Greta Gerwig Beri Warna Baru bagi Little Women

Sumber gambar: IMDB.com

 

Ada tantangan tersendiri bagi sutradara ketika akan membuat film yang sudah di-remake berkali-kali. Terlebih jika ceritanya diadaptasi dari novel klasik berusia lebih dari 150 tahun yang dikenal luas masyarakat. Apa hal baru dan berbeda yang ditawarkan? Apa yang membuat versi terbaru lebih baik dari versi sebelumnya? Tantangan itu dijawab oleh sutradara Greta Gerwig melalui film adaptasi terbarunya, Little Women.

Film ini berkisah tentang empat bersaudara keluarga March. Meg (Emma Watson), Jo (Saoirse Ronan), Beth (Eliza Scanlen), dan Amy (Florence Pugh). Mereka tinggal dengan ibunya, Marmee (Laura Dern), seraya menunggu ayah mereka (Bob Odenkirk) pulang dari perang. Keempatnya punya watak, ketertarikan, dan cita-cita yang berbeda. Sering kali mereka bersenang-senang bersama meski tak jarang juga berkelahi. Di tengah-tengah mereka ada Laurie (Timothèe Chalamet), teman sepermainan yang juga tetangga mereka.

 

Sentuhan Khas

Para pembaca novel Little Women karangan Louisa May Alcott tahu betul novel tersebut bercerita secara linear dengan alur maju. Namun, hal itulah yang sama sekali hilang dari adaptasi Greta. Greta menyusun ulang alur ceritanya menjadi maju-mundur. Ia mengaitkan dengan detail beragam kejadian yang terjadi di masa kini dengan kejadian di masa lalu. Susunan alur ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, beberapa orang termasuk mereka yang ada di balik piala Oscar menganggap alur ini susah dimengerti. Padahal, sudah ada pembeda di setiap periode waktu. Alih-alih membingungkan, alur maju-mundur justru membuat Little Women bak fragmen memori yang mengizinkan penonton mengintip setiap kejadian berarti dalam hidup para gadis March.

Meski novel Little Women terinspirasi dari kehidupan penulisnya sendiri, dan Jo March adalah karakter yang mencerminkan Louisa May Alcott, Greta memilih untuk mengambil jarak. Ia tak ingin Little Women yang ia buat terlalu bising dengan suara Louisa, melainkan ada suaranya sendiri. Karena itulah filmnya tak hanya fokus pada cita-cita dan ambisi Jo akan kebebasan perempuan. Ia juga memberi kesempatan pada gadis-gadis March yang lain untuk menceritakan kisahnya. Meg yang kebalikan dari Jo, bercita-cita menikah dan berkeluarga. Beth yang paling mirip dengan Marmee, baik hati, rela menolong, dan tak ingin mengkhawatirkan orang lain. Amy yang ingin menikahi orang kaya, kadang menyebalkan, namun tetap disayangi orang-orang.

Di sinilah Greta dipuji kritikus dan penggemar Little Women. Ia membiarkan karakternya bersuara dan menggambarkan mereka lebih manusiawi. Khususnya karakter Amy, yang dalam novel dan film-film Little Women sebelumnya sering digambarkan sebagai antagonis bagi Jo. Ia membakar tulisan Jo, mendapat kesempatan pergi ke Eropa yang harusnya didapat Jo, dan menikah dengan Laurie yang dulu mencintai Jo.

Amy versi Greta diberi kesempatan berbicara. Ia bukan sekadar anak bungsu yang gemar hal-hal mewah dan manja. Ia hanya realis dan pragmatis, mencari cara bertahan hidup sebagai perempuan terpinggirkan di dunia yang patriarkis. Terpaksa melihat pernikahan sebagai strategi ekonomi karena itulah kesempatannya untuk keluar dari kemiskinan.

