India dan Pakistan: Duka, Diam, Dendam

“Mere dushman, mere bhai, mere humsaye”

(Musuhku, saudaraku, tetanggaku)

— Javed Akhtar (OST Border, 1997)

Di depan petugas Bandara Internasional Bangaluru berpakaian militer, saya diminta menjelaskan isi koper saya. Ia menunjuk layar monitor yang menampilkan hasil pemindaian isi koper itu. Ada warna merah menyala di sana. Itu adalah 10 eksemplar Dawuk dalam bahasa Inggris yang saya bawa dari Jakarta. “What is this?” tanyanya, tentu dalam nada curiga. “Books,” jawab saya. “What books? Religious books, eh?” Ia mendesak. “No, no, no. Novel. My novel. I am a novelist,” saya menjawab dengan sedikit nada tawa, tawa yang sedikit dibuat-buat, untuk mengesankan bahwa itu pertanyaan konyol. Ia kemudian mengibaskan tangan kiri dan menggoyangkan kepala. Saya boleh pergi.

Tentu saja itu bukan pertanyaan konyol; itu pertanyaan serius. Saya tahu, itu pertanyaan formulaik, yang akan ditanyakan oleh petugas itu kepada siapa pun yang di kopernya ditemukan buku, sebagaimana mereka bertanya “what powder?” kepada rekan seperjalanan saya yang membawa bedak Cusson di tas punggungnya. Tapi saya tahu terlalu banyak tentang negeri ini, membaca terlalu banyak berita dan buku tentangnya, dan terutama menonton terlalu banyak film-film yang mereka buat. Ini adalah negeri yang, setidaknya dalam 10 tahun ini, tidak terlalu nyaman untuk orang-orang bernama depan Ahmed atau Muhammad atau dengan nama keluarga Khan. Dan tentu saja, dengan nama yang sepenuhnya Arab macam Mahfud Ikhwan, ini tak terlalu menguntungkan.

Dan Anda bisa menjadi lebih khawatir lagi ketika lebih dari dua orang bilang “You look like an Indian, Sir” kepada Anda. Karena jika Anda seperti orang India, tapi bukan orang India, sementara tidak banyak bangsa di dunia ini yang seperti orang India kecuali dua atau tiga saja, maka Anda bisa saja diidentifikasi dengan sesuatu yang paling tidak Anda kehendaki. 

Saya memikirkan kembali pengalaman personal ini ketika menemukan video pendek Muhammad Kaif yang viral dua pekan belakangan. Berlatar belakang kontak senjata India-Pakistan yang terjadi selama empat hari antara 07-10 Mei 2025, seorang remaja India ditanya oleh reporter dengan pertanyaan menjebak soal apa pendapatnya tentang Pakistan. Ketika jawabannya dianggap mendukung Pakistan, anak remaja itu dikecam dan coba dipermalukan. Yang lebih jauh, ia juga ditanya siapa namanya dan dari mana asalnya. Karena pertanyaan itulah kita bisa mengenalinya sebagai Muhammad Kaif dari Bihar.

Kebanyakan orang menanggapi video itu dengan sikap salut dan tepuk tangan. Muhammad Kaif, mengingat wajahnya yang masih sangat muda, terlihat cerdas dengan jawaban-jawabannya. Baginya, mendukung India tidak harus dengan memusuhi Pakistan. “Ada Hindu di sana, ada Muslim di sini. Semua sama-sama manusia. Jadi kenapa saling bunuh? Semua berhak hidup!” gugatnya. Dan ia tampak menang telak ketika wartawan itu mendesaknya untuk mengaku siapa yang mengajarinya bicara demikian. “Aku punya otak, tahu!” tegasnya.

Saya, sebaliknya, sedikit merasa khawatir—sebagaimana juga beberapa orang lain. Menurut saya ia terlalu berani. Terutama, karena, ia melakukan itu di dunia nyata, di India yang nyata. Ia tidak sedang dalam sebuah di film; tak ada skrip yang ia baca dan karakter yang ia mainkan. Tak ada interval dan kisah hebat yang menungu diselesaikan di ujung cerita. Tak ada kisah penyelamatan dramatis jika terjadi apa-apa dengannya.  

Dan, ya, karena ia bukan Sunny Deol.

***

Video pendek Muhammad Kaif tak hanya membuat saya memikirkan pengalaman sendiri, tapi juga mengingat adegan yang sangat mirip dari Gadar (2001). Di film itu, posisi Kaif diisi Sunny Deol, aktor yang dikenal karena persona macho, otot kekar, dan raungan amarahnya—semua hal yang berkebalikan dengan sosok Kaif. Bedanya, adegan dan pertanyaannya sepenuhnya berkebalikan. Tapi yang paling berbeda, Sunny Deol memerankan sebuah karakter dan membaca naskah. Ia menjadi seseorang yang tak pernah ada.

