Cermin dari Dunia yang Berlari dalam Chungking Express

Estetika Sinematik Industrial Wong Kar-Wai

Estetika sinematik Wong Kar-Wai tidak diciptakan dalam ruang hampa, tetapi dalam ruang sejarah panjang industri sinema Hongkong. Setidaknya pelacakan estetika dimulai dari popularitas internasional gelombang sinema Hong Kong yang lekat dengan narasi kungfu dan sosok hero seperti Bruce Lee dan Jackie Chen. Sebuah era 1970an yang gandrung dengan estetika wuxia picture yang kental dengan suasana Hong Kong yang modern sebagaimana dituturkan dalam The Cinema of Hongkong: History, Arts, Identity.

Dominasi sinema Hong Kong dipatahkan oleh kehadiran generasi New Wave pada tahun 1979 yang tidak lepas dari gelombang besar perkembangan industrial secara umum. Narasi yang menjadi penanda kehadiran New Wave adalah lekatnya film dengan dengan pertanyaan seputar kriminalitas, kejahatan industrial, hingga identitas anak muda pada responsnya terhadap dunia sosial dan politik. Jika sinema Hong Kong lahir dari kemurnian pendidikan film di Hongkong, maka New Wave adalah hasil didikan industri film Barat. Estetika yang coba ditawarkan berpijak pada realisme kehidupan sehari-hari yang berusaha menggugat estetika fantasistik yang digandrungi oleh generasi sinema Hong Kong.

Wong Kar-Wai mendapatkan popularitasnya sebagai sutradara dengan reputasi internasional melalui As Tears Go By (1988). Sekaligus mendapuk namanya dalam deretan Second New Wave perfilman Hong Kong. Sebuah generasi yang kelahirannya ditandai dengan narasi-narasi seputar nostalgia dan isu-isu kultural dalam konteks masyarakat urban yang menjadi lanskap utama kehidupan Hong Kong. Namun, tetap tidak lepas terlampau jauh dengan generasi New Wave dikarenakan karakter pendidikan Barat tidak luntur, melainkan lebih kentara. Kecenderungan yang tidak lepas dari ditandatanganinya Sino-British Joint Declaration pada 1984 yang memberlakukan otonomi bagi Hong Kong yang berlaku pada tahun 1997.

Estetika yang lekat dengan citra seorang Wong Kar-Wai bukan semata-mata merupakan hasil rekaannya sendiri. Melainkan kolaborasi dengan beberapa sosok penting seperti Christopher Doyle pada estetika visual dan sinematografi, Frankie Chan dan Roel A. García pada komposisi dan scoring musik. Kolaborasi yang membentuk ketebalan citra estetika sinematik deretan film yang dirilis pada tahun 1990an. Sebuah estetika yang lekat pada citra sensual dengan gangguan estetika yang dikonsepkan sebagai aesthetic of disturbance.

Pada buku A Companion to Wong Kar-wai dijelaskan bahwa gagasan estetika yang dibangun Wong Kar-Wai visual dihadirkan sebagai responsnya pada masyarakat urban industrial yang sedang berkembang pesat di Hong Kong. Estetika visual dengan citra-citra sensual untuk meleburkan batasan tegas antara citra yang seolah-olah sedang bermimpi (back-light), tetapi pada kenyataannya tidak sedang bermimpi. Melalui potongan antara kamera dan adegan yang cepat dan tidak menentu, membentuk citra-citra buram pada beberapa adegan, penggambilan rupa wajah sedari yang terhalangi dan tidak sempurna bias gelap terang hingga jarak dekat yang fokus (close-up), smudge motion,  juga tata cahaya yang sangat ekspresif. Hingga pengulangan adegan yang dilakukan beberapa kali untuk menghasilkan struktur narasi yang tidak logis dan tidak tertata secara linear demi mempertebal ingatan dan menghasilkan keterkaitan antar-satu adegan dengan adegan lainnya. Sebuah strategi visual yang menantang posisi penonton agar tidak selalu mudah dalam proses menikmatinya.

Begitu pula estetika warna yang dipilih Wong Kar-Wai menjadi identitas yang pekat bagi gagasannya, sekaligus distingsi yang memikat dari gagasan sutradara lain. Estetika warna yang juga diterapkan sebagai respons bagi Hong Kong yang metropolitan dengan jukstaposisi warna yang tumpah ruah. Wong Kar-Wai memainkan warna-warna yang mencolok dan sangat ekspresif guna menimbulkan kesatuan dengan komposisi musik, menghadirkan ingatan masa lalu dan kesan tentang masyarakat urban, hingga perwujudan enigma yang menciptakan visual yang tak menentu.

