Jawa, ’65, dan Pengulangan-pengulangannya (1)

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca sebuah novel yang terbit 2007 yang dibuka dengan adegan hilangnya seorang penyair dan demonstran bernama Tuwuh? Yang langsung saya pikirkan adalah cerita yang mirip atau terkait atau dikait-kaitkan dengan hilangnya penyair dan aktivis Wiji Thukul; sebuah prosa berlatar Reformasi ’98, yang 10 tahun lebih awal dari film Istirahatlah Kata-kata (2017), dan semoga lebih baik. Sayangnya, Tuwuh hanya ada di prolog dan, nanti, disebut satu-dua kali di epilog. Novel ini ternyata bercerita tentang Tumi, ibunya Tuwuh, seorang sinden desa yang cantik dan lugu yang mesti menghadapi kecamuk politik dan budaya di seputaran Tragedi ’65 yang membingungkannya.

Anda pernah mendengar kisah semacam itu?

Ya, dari bayangan tentang sebuah novel berlatar Reformasi yang jauh mendahului Laut Bercerita-nya Leila Chudori dan lebih terus-terang dibanding Saman-nya Ayu Utami, Sinden (2007) dari Purwadmadi Admadipurwa hampir terasa seperti adukan tak sempurna dari campuran Sri Sumarah-Bawuk-nya Kayam dan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Tohari, yang disajikan sangat terlambat. Bukan saja novel ini seharusnya terbit 25 tahun lebih awal, tapi karena ia juga tak memperlihatkan tatapan historis dan ideologis yang berbeda dengan para pendahulunya, jika bukannya malah berkali-kali lipat menguatkannya.

Itu simpulan yang membuat saya hampir mutung. Tapi saya toh menamatkannya—dan memutuskan menuliskan pembacaan saya di kolom ini. Prosa ala para pengarang ‘80an (mungkin lebih tepatnya ‘90an awal) selalu membawa perasaan nostalgis untuk saya (karena, saya pikir, itulah jenis prosa paling awal yang saya kenali dari khazanah sastra Indonesia, dan menarik saya untuk memasuki dunia kepengarangan), dan novel Purwadmadi ini membawa nostalgia itu. Gambaran yang dekat, juga detail (yang kadang membuatnya sedikit membosankan), tentang seni tradisional Jawa (Tengah-an) di novel ini (gamelan, karawitan, wayang, dan terutama ketoprak) tidak hanya tampil sebagai tempelan, tapi juga menjiwainya, bagi saya bukan hanya poin bagus, tapi juga membuatnya punya keunggulan tersendiri dibanding gambaran dunia ronggeng dan seni calung Banyumasan ala Tohari yang terasa berjarak dan menghakimi. Saya juga bersabar dengan novel ini karena ia mencoba menggambarkan hari-hari menjelang tragedi ’65 sebagai sebuah thriller politik tingkat desa yang (mencoba) rumit, sebuah pilihan teknik naratif yang jarang diambil kebanyakan novelis kita ketika bicara ’65. Bahwa kesabaran itu tak cukup terbayar akibat akhir thriller yang agak terlalu mudah ditebak tentu itu risiko yang harus saya tanggung.

Barangkali yang lebih mengecewakan adalah apa yang membuat novel yang secara teknik baik ini mudah ditebak; tak lain karena tak bergesernya tatapan politik dan sejarah penulisnya dari para pendahulunya. Novel yang terbit 10 tahun setelah Reformasi ini melihat ’65 dengan cara yang tak berbeda dibanding novel-novel yang telah terbit 25 atau 30 tahun lebih awal, termasuk di dalamnya mengulang klise-klise dan stereotipe-stereotipenya: bahwa orang-orang Komunis pasti licik dan gila kekuasaan; bahwa orang-orang yang dipengaruhinya adalah orang-orang polos yang tertipu dan mereka mesti membayar kebodohan itu dengan menjadi pesakitan atau bahkan hilang entah ke mana; bahwa yang patut diratapi adalah mereka yang tak tahu apa-apa dan menjadi korban; bahwa posisi ideal seorang seniman seharusnya tidak berpolitik.

Jadi, apakah “novel ini layak Anda baca”, seperti diklaim oleh tulisan di sampul belakangnya? Saya pikir, toh saya sudah membacanya, dan saya ingin menuliskan hasil pembacaan tersebut. Tentu, agar orang yang mungkin tak pernah mendengar soal novel ini menjadi tahu bahwa novel ini ada dan mungkin tertarik untuk lebih jauh tahu. Atau, membuat orang yang pernah membacanya mengingat lagi bacaannya dan membandingkannya dengan hasil pembacaan saya.

***

Terbiasa menyusuri lapak-lapak buku di Shoping atau di toko-toko buku obralan atau di stan-stan pameran, saya merasa mengakrabi buku-buku yang bahkan tak pernah saya sentuh—apalagi membacanya. Saya, misalnya, bisa mengenali novel-novel N. Marewo atau Fauz Noor hanya dari warna punggungnya. Saya juga, setiap masuk ke Social Agency atau kios-kios cabangnya di Shoping, akan tahu beda antara buku-buku Gadamer, Kymlicka, atau Popper hanya dari corak warna sampulnya saja. Tapi, saya sedikit terkejut ketika menemukan Sinden belum lama ini di sebuah toko buku lawasan tak jauh dari rumah. Bukan semata karena merasa tak pernah melihatnya sebelumnya, tapi juga karena ia seperti keluar dari jenis dan kawanannya.

