
Di Ujung Hari yang Tertinggal
Ada yang bersandar pada rutinitas,
seperti angin yang mengecup jendela pagi,
seperti tangan yang mengusap debu tanpa dendam.
Hidup melingkar, diam
yang lebih luas dari kata-kata.
Di celah waktu,
pohon-pohon tak meminta alasan
untuk berdiri.
Setiap daun yang gugur,
adalah kalam yang tak perlu diterjemahkan.
Suara musik tua,
berputar seperti mimpi yang tak pernah selesai.
Ada ruang kecil di antara nada-nada,
tempat perasaan yang tak bernama
berbisik kepada siapa saja yang mendengar.
Malam datang tanpa janji,
seperti cahaya di sela-sela bayang.
Dan di sana,
keheningan menjadi jawaban
atas pertanyaan yang tak pernah dilontarkan.
Rumah Intan, Desember ’24
Angin yang Tak Pulang
Adakah hari menyisakan terang
Untuk yang tak lagi percaya?
Mengeja waktu di celah udara,
Saat angin tak kunjung tiba.
Langit mengulum sepi,
Memeluk hujan yang tertunda.
Setiap tetes, setiap desah,
Adalah janji yang tak disampaikan.
Burung-burung melintas jauh,
Sayapnya membawa senyap
Yang tak lagi mengenal arah,
Berputar di tepi mimpi yang pudar.
Ada bisik yang tersembunyi
Di sela reranting patah,
Suara kecil yang tak berani bertanya
Tentang jalan pulang.
Waktu hanyalah bayang-bayang
Di permukaan sungai yang muram.
Kita menunggu tanpa tahu,
Apakah akhir adalah jawaban,
Ataukah sekadar jeda?
Di kabut yang meruap samar,
Yang tersisa hanyalah kenangan
Tentang nama-nama yang menghilang,
Dan tangan-tangan yang tak pernah bertaut.
Rumah Intan, Januari ’25
Di Pinggiran
Di pinggiran, di saat semua tersisa
Ada cermin yang permukaannya kita ukir
Kesedihan mengembuskan embunnya
Kesedihan milik semua orang
Seperti ketika mereka membangun
bendungan di lembah sunyi
Dan air pun terbendung
Dalamnya cukup untuk tenggelam
Kita bawa jasad berkafan sesal ke pinggir
sungai cinta
Diusung tandu yang dibuat dari pohon
yang tumbang dalam badai
Meninggalkan keranda di belakang
Menanggalkan kutukan, sekarang
Rumah Intan, Juli ’24
Kelok Ke Delapan
Aku api, membara tanpa abu
Menganga dalam jiwa yang kelu
Kau asap, hilang tanpa malu
Menusuk detak yang membeku
Apa lagi, terang mendusta malam
Menelanjangi sepi, berbekas kelam
Sekali surut, sumpah pun tenggelam
Kini luka mengoyak, mimpi menyelam
Duhai benar,
tuntun aku, tuhan yang haus
Di kelok ke delapan, iman meringkus
Bumi terbelah, nyala menggerus
Rumah Intan, Mei ’24
- Puisi Salman Aristo - 4 March 2025


Eka Madyasta
Keren!
aris
Terima kasih.
Amru
Puisinya sangat bagus sekali