Komposisi scoring musik juga menjadi ciri yang identik bagi estetika Wong Kar-Wai, salah satunya pada garapan tahun 1990an. Kecenderungan estetika dengan menggunakan musik yang sudah ada dan tersedia dengan dilakukannya aransemen ulang dengan potongan-potongan yang tidak tegas dan tak menentu, sebagaimana kecenderungan siasat industri ekonomi “pengemasan ulang” yang biasa dilakukan oleh RRC dengan produk-produk dari jenama barat. Kecenderungan scoring dan adaptasi diposisikan sebagai subjektivitas Wong Kar-Wai sebagai sutradara yang mampu menghasilkan hibriditas antara musik populer dari MTV dengan lanskap masyarakat urban Hong Kong. Selain juga estetika pemilihan musik yang diterapkan berdasarkan pengalaman historis aktor untuk mempertebal narasi personal dan menyokong performativitas.

Estetika sinematik yang dibangun sedari akhir 1980an dan menebal pada rentang 1990an menjadikan identitas yang paling dikenal dari Wong Kar-Wai. Puncak estetika sinematik dalam rentang waktu tersebut tertuang dalam film Chungking Express. Sekaligus juga film yang membawanya meraih sorotan publik Barat pada tahun 1994 dan memenangkan beberapa nominasi internasional pada tahun-tahun selanjutanya.

Dunia yang Berlari dalam Chungking Express

Wong Kar-Wai menghadirkan lanskap masyarakat urban industrial secara vulgar dalam Chungking Express. Tidak sekadar narasi tentang proses pengemasan yang berkahir dengan kegagalan usaha penyelundupan narkoba, pembunuhan bersenjata, adegan bercinta, patah hati yang dalam tenggat waktu cepat dapat menemukan sosok pengganti, usaha pelampiasan kesedihan melalui minuman beralkohol di bar dan makanan kedaluwarsa, berbincang pada sabun dan boneka, hingga asumsi bahwa apartemen yang ditinggal seorang kekasih pun turut bersedih dan menangis. Namun, juga secara vulgar menampilkan logo dari jenama internasional secara mencolok mata sebagai penanda dari invansi rezim ekonomi global di Hong Kong. Seluruh elemen dihadirkan secara lekat bersama seluruh kontradiksi yang mengiringinya sebagai realitas kehidupan sehari-hari yang muskil untuk ditolak.

Potongan gambar pertama adalah adegan ketika He Qiwu, polisi dengan kode 223, yang diperankan oleh Takeshi Kaneshiro, sedang berusaha menghubungi mantan kekasihnya setelah menghabiskan puluhan kaleng nanas yang hampir kedaluwarsa pada tanggal 1 Mei 1994 yang sekaligus adalah hari ulang tahunnya. Kontradiksi masyarakat urban dihadirkan melalui jusktaposisi antara jenama internasional Coca Cola yang mencolok merah menyala pada gerai toko yang lekat dengan citra konsumsi masyarakat urban tengah malam dengan keburaman seorang yang tak kunjung mendapatkan respons baik dari mantan kekasihnya melalui dialog penutup: “Never mind. Bye”.

Cuplikan gambar kedua merupakan adegan ketika polisi dengan kode 663, yang dipernakan oleh Tony Leung, sedang menunggu Faye yang berjanji untuk bertemu pada sebuah bar bernama California. Pertama adalah penanda botol beer yang menjadi petanda bagi “rezim kapitalisme global”. Kedua adalah penanda kata-kata I started thingking may the flight was canceled yang menjadi petanda bagi “pupusnya harapan untuk bertemu”. Ketiga adalah penanda seorang laki-laki yang sedang membelakangi kamera dan berpangku tangan sebagai petanda dari “kemurungan”.

Kedua cuplikan gambar di atas adalah dua adegan dari dua kisah berbeda dalam Chungking Express yang senyatanya memiliki keterkaitan baik secara narasi. Wong Kar-Wai secara vulgar menghadirkan kontradiksi masyarakat urban industrial antara rezim ekonomi global yang glamor dan lekat pada hasrat konsumsi yang tak terbatas dengan suasana muram dan patah hati. Berikut kecenderungan estetika sinematik dengan warna mencolok dan visual yang mengganggu sebagai bentuk realisme dari representasi masyarakat urban industrial.