Sementara Kaif dites loyalitasnya terhadap India dengan diminta bicara buruk tentang Pakistan, di Gadar, Tara Singh, tokoh yang diperankan Sunny Deol, diuji loyalitasnya kepada Pakistan dengan dituntut untuk menjelekkan India. Tentu saja apa yang dihadapi Tara Singh lebih dramatis. Jika Kaif menghadapi cecaran seorang wartawan dengan dikelilingi kawan-kawannya, dan karena itu dalam beberapa kesempatan ia terlihat cengengesan, Tara Singh nyaris sendirian menghadapi pertanyaan Sharaf Ali, walikota Lahore sekaligus mertuanya sendiri, sementara di sekelilingnya tentara bersenjata dan kerumunan rakyat Pakistan yang marah siap kapan pun melumatnya. Dengan jawaban yang sangat mirip jawaban Kaif, Tara Singh menolak tegas ketika Sharaf Ali, dimainkan dengan penuh aura jahat oleh Amrish Puri (aktor spesialis antagonis yang di Indonesia dikenal sebagai Tuan Thakur), memintanya meneriakkan “India murdabad!” (Matilah India!). Tara Singh bahkan menantang dengan meneriakkan “India zindabad!” (Hidup India!) berkali-kali dan dalam suara yang jauh lebih keras. Lengannya yang besar teracung berulang-ulang.

Dan persis di adegan selanjutnya kita bisa membedakan di mana Muhammad Kaif dan Tara Singh berada. Dengan sebuah pompa air tua yang berhasil dicabutnya, Tara Singh menghalau ratusan orang yang menyerbunya, dan membawa pergi anak-istrinya. Di perjalanan menuju perbatasan Pakistan-India, di atas kereta api yang berjalan, ia sendirian membabat sekompi tentara Pakistan, menembak jatuh dua helikopter, dan bahkan berhasil melukai Sharaf Ali yang terus memburunya.

Tara Singh, lewat sosok Sunny Deol yang memerankannya, bisa mengatasi halangan paling tidak mungkin sekalipun. Tapi bagaimana dengan Muhammad Kaif?

***

Kisah Tara Singh konon diadaptasi secara longgar dari kisah nyata cinta beda agama antara Boota Singh dan Zainab yang berakhir tragis. Boota Singh, seorang Sikh yang juga veteran tentara Inggris, jatuh cinta kepada Zainab, gadis muslim yang diselematkannya dalam kerusuhan ketika terjadi Partisi. Keduanya lalu menikah. Zainab kemudian dideportasi oleh pemerintah India ke Pakistan. Ingin menjemput istrinya pulang, Boota Singh masuk secara ilegal ke Pakistan. Namun, karena tekanan keluarganya, Zainab memutuskan untuk berpisah dari Boota Singh. Dalam keadaan hati patah, Boota Singh melemparkan dirinya ke kereta api yang sedang berjalan.

Berbeda dengan kisah nyata Boota Singh yang tragis, kisah fiksi Tara Singh berakhir gilang-gemilang: ia berhasil membawa pulang anak dan istrinya kembali ke India. Dan meski punya anak judul “Ek Prem Katha” (Sebuah Kisah Cinta), Gadar tak pernah sekadar sebuah kisah cinta. Gadar adalah tentang seorang India budiman melawan satu negara penuh orang jahat bernama Pakistan. Dan karena itulah Gadar menjadi salah satu film Bollywood paling laris di awal milenium. 

Juga, salah satu film paling penting. Dalam bukunya yang seminal, Mourning the Nation: Indian Cinema in the Wake of Partition (2009), Bashkar Sarkar menunjuk Gadar sebagai salah satu penanda babak baru bagaimana sinema India, khususnya Bollywood, merespon dan memanifestasikan trauma mereka atas Partisi. Selain Gadar, film semasa yang menunjukkan ekspresi serupa adalah trilogi perang karya sutradara J.P. Dutta, yaitu Border (1997), Refugee (2000), dan LOC: Kargil (2004).

