Sihir Mata

pinterest.com

 

PAGI berkabut ketika ibu mertua Ki Broto mengunjungi padepokannya di lereng gunung, seekor celeng jantan tersesat, berlarian mengitari pelataran. Ki Broto belum sempat berbincang-bincang dengan ibu mertuanya yang baru datang dari kota. Ia belum tahu maksud kedatangan ibu mertuanya. Bergegas ia meninggalkan ibu mertuanya di pendapa. Ia memburu celeng jantan bertaring itu.  Bersama dengan beberapa lelaki yang tinggal di padepokan, Ki Broto membawa tombak pusaka, mengusir celeng jantan itu.

Celeng jantan itu terusir dari pelataran padepokan. Datang lagi tamu Ki Broto. Sang  juragan, pemilik beberapa hotel dan tambang pasir di lereng gunung,  memasuki pendapa, diiringi dua orang pengawal berwajah keras. Masih membawa tombak pusaka, napas terengah-engah, Ki Broto menemui sang juragan. Ki Broto sudah menduga, sang juragan bermaksud membeli padepokannya. Sang juragan bertamu dengan dua orang pengawal berambut cepak, yang sengaja dihadirkan untuk memberikan ancaman pada Ki Broto. Tapi Ki Broto tak pernah peduli akan kehadiran dua orang pengawal yang menciptakan ketakutan atau bahkan ancaman. Ia tak tahu kenapa, sang juragan seperti ingin menguasai padepokannya, dan melihatnya bangkrut.

“Bukankah padepokan ini dulu tempat sembunyi ayah mertuamu, preman yang jadi buron penembak misterius?” tanya sang juragan menyingkap masa lalu kehidupan ayah mertua Ki Broto. Memang ayah mertua Ki Broto seorang preman yang melakukan persembunyian dari penembak misterius, tinggal di lereng gunung sunyi bersama anak gadisnya, Laksmita, selama bertahun-tahun. Lahan itu dibeli Ki Broto, sebelum ia menikahi Laksmita. Ayah Laksmita pindah ke kota, dan meninggal. Ki Broto menikahi Laksmita pada saat gadis itu kehilangan ayah dan ibu kandung meninggalkannya sejak ia kecil.

“Untuk apa kaupertahankan padepokan ini?” desak sang juragan. Lelaki setengah baya itu seperti ingin menyudutkan Ki Broto. Dua orang pengawal berambut cepak itu tidak berbicara apa pun. Tapi sepasang mata mereka memancarkan tekanan pada Ki Broto yang menanggapi dengan tenang. Tersenyum-senyum.

“Padepokan ini penuh berkah bagiku, istri, dan anak-anak,” tukas Ki Broto, tak terpengaruh sama sekali dengan desakan sang juragan yang terus-menerus memintanya untuk menjual padepokan. Di pendapa rumah yang beralas karpet, sang juragan masih melancarkan bujukan untuk membeli padepokan Ki Broto. Tak tergambar kemarahan dan kebencian di wajah Ki Broto. Ia tampak tenang.

Tiba waktunya berpamitan, sang juragan tak dapat berdiri dari duduk bersila. Pantatnya seperti lengket dengan karpet. Kedua pengawalnya yang kekar mengangkat tubuh sang juragan. Tapi tak terangkat juga. Ki Broto hanya berdiam diri. Tidak tersenyum. Tidak mengejek. Sang  juragan melihat Ki Broto membawa tombak pusaka, mula-mula satu, dua, empat, delapan, enam belas. Sang juragan menutup matanya, berpamitan pulang.

Dituntun dua orang pengawal, sang juragan masih memejamkan  matanya. Ki Broto mengiringi kepergian mereka sampai pelataran padepokan. Sebelum naik mobil, sang juragan masih sempat mengejek, “Kawasan ini sejak dulu tak pernah aman, selalu menjadi tempat persembunyian celeng.”

                                                             ***

MENYUSUP lagi  seekor celeng jantan memasuki padepokan. Ki Broto mengambil tombak pusaka untuk mengusir celeng jantan agar meninggalkan padepokan. Begitu celeng jantan itu kabur dari padepokan, lima polisi memasuki padepokan dengan mobil bak terbuka. Mereka menunjukkan surat perintah untuk menangkap ibu mertua Ki Broto yang melakukan penipuan-penipuan di kota. Mereka menduga ibu mertua bersembunyi di padepokan. Ki Broto menghadapi lima polisi itu dengan tenang, tegar, dan ramah. Ki Broto berpikir, siapakah yang memberi informasi, hingga polisi menggeledah padepokan pada pagi hari? Sepertinya mereka tak bertindak sendiri.

“Silakan cari ibu mertua di seluruh ruang padepokanku,” kata Ki Broto.

“Boleh kami melacak ke dalam?” tanya seorang polisi.  “Ibu mertuamu sudah melakukan berbagai penipuan di kota. Tak ada tempat bersembunyi baginya, kecuali padepokan ini.”

“Kami terbuka menerima penyelidikan hari ini dan kapan pun kalau diperlukan,” kata Ki Broto. “Istriku akan mengantar ke semua ruang dalam rumah dan padepokanku.”