Kontradiksi masyarakat urban dengan rezim ekonomi global yang bergerak cepat juga dihadirkan Wong Kar-Wai melalui ciri khasnya pada smudge motion dan gerak gambar yang memosisikan kamera selayaknya manusia yang sedang lebur dalam narasi di dalamnya (motion picture). Salah satunya ditunjukkan dalam adegan pengejaran yang dilakukan beberapa orang untuk menangkap perempuan berambut pirang sebagai bandar narkoba, yang diperankan Brigitte Lin, setelah menembak mati seorang dari komplotan gangster yang berusaha membunuhnya.

Satu-satunya tanda yang terdapat dalam cuplikan gambar di atas adalah penanda orang-orang yang bergerak membelakangi kamera menjadi petanda dari “realitas kriminal masyarakat urban”. Terlihat posisi kamera sebagaimana tubuh manusia yang turut berlari membuntuti kejaran para komplotan gangster sebagai usaha rasionaliasi dari smudge picture dan motion picture yang dihadirkan Wong Kar-Wai sebagai respons terhadap gerak cepat yang mendasari kehidupan masyarakat urban industrial.

Gerak cepat masyarakat urban industrial Hong Kong juga dihadirkan Wong Kar-Wai dalam adegan yang menjadi proses transisi dari kisah pertama menuju kisah kedua. Yaitu pertemuan antara polisi dengan kode 663 dengan Faye, yang diperankan oleh Faye Wong, sebagai pegawai baru di gerai Chungking Mansions and the Midnight Express. Hanya dalam durasi enam jam, dapat terjadi perubahan signifikan bagi Faye untuk memutuskan jatuh cinta kepada polisi 663 dari semenjak pertama kali bertemu.

Terdapat dua elemen dalam cuplikan gambar yang menjadi bagian dari transisi kisah. Proses pemaknaan pada signifikansi kedua adalah penanda polisi yang membelakangi kamera sebagai petanda “figur yang dimaksudkan” dalam kisah cinta dari Faye selanjutnya. Penanda Six hours laters menjadi petanda dari “kecepatan” jangka waktu untuk menetapkan seseorang yang dicintai.

Chungking Express merepresentasikan estetika sinematik industrial Wong Kar-Wai sebagai sebuah, meminjam Yasraf Amir Piliang, “dunia yang berlari”. Sebuah metafor bagi konsep Paul Virilio tentang dromologi yang dibangun atas dua dasar kecepatan (speed) dan ruang (space). Penetrasi mendasar dari dromologi adalah mampatnya ruang dan waktu akibat dari revolusi dromokratik, sebuah anti-tesis dari revolusi industri. Hong Kong dengan gejolak industrialnya seperti penyeleundupan narkoba, pembunuhan, percintaan, gerai toko tengah malam, kehidupan di bar yang diposisikan sebagai ruang tempat dromologi berlangsung melalui kecepetan perubahan-perubahan yang terjadi secara tidak menentu. Tokoh dengan peran sentralnya masing-masing menjadi representasi dari budaya yang bergerak cepat dengan kecenderungan kontradiksi yang hampir universal. Yaitu kecenderungan kontradiksi antara masyarakat urban industrial yang glamor dengan patah hati yang terus menerus diulang sebagai narasi yang ditawarkan oleh Wong Kar-Wai.

Begitu pula secara visual yang mengandalkan smudge motion, motion picture, juga perpindahan adegan yang terkesan cepat degan kamera berposisi sebagai penglihatan manusia (eye level) sebagai representasi dari kontradiksi masyarakat urban yang ”tersendat” sebagai konsekuensi gerak cepat dan tak menentu. Juga sorotan adegan yang beberapa secara khusus menampilkan sorotan penuh pada waktu dan penanggalan yang saling berkait. Seperti repetisi adegan yang menunjukan waktu 1 Mei 1994 yang secara tajam menarik tiga momentum sekaligus antara kadaluarsanya makanan, hari ulang tahun, dan waktu kegagalan menjelang proses penyelundupan narkoba. Keseluruhan realitas yang hidup dalam kontradiksi masyarakat urban industrial bertaut sangat dekat satu sama lain hanya sejauh, meminjam kalimat dalam Chungking Express, 0,01 cm.