Navila adalah penerbit Jogja yang muncul awal 2000an dengan branding yang langsung menancap sangat kuat: sastra Timur. (Ada banyak penerbit baik di Jogja maupun di luar Jogja yang menerbitkan karya-karya sastra Timur, tapi tak ada yang sejenama Navila.) Mencakup Persia dan Asia Selatan, tapi sastra Arab, khususnya dari para penulis Mesir, adalah jualan utama mereka. Mereka identik dengan nama-nama seperti Naguib Mahfouz, Najib Kaelani, Taufiq El-Hakim, Mustafa Luthfi Al-Manfaluti, hingga Jurji Zaidan, selain tentu saja Kahlil Gibran. Dari penerbit ini juga terbit karya-karya klasik dari khazanah sastra Timur semacam Layla Majnun, Gulistan, Hayy ibn Yaqdzan, Kalilah dan Dimnah, dan masih banyak lagi. Dan terbitan dengan diferensiasi yang khas seperti ini membuat perwajahan mereka menjadi berbeda. Dalam cara yang mudah, kita bisa bilang, buku-buku mereka seperti “ada Arab-Arab-nya”.

Maka, menemukan sebuah novel Indonesia berjudul “lokal” dengan gambar sampul yang diolah dari lukisan kaca karya Sulasno, yang khas dengan corak wayang Jawanya, adalah semua hal yang bukan Navila. Mungkin bukan Bentang (Budaya), penerbit yang banyak memakai karya Sulasno untuk sampulnya, tapi ia bisa jadi Pustaka Pelajar atau Jendela atau Galang Press, atau lainnya. Tapi, tentu saja, logo penerbit tak akan tertukar.

Barangkali saya sedikit melupakan bahwa Navila memberi semacam pengecualian khusus bagi novel-novel dari beberapa pengarang Jogja. Saya ingat, beberapa novel Achmad Munif dan Arwan Tuti Arta diterbitkan Navila. Saya rasa dalam kelompok inilah sepertinya Purwadmadi Admadipurwa dan novelnya yang tampilannya sedikit menyimpang itu masuk.

Nama Purwadmadi sendiri terasa sayup. Saya seperti pernah dengar, tapi tak tahu yang mana dan apa karya/bukunya. Ya, saya kurang bergaul dengan para penulis (di) Jogja, itu jelas, apalagi yang lebih tua; saya hanya mengenali mereka dari buku-buku yang terpajang di toko atau di perpustakaan atau di lapak-lapak obralan, itu pun sebagian besarnya tidak saya baca. Ketika membuka plastik segelnya, kemudian mengecek riwayat pengarang di halaman belakang, saya menemukan riwayat singkat yang cukup panjang, dua halaman. Saya yakin saya melewatkan seseorang yang punya kiprah besar dan profil mentereng dalam dunia kepengarangan Jogja.

Beruntung riwayat singkat yang panjang itu menyebut Guru Tarno (1994). Purwadmadi adalah orang yang menulis cerpen yang menjadi tajuk dari buku kedua kumpulan cerpen terbaik Bernas tersebut. Itu sedikit menyelamatkan. Akhirnya ada koneksi kecil yang menghubungkan kami. Saya, setidaknya, merasa hanya lupa, bukannya sama sekali tak tahu.

Meski demikian, buku ini saya putuskan untuk saya beli ketika saya membuka bagian prolognya. “Seorang penyair telah hilang,” buka Purwadmadi. Cukup menarik—meski ia segera diikuti oleh kalimat semacam “Semenjak itu, Desa Sumberwungu mendadak amat terkenal, jadi berita di mana-mana, termuat di koran, masuk siaran radio, televisi…” dst, yang terasa sangat ‘90an sekaligus sangat sastra koran. Tepat di kalimat terakhir paragraf pembuka itulah saya menemukan nama Tuwuh. Tuwuh berarti “tumbuh”, demikian juga thukul.

Apakah saya melewatkan sebuah bacaan penting, sebuah novel tentang Reformasi berseting Jogja? Mengapa seseorang tidak pernah mengatakan bahwa ada novel tentang atau terkait atau menyerempet-nyerempet soal Thukul sebelumnya? Kira-kira bagaimana UGM digambarkan? Adakah tokoh yang menyerupai Amin Rais, dan bagaimana ia ditampilkan? Apakah Anggi Noen tahu novel ini ada? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebatan di kepala saya ketika bertanya soal harga dan kemudian memutuskan membelinya—dan segera membacanya.

Ternyata Tuwuh hanya sebuah pancingan. Tak ada Thukul di sana—bukan karena lenyap, tapi memang tak pernah muncul. Tak juga Reformasi ’98. Juga, bisa dikata, tak ada Jogja, selain sekadar disebut beberapa kali saja. 

Ini adalah novel tentang ’65. Dan sebagian besar isinya adalah pengulangan-pengulangan saja.

*Bagian pertama dari dua tulisan.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!