Laksmita mengantar kelima polisi itu untuk memasuki setiap ruang di rumah dan padepokan. Mereka belum beranjak dari pendapa. Di  pendapa itu berjajar tombak-tombak pusaka. Kelima polisi itu berhenti di depan tombak-tombak pusaka. Dada Ki Broto berdesir.

“Mana tombak yang paling sakti?” tanya salah seorang polisi.

Ki Broto mengambil tombak pusaka yang biasa digunakannya untuk berburu celang. Tombak dalam genggaman Ki Broto itu telah menampakkan ketangguhan lelaki setengah baya berblangkon, pakaian lurik, dan berkain itu dengan sihir mata yang mencengangkan. Kelima polisi itu mundur beberapa langkah. Tapi mereka tak mau menyerah. Mereka meneruskan melakukan  pencarian terhadap ibu mertua Ki Broto. Laksmita yang mengantarkan kelima polisi memasuki tiap ruang rumah dan padepokan. Ki Broto kembali melatih menari.

Langkah kelima polisi itu sangat hati-hati dan tenang memasuki kamar tidur. Begitu pintu kamar dibuka,  mereka terkesiap. Mereka melihat lelaki setengah baya berblangkon berbaju lurik dan berkain dengan menggenggam  tombak pusaka, seperti ingin dihunjamkan ke tubuh mereka. Tergeragap, mereka memasuki kamar berikut, dan terkejut, kembali melihat lelaki setengah baya berlangkon berkain, menggenggam tombak. Tiap ruang mereka periksa, tak ditemukan ibu Laksmita. Mereka selalu menemukan pandangan yang sama: lelaki setengah baya berblangkon berpakaian lurik dan berkain yang menggenggam tombak pusaka. Tombak yang terarah, siap menghunjam menembus tubuh mereka, seolah mereka binatang buruan.

Lelaki setengah baya berblangkon dengan pakaian lurik dan berkain membawa tombak pusaka itu tak berbincang apa pun, sepasang matanya mengancam dan mengusir mereka. Sosok lelaki setengah baya berblangkon dengan pakaian lurik itu serupa sosok Ki Broto yang memendam amarah.

Buru-buru kelima polisi itu meninggalkan padepokan Ki Broto, dengan langkah yang gusar, gentar. Mereka berpamitan pada Ki Broto. Berhenti melatih menari, Ki Broto memandangi para polisi yang meninggalkan pelataran padepokan. Ibu mertua yang diburu para polisi,  segera meninggalkan padepokan dengan taksi. Ki Broto belum sempat mendengar dari ibu mertuanya, mengapa melakukan penipuan-penipuan uang.

                                                               ***

MASIH terlalu pagi ketika seekor celeng jantan tersesat memasuki padepokan. Mengambil tombak pusaka, Ki Broto memburu celeng jantan itu. Beberapa lelaki yang tinggal di padepokan mengikuti perburuan celeng jantan. Pintu gerbang padepokan ditutup. Celeng jantan itu berlari mengitari padepokan, dan tak bisa membebaskan diri. Berkali-kali tombak pusaka Ki Broto mengenai tubuh celeng jantan itu hingga menggelepar, dan barulah para penghuni padepokan beramai-ramai memukulinya. Celeng jantan itu berkelejatan, mati dengan tubuh dirajam luka. Ki Broto memerintahkan pada para penari untuk mengubur celeng jantan itu  di ladang belakang padepokan.

Sang juragan kembali datang. Ki Broto menerima sang juragan dan dua pengawalnya di pendapa padepokan. Sang  juragan mendesak pada Ki Broto untuk menjual padepokan dan lahan dimilikinya. Ia ingin membuat tempat hiburan dan rekreasi di padepokan Ki Broto.

“Apa lagi yang ingin kaupertahankan dari padepokan ini?” tanya sang juragan pada Ki Broto. “Tempat ini menjadi persembunyian ayah mertuamu dulu, seorang preman yang diburu penembak misterius. Di tempat ini juga kau menyembunyikan ibu mertuamu, seorang buron, karena penipuan uang.”

Masih tersenyum, Ki Broto sama sekali tak terusik desakan sang juragan.

“Lagi pula, tempat ini sejak dulu sebagai persembunyian celeng!” lanjut sang juragan. “Sampai sekarang, celeng masih sering tersesat kemari!”

“Kaulah itu celeng yang tersesat di padepokanku,” kata Ki Broto, tergetar, menahan murka. Sang juragan tidak lagi duduk bersila di karpet. Ia merangkak, dengan sepasang mata meradang, bahkan takut, melihat Ki Broto mendekati tombak pusaka, dan mengangkatnya. Tombak pusaka itu biasa digunakan memburu celeng. Diikuti dua pengawalnya, sang juragan merangkak sebagaimana celeng yang diburu, ketakutan, melintasi pelataran padepokan, kembali ke mobil. Ia telah melihat dirinya sendiri sebagai celeng jantan. Tapi siapa pun melihat sang juragan sebagai manusia, yang merangkak-rangkak, menyeruduk sebagaimana perilaku celeng.

Laksmita memasuki pendapa, duduk merapat dengan wajah duka, berbisik, “Ibu baru saja memberi kabar, ia tertangkap polisi.”

“Itu memang takdir baginya.”

***

                                                               Pandana Merdeka, Januari 2020

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

Comments

  1. Yul Reply

    Keren..

  2. Anonymous Reply

    keren… kira-kira maknanya apa yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published.