Cerminan dari Dunia yang Berlari

Salah satu estetika visual yang ditawarkan Wong Kar-Wai dalam Chungking Express adalah pengambilan gambar yang tidak langsung menuju tokoh, namun memantulkannya lewat cermin. Pemantulan melalui cermin juga memiliki intensitas yang tidak dapat dibilang sedikit. Karenanya, pengambilan gambar sebagai konsepsi estetika yang mengganggu (aesthetic of disturbance) diposisikan sebagai usaha refleksi dari kontradiksi bagi lanskap masyarakat urban industrial di Hong Kong. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Gary Bettinson dalam The Sensuous Cinema of Wong Kar-wai; Film Poetics and the Aesthetic of Disturbance.

Cuplikan gambar di atas adalah adegan dari percakapan antara Hi Qiwu dengan perempuan berambut pirang sebagai bandar penyelundupan narkoba. Percakapn yang kontradiktif ketika seorang polisi justru tenggelam dalam obrolan dekat dengan seorang perempuan yang baru saja menewaskan beberapa orang dan berbincang di sebuah bar. Pemaknaan figur perempuan dan laki-laki yang terbalik menjadi sebagai petanda dari “kontradiksi” bagi masyarakat urban industrial. Sedang pada elemen kedua penanda kata-kata actually, really knowing someone doesn’t mean anything menjadi petanda dari “kontradiksi” masyarakat urban. Elemen penanda dominasi warna merah sebagai petanda dari “enigma” sebagaimana dikonsepkan Wong Kar-Wai dari gagasan estetika visualnya untuk mempertebal narasi tentang lanskap kota Hong Kong yang semakin bergerak tak menentu.

Selain juga Wong Kar-Wai menghadirkan lanskap industri penyelundupan narkoba di Hong Kong yang mempekerjakan orang-orang India sebagai budak. Pemaknaan penanda figur orang India dalam cermin sebagai petanda dari “budak”. Sedangkan elemen penanda jas biru dongker gelap sebagai petanda dari “usaha penyelundupan narkoba” yang disamarkan melalui indsutri tekstil.

Estetika visual yang merupakan pantulan dari cermin lekat dengan metafor “cermin” yang merupakan penggambaran konsep heterotopia dari Michel Foucault. Sebuah konsep anti-tesis dari utopia yang menginginkan refleksi dalam bentuk masyarakat yang sempurna. Namun, Foucault tidak berusaha untuk menjabarkan konsep heterotopia secara definitif yang ketat, melainkan melalui enam prinsip. Pertama adalah tidak ada bentuk universal melainkan sangat beragam, kedua adalah sifatnya yang bergantung pada konteks ruang, ketiga adalah sifatnya yang berada dalam satu tempat aktual dalam beberapa ruang, keempat adalah sifatnya dapat terbagi ke dalam beberapa ruang, kelima terdapat sistem yang mampu membuka dan menutup ruang-ruang khusus yang tak selalu mudah ditembus, terakhir adalah sifatnya yang berfungsi sebagaimana relasi yang terjadi di dalam ruang kontekstual.

Chungking Express adalah heterotoplogi, sebuah wacana bagi heterotopia untuk beroperasi sesuai ruang kontekstualnya. Realisme Wong Kar-Wai sebagai cermin dari lanskap masyarakat urban industrial Hong Kong membuatnya sebagai ruang nyata yang kontekstual dan berbeda dengan ruang lainnya. Sebagaimana kontradiksi yang dihadirkan tidak dalam satu ruang semata, melainkan ke dalam dua ruang kisah yang masing-masing menghadirkan kelindan narasi antar-satu dengan lainnya. Setiap narasi yang identik bagi setiap ruang yang tak terpisah dari konteks dan praktik sosialnya. Oleh karenanya, Chungking Express adalah cermin bagi masyarakat Asia, terkhusus publik metropolitan Indonesia, dalam kerangka pemahaman pada narasi globalisasi yang begitu kompleks dan menghadirkan kontradiksi yang lesap sampai pada kehidupan sehari-hari.

Hartmantyo Pradigto Utomo

Hartmantyo Pradigto Utomo

Berstatus mahasiswa jurusan Sosiologi FISIPOL UGM. Berdomisili Semarang dan menetap di Yogyakarta untuk menempuh masa pendidikannya.
Hartmantyo Pradigto Utomo

Latest posts by Hartmantyo Pradigto Utomo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.