Puisi Salman Aristo

 

Di Ujung Hari yang Tertinggal

 

Ada yang bersandar pada rutinitas,

seperti angin yang mengecup jendela pagi,

seperti tangan yang mengusap debu tanpa dendam.

 

Hidup melingkar, diam

yang lebih luas dari kata-kata.

 

Di celah waktu,

pohon-pohon tak meminta alasan

untuk berdiri.

 

Setiap daun yang gugur,

adalah kalam yang tak perlu diterjemahkan.

 

Suara musik tua,

berputar seperti mimpi yang tak pernah selesai.

 

Ada ruang kecil di antara nada-nada,

tempat perasaan yang tak bernama

berbisik kepada siapa saja yang mendengar.

 

Malam datang tanpa janji,

seperti cahaya di sela-sela bayang.

 

Dan di sana,

keheningan menjadi jawaban

atas pertanyaan yang tak pernah dilontarkan.

 

Rumah Intan, Desember ’24

 

 

Angin yang Tak Pulang

 

Adakah hari menyisakan terang

Untuk yang tak lagi percaya?

Mengeja waktu di celah udara,

Saat angin tak kunjung tiba.

 

Langit mengulum sepi,

Memeluk hujan yang tertunda.

Setiap tetes, setiap desah,

Adalah janji yang tak disampaikan.

 

Burung-burung melintas jauh,

Sayapnya membawa senyap

Yang tak lagi mengenal arah,

Berputar di tepi mimpi yang pudar.

 

Ada bisik yang tersembunyi

Di sela reranting patah,

Suara kecil yang tak berani bertanya

Tentang jalan pulang.

 

Waktu hanyalah bayang-bayang

Di permukaan sungai yang muram.

Kita menunggu tanpa tahu,

Apakah akhir adalah jawaban,

Ataukah sekadar jeda?

 

Di kabut yang meruap samar,

Yang tersisa hanyalah kenangan

Tentang nama-nama yang menghilang,

Dan tangan-tangan yang tak pernah bertaut.

 

Rumah Intan, Januari ’25

 

 

Di Pinggiran

 

Di pinggiran, di saat semua tersisa

Ada cermin yang permukaannya kita ukir

Kesedihan mengembuskan embunnya

Kesedihan milik semua orang

 

Seperti ketika mereka membangun

bendungan di lembah sunyi

Dan air pun terbendung

Dalamnya cukup untuk tenggelam

 

Kita bawa jasad berkafan sesal ke pinggir

sungai cinta

Diusung tandu yang dibuat dari pohon

yang tumbang dalam badai

 

Meninggalkan keranda di belakang

Menanggalkan kutukan, sekarang

 

Rumah Intan, Juli ’24

 

 

Kelok Ke Delapan

 

Aku api, membara tanpa abu

Menganga dalam jiwa yang kelu

Kau asap, hilang tanpa malu

Menusuk detak yang membeku

 

Apa lagi, terang mendusta malam

Menelanjangi sepi, berbekas kelam

Sekali surut, sumpah pun tenggelam

Kini luka mengoyak, mimpi menyelam

 

Duhai benar,

tuntun aku, tuhan yang haus

Di kelok ke delapan, iman meringkus

Bumi terbelah, nyala menggerus

 

Rumah Intan, Mei ’24

Salman Aristo
Latest posts by Salman Aristo (see all)

Comments

  1. Eka Madyasta Reply

    Keren!

  2. aris Reply

    Terima kasih.

  3. Amru Reply

    Puisinya sangat bagus sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!