Little Women juga membawa kembali tema-tema yang Greta angkat di film debutnya, Lady Bird. Ambisi perempuan, hubungan ibu dan anak, persahabatan antarperempuan, juga frustrasi yang muncul dari hidup serbakekurangan. Semuanya memang dibungkus dalam cerita orisinal Louisa May Alcott, tapi Greta tak luput memberikan sentuhan personalnya.

 

Pandangan soal Pernikahan

Greta menunjukkan berbagai pandangan perempuan tentang pernikahan dalam filmnya. Namun, sudut pandang yang dominan memang sudut pandang Jo. Rasa tidak sukanya pada pernikahan sempat membuatnya kecewa pada Meg yang akan menikah. Meg pun berujar, “Just because my dreams are different than yours, it doesn’t mean they’re unimportant.”

Pandangan Jo soal pernikahan ini diungkapkan dengan jelas ketika ia mengobrol dengan Marmee. Ia mengatakan dengan perasaan tertekan, “Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition, and they’ve got talent, as well as just beauty. I’m so sick of people saying that love is all a woman is fit for.

Pendapat Jo soal pernikahan juga kerap ia cerminkan dalam tulisannya. Sayangnya, perilaku perempuan dalam cerita fiksi pun masih harus diatur. Editor Jo mengatakan takdir tokoh perempuan dalam cerita hanya dua: menikah atau mati. Ia juga meminta Jo mengakhiri novel yang ingin ia terbitkan (berjudul Little Women) dengan pernikahan sang tokoh utama agar terkesan romantis.

Di situlah Greta sedikit terpeleset. Seperti Jo yang mengiyakan tawaran sang editor untuk mengganti akhir cerita novelnya, Greta juga mengakhiri filmnya dengan pernikahan antara Jo dan Friedrich Bhaer (Louis Garrel), profesor yang ia temui di New York. Obrolan Jo dengan Marmee memang berakhir dengan Jo yang mengaku kesepian, namun hubungan antara Jo dan Friedrich tak punya konteks yang cukup untuk membuat penonton mengerti kenapa Jo mencintai Friedrich. Ironis rasanya jika karakter Jo yang suka melawan berakhir menikah semata demi akhir bahagia menurut standar konvensional.

Kekurangan ini sedikit tertutupi lewat cara Greta menjalin cerita Little Women dari proses Jo meniti karier. Setiap pengalaman hidup Jo berkelindan dengan kegemarannya menulis. Hingga di akhir cerita, keberhasilan Jo menerbitkan buku dari pengalaman hidupnya menjadi poin penting. Greta menegaskan kembali kemampuan perempuan dalam meraih cita-citanya.

Jika ada hal lain yang tampak mengganggu, barangkali itu adalah keputusan Greta memilih Florence Pugh yang berusia 24 tahun untuk memerankan si bungsu Amy yang berusia 12 tahun. Usia Florence membuat Amy tampak seperti anak ketiga, sebab Eliza Scanlen yang memerankan Beth berusia lebih muda. Tak heran jika penonton yang tidak familier dengan Little Women salah memahami urutan usia keempat bersaudara. Namun, di luar itu Florence tetap berakting maksimal dan mendapat nominasi Best Supporting Actress dalam perhelatan Oscar 2020.

Aktor dan aktris lain dalam film ini juga bermain dengan apik. Greta memadukan sekelompok talenta muda terbaik Hollywood dengan mereka yang sudah lebih lama terjun di industri, Laura Dern dan Meryl Streep (memerankan Bibi March). Deretan pemain film ini tak kalah hebat dengan Little Women versi Gillian Armstrong pada 1994, yang diisi Winona Ryder, Kirsten Dunst, Claire Danes, dan Christian Bale.

Greta terbukti berhasil memberi warna baru bagi Little Women. Tak hanya soal keluarga dan persahabatan, filmnya juga membawa semangat independensi bagi perempuan. Film yang hangat, jenaka, dan meskipun memiliki kekurangan, sulit rasanya untuk mengatakan tidak menyukai film ini.

Ananda Putri
Latest posts by Ananda Putri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.