Bersama beberapa film lain (sebut saja Earth [1998], Train to Pakistan [1998], Hey Ram [2000], Pinjar [2003], dll.), film-film di atas dibuat untuk memperingati 50 Tahun Kemerdekaan India (15 Agustus 1947) sekaligus juga mengenang 50 Tahun Partisi (partition). Partisi terjadi ketika British India yang telah merdeka dibelah seperti kue menjadi dua negara (India dan Pakistan) dan menyebabkan sekitar satu juta orang meninggal akibat konflik horisontal dan 20 juta lainnya menjadi pengungsi. Ini membuat Kemerdekaan sekaligus Partisi mencipta duka dan trauma bersama.  

Duka akibat Partisi tidak hanya tecermin dari bagaimana sekarang bekas jajahan Inggris di Anak Benua Asia itu terbentuk di peta, tapi juga bagaimana mereka berhubungan satu sama lain. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana duka tersebut diekspresikan secara kultural. Sebab, seperti digambarkan buku Sarkar, ekspresi kultural itu dapat menjadi jendela untuk menengok bagaimana duka itu menemukan bentuknya.

Berbeda dengan para penulis yang dengan segera menunjukkan sikapnya atas Partisi, sebagian penuh ratapan (puisi Faiz Ahmad Faiz, “Subh-e-Azadi” [1947]), atau parodi getir (cerpen-cerpen Saadat Hasan Manto, “Tandha Gosh” [1950] dan “Toba Tek Singh” [1955]), atau gambaran-gambaran realistis mengerikan (novel Amrita Pritam, Pinjar [1950] dan novel Kushwant Singh, Train to Pakistan [1956]), para filmaker India butuh waktu lebih panjang untuk meresponnya. Menurut Sarkar, hal ini dikarenakan, secara visual, luka itu masih terlalu segar untuk digambarkan.

Hingga satu dekade sejak Partisi terjadi, sinema India hanya menggambarkan trauma itu secara alegoris. Biasanya mengambil bentuk dua pilihan dilematis (lelaki yang meninggalkan kekasihnya untuk menikahi perempuan yang dinodainya [Amar, 1954]; ibu yang membunuh salah satu anaknya [Mother India, 1957]), dendam (Nastik [1954]), atau kesebatangkaraan (Awara [1951] dan Dhool Ka Phool [1959]). Jika Partisi perlu disebut, ia biasa digambarkan dalam kilasan yang jauh atau samar-samar, seperti di Nastik, Aag (1949), dan Chhalia (1960).

Meski Nastik dianggap sebagai film India yang lebih awal menyinggung soal Partisi, Dharmputra (1961) adalah film yang dianggap paling signifikan menggambarkan Partisi secara lebih riil. Dharmputra berkisah tentang Dilip, anak di luar nikah seorang perempuan muslim yang dibesarkan oleh keluarga Hindu, yang kemudian tumbuh menjadi seorang Hindu fanatik, dan ketika Partisi terjadi ia hampir membakar hidup-hidup ibu kandungnya sendiri. Dharmputra diproduseri B.R. Chopra dan disutradari Yash Chopra, dua kakak beradik yang mengalami sendiri tragedi Partisi. Dibuat 15 tahun dari sejak terjadinya Partisi, dan mengusung cita-cita sekular Nehruvian, Dharmputra dipuji oleh kalangan film dan diganjar banyak penghargaan. Namun, oleh publik India film ini dianggap membuka luka yang belum lagi sembuh, dan gagal total di pasar. Ini yang membuat film tentang Partisi tak dibuat lagi hingga bertahun-tahun kemudian. Sementara Yash Chopra yang kapok membuat film politik kelak lebih dikenal karena film-film romantisnya.

Lebih dari sedekade kemudian, sebuah film nyeni berjudul Garam Hawa (1973) kembali mengangkat Partisi sebagai jantung ceritanya. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga kelas menengah muslim di Agra menghadapi kekacauan saat terjadinya Partisi dan kemudian mengalami ketersingkiran secara spasial maupun kapital. Dibiayai oleh negara, didukung penuh oleh Perdana Menteri Indira Gandhi, Garam Hawa dikerjakan oleh sekelompok seniman-intelektual yang terhubung dengan gerakan progresif seperti Indian People Theater Association (IPTA) dan Progressive Writers’ Association. M.S. Sathyu (sutradara), Ismat Chughtai (penulis cerita), Kaifi Azmi dan Shama Zaidi (penulis naskah), Balraj Sahni dan A.K. Hangal (aktor) adalah para Marxist yang teguh. Garam Hawa di satu sisi dianggap menjadi penanda kebangkitan “New Indian Cinema” (yang nanti lebih dikenal sebagai Parallel Cinema), namun film ini juga menjadi pemantik awal sentimen negatif komunitas Hindu India terhadap film bertema Partisi. Seperti ditulis Sarkar, dari perspektif penganut Hindu, film-film yang menganjurkan sekularisme seperti Garam Hawa dianggap hanya memanjakan kalangan minoritas, dan pada saat yang sama mengorbankan mayoritas. Ia dianggap “pro-Muslim” dan “anti-India”.

