada empat buku Kureishi yang tidak terbaca sampai selesai. Saya tak habis pikir bagaimana dan di mana saya tiba-tiba berhenti membaca memoar Edmund White yang betul-betul menyenangkan itu, lalu dengan entengnya memutuskan membeli lagi memoarnya yang lain.
Saya sedih bahwa saya punya tiga buku Barnes (dan kemudian menambahkan satu lagi) dan tak satu pun saya merasa pernah mencoba membacanya. Saya sedih karena saya yakin bahwa Barnes dan buku-bukunya bukan kasus satu-satunya.
Tapi, bagaimana lagi, sedihnya orang yang semakin sedikit membaca tak sebanding dengan sedihnya orang yang tak punya buku. Ini kesedihan yang tak tertanggungkan. Saya pernah mengalaminya, dan tak ingin lagi mengalaminya. Dan, karena itu, saya lebih memilih bergembira dengan membeli buku Barnes berikutnya, dan berikutnya lagi, meski dibayangi rasa sedih karena mungkin tak akan membacanya.
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025


Adelia
Sangat invformativ
Gusc Hening
menarik untuk dibaca
mahdi
selalu menarik…meski buat runtut “kisah-kisah”-mu itu butuh lebih banyak lembaran tulisan lagi. unfinished dan membuat penasaran buat masuk ke dalam rak-rak bukumu, cak. Tabik.
Rumi Algar
Emang banyak kata puitis nya dan menarik untuk kita baca sesama. Ada beberapa gagasan yang bisa ambil tulisan tersebut..
Sholikin
Sangat menggugah!
Terus bertutur, cak!
Rifaikrom
“…sedihnya orang yang semakin sedikit membaca tidak sebanding dengan sedihnya orang yang tak punya buku.”
Kalimat yang membuat saya betul-betul terhaikimi wkwk
Raist
Teruslah nggremeng Cak!