Syaikh Muhammad ath-Thusi

pinterest.com

 

Beliau adalah Muhammad bin Manshur ath-Thusi, seorang sufi sekaligus seorang ahli hadits yang sangat mumpuni. Beliau bermukim di Baghdad, Iraq.

Sebagai seorang sufi yang agung, beliau memiliki murid-murid yang masyhur. Di antara mereka adalah Syaikh ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi, Syaikh Abul ‘Abbas Masruq, Syaikh Abu Jafar al-Haddad ash-Shaghir, Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz, dan Syaikh Junaid al-Baghdadi.

Salah satu karomah beliau adalah bahwa pada suatu hari beliau berbincang-bincang dengan banyak orang. Bahan pembicaraan terus mengalir sehingga akhirnya sampai kepada sebuah topik tentang tarekat Malamatiyyah dan para sufi yang berada di dalamnya.

Salah satu di antara mereka kemudian mengajukan sebuah protes: “Kita tidak berhak untuk berbincang tentang kaum Malamatiyyah.” Syaikh Muhammad bin Manshur lalu memberikan tanggapan bahwa ketika orang-orang saleh diperbincangkan, maka rahmat Allah Ta’ala akan turun. Seketika itu juga kemudian hujan turun dengan tidak ada awan sedikit pun di angkasa.

Hal itu menunjukkan bahwa spiritualitas beliau betul-betul tangguh, hatinya senantiasa tersambung dengan Allah Ta’ala, sehingga ungkapannya muncul sebagai doa yang sangat ampuh. Dan seketika itu pula apa yang diucapkannya menjadi kenyataan.

Orang yang seperti itu biasanya telah hilang sebagai dirinya sendiri, ditekan hingga ke titik nadir paling rendah, centang-perenang kefanaan pada dirinya telah bernilai keabadian, hapus seluruh ego kecilnya, lenyap di rimba kemahaan Allah Ta’ala, yang tersisa murni adalah tajalli hadiratNya semata.

Beliau telah mengalami apa yang disebut sebagai as-sukunu ‘inda kulli ‘adamin wa al-badzlu ‘inda kulli wujudin, tenteram hatinya di dalam ketiadaan dan berperan sebagai tangan kemurahan hadiratNya ketika merasakan wujud. Diri yang kecil itu telah dianugerahi kesanggupan untuk menampung kehadiran Allah Ta’ala.

Agar sampai kepada kondisi rohani yang cemerlang seperti itu, setidaknya beliau telah berpegang kepada empat perkara yang sangat kredibel di dalam perjalanan rohani menuju kepada Tuhannya. Pertama, ilmu yang telah membimbingnya dengan hati-hati agar tidak terpeleset dalam menempuh suluk. Dengan kejelian ilmu rohani, beliau sanggup mengusir jauh-jauh berbagai macam penyakit hati yang sering kali menyamar di dalam bentuk hasrat-hasrat kebaikan.

Kedua, dzikir yang menjadikan beliau senantiasa berada dalam benteng ketenteraman. Dengan tersambung kepada Tuhannya, beliau tidak saja mendapatkan sandaran spiritual yang kokoh, tapi juga adanya perlindungan dari segala keinginan kepada apa pun selain hadiratNya.

Ketiga, kehati-hatian yang telah menjadikan beliau tidak saja selamat dari segala yang terlarang dan mungkar, tapi juga terjaga dari segala sesuatu yang sia-sia dan tidak bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Sehingga rohaninya menjadi sedemikian mulus, sedemikian bersih, sedemikian cemerlang.

Keempat, keyakinan yang telah mengantarkan beliau untuk wushul atau sampai kepada Allah Ta’ala. Karunia rohani yang berupa wushul itu telah mengantarkan beliau untuk menyebrangi segala rangkaian kausalitas yang sering kali gaduh dan ribet. Beliau lebih terpukau kepada hadiratNya dibandingkan kepada aneka ragam tajalliNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.