Arus balik terjadi ketika Politik Emergensi (1975-1977) yang represif dipungkasi dengan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Indira Gandhi oleh pengawalnya sendiri. Sarkar mencatat, kondisi ekonomi yang stagnan, kemiskinan yang diselamurkan, separatisnya yang meluas, dan terutama merajalelanya nepotisme di tubuh Partai Kongres sendiri, nyaris sepenuhnya mengakhiri cita-cita India sekuler ala Nehru. Diiringi merangseknya globalisasi, masuknya modal multinasional ke India yang kini sepenuhnya terbuka, di antaranya berkait informasi dan hiburan, yang memaksa terjadinya desentralisasi informasi yang sebelumnya sepenuhnya dikuasai oleh negara, kaum nasionalis Hindu berkonsolidasi dan mulai naik ke permukaan. Ketika pada 1992 kerumunan Hindu fanatik merobohkan Masjid Babri di Ayodya (kota yang terletak di negara bagian yang sama dengan Agra, di mana film Garam Hawa berlatar) dan mengklaim bahwa masjid itu didirikan di atas reruntuhan Kuil Rama, India tak lagi sama. Pada 1996, Atal Bihari Vajpayee menjadi Perdana Menteri India pertama dari non-Kongres. Vajpayee berasal dari Partai Bharatiya Janata (BJP), partai yang secara aktif mendukung dirobohkannya Masjid Babri.

Inilah preteks lahirnya film bertema Partisi semacam Gadar.

***

Pada dasarnya Gadar masih menyisakan nilai-nilai sekular ala Nehru. Tara Singh, demi keselamatan istri dan anaknya, menuruti permintaan Ashraf Ali untuk masuk Islam, sebelum ia menolak keras ketika mertuanya menuntut terlalu jauh dengan memintanya untuk menjelekkan India. Gambaran yang sama juga terlihat dalam Border, film yang menggambarkan Perang India-Pakistan 1971, yang juga dibintangi Sunny Deol. Di antara mayat-mayat bergelimpangan, baik dari pihak India maupun Pakistan, karakter Mayor Kuldip Singh yang diperankan Sunny berurai air mata, sementara musik sendu dengan lirik penuh penyesalan mengiringinya. Mantra sekuler khas Nehruvian “Tu Hindu banega na Musalman banega / Insaan ki aulaad hai, insaan banega” (Kamu tak akan menjadi Hindu, tak juga akan menjadi Muslim; Kamu anak manusia, maka jadilah manusia) yang ditulis penyair-lirisis Sahir Ludhianvi untuk film Dhool Ka Phool (1959) masih tergambar di film-film tersebut: bahwa kemanusiaan di atas agama dan bangsa.

Yang sepenuhnya berbeda adalah bagaimana kini film India (dan orang India) memandang perbatasan India-Pakistan, di mana luka dan trauma Partisi digoreskan. Jika sebelumnya itu selalu tentang “kami” (yang terpisah, yang pecah, yang sama-sama bersalah, yang sama-sama terluka, dan sama-sama berduka) kini tidak lain kecuali tentang “kita” dan “mereka”. Pakistan, sebelum sebagai saudara dan tetangga, pertama-tama adalah musuh, demikian yang tergambar dari lirik yang ditulis penyair-lirisis Javed Akhtar untuk film Border. Dari duka ke diam, kini yang terasa adalah dendam. Dan karena nyaris tak ada yang berbeda antara orang India dan Pakistan, maka satu-satunya penanda yang membedakan adalah nama. Karena itu, wartawan itu merasa perlu bertanya soal nama kepada Muhammad Kaif.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Comments

  1. Nabila Salsabila Reply

    Ini bagus sekali menyentuh

  2. Fadel Reply

    Adanya kesenjangan yang terjadi kepada india dan juga pakistan dan juga permasalahan yang dapat memicu perubahan global secara tidak langsung,

  3. Tio Reply

    Ceritanya sangat bagus sekali

  4. Galih Santoso Reply

    Ketika melihat berita tentang keberanian Muhammad Kaif saya seketika teringat Bhajrangi Bhaijaan yang dibintangi oleh Salman Khan. Film yang menguras emosi saya ketika masih remaja sekaligus memahami konflik dan sentimen di antara dua negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!