
Orang kerap memanggil saya “Mbak Itu Lagi”, meski nama saya Nadira. Mungkin karena saya sering terlihat berbicara sendiri di tempat umum seperti halte, lift, bahkan di depan mesin ATM, padahal tidak ada saldo yang bisa saya ambil.
Saya bukan orang gila. Saya hanya terbiasa berdialog dengan isi kepala sendiri, sementara orang lain lebih sibuk menyimak sambil scrolling TikTok tanpa benar-benar mendengar. Kepala saya bukan sekadar ruang sempit berisi otak, melainkan kombinasi antara pasar malam dan ruang kuliah filsafat. Kadang ada suara ibu yang menyuruh saya mandi, kadang suara Nietzsche bertanya mengapa hidup terasa begitu absurd, dan kadang ada suara ayam. Bukan ayam biasa, melainkan ayam filsuf. Ia sering menyeletuk dengan nada mengejek, “Kok kamu masih di situ-situ saja, Nad?”
Suatu hari saya berbincang dengan bayangan saya sendiri yang menempel di tembok kamar. Saya bertanya, “Kamu sadar tidak, kita ini seperti tokoh figuran di hidup kita sendiri?” Bayangan saya menjawab, “Sadar. Dan kadang, dialog utama dalam hidup kita justru disensor oleh sistem kepercayaan.” Saya tertawa, persis seperti orang yang keracunan soda basi.
Pernah saya mencoba berhenti berbicara kepada diri sendiri. Seharian penuh saya memilih diam, hanya mengangguk kepada orang-orang dan mengeluarkan suara standar karakter figuran dalam sebuah gim, seperti hmm, oh, atau hehehe.
Tapi rupanya, diam bukan solusi. Isi kepala saya meledak dalam bentuk mimpi. Malam itu, saya menjelma seekor kecoak yang sedang menjalani sidang skripsi. Di hadapan saya berdiri tiga penguji: mantan pacar saya, seekor paus yang mengenakan jas, dan bayangan Tuhan yang tampak tenang, tetapi tegas. Judul skripsinya: “Mengapa Saya Masih Tidak Bahagia Padahal Sudah Tersenyum di Instagram.”
Saya terbangun dengan keringat dingin disertai rasa bersalah kepada diri sendiri. Mengapa hidup saya terasa seperti visualisasi dari lirik lagu indie yang tidak pernah tuntas?
Siang itu, saya pergi ke minimarket dengan niat awal membeli sabun. Tapi seperti biasa, niat itu menguap di lorong belanja. Saya malah keluar membawa sepotong roti dan dua kopi saset yang bahkan tidak begitu saya butuhkan.
Di depan minimarket, saya berdiri diam, menatap kosong ke jalan. Tanpa sadar, saya kembali berbicara sendiri, kali ini dalam bisikan yang seolah ditujukan ke aspal. “Kalau hari ini saya hilang, siapa, ya, yang akan pertama kali sadar?”
Tiba-tiba seorang bapak yang duduk di bangku dekat parkiran menoleh dan menjawab, “Kalau kamu hilang, paling cuma botol sampah itu yang akan rindu. Karena hanya dia yang tiap hari kamu temui untuk buang puing-puing kehidupan.”
Saya terdiam. Dalam sepersekian detik, saya mencoba memastikan, apakah bapak itu nyata atau hanya ilusi, manifestasi trauma masa kecil saya yang belum sempat dibereskan. Tapi saya terlalu lelah untuk menganalisis. Jadi saya hanya mengangguk, lalu melangkah pergi, seperti tokoh utama dalam film yang kelelahan memahami isi naskahnya sendiri.
Saat pulang ke kos sore itu, saya menemukan sebuah boneka kecil tergeletak di bawah meja. Boneka itu dulu pernah saya mainkan sewaktu kecil. Entah bagaimana ia bisa muncul lagi di momen seperti ini. Saya mengambilnya, membersihkannya sedikit, lalu memperhatikannya dalam diam.
Tiba-tiba, boneka itu bersuara. Suaranya terdengar dalam kepala saya, pelan tapi jelas. “Kamu harus berhenti jadi protagonis cerita sedih, Nad. Coba sesekali jadi sound effect. Mungkin lebih ringan bebannya.”
Saya tersenyum kecut, lalu membawanya ke kasur. Saya memberinya nama Keke, singkatan dari Ketidakjelasan Kepribadian. Malam itu, kami bermain bukan tebak gambar seperti anak kecil biasanya, tetapi tebak luka.
“Ini luka yang mana?” tanya Keke sambil menunjuk ke dada saya.
“Yang waktu ditinggal pacar?” Saya menebak, mencoba tenang.
“Bukan,” jawabnya datar. “Ini luka yang kamu ciptakan sendiri. Kamu terlalu banyak berpikir, berharap orang lain paham, padahal kamu sendiri tidak pernah bilang.”
Saya terdiam. Kali ini, Keke menang.
Malamnya, saya bermimpi tentang masa depan. Dalam mimpi itu, saya tampil di sebuah panggung besar sebagai motivator spiritual yang absurd. Bukan motivator biasa karena slogan saya adalah “Jadilah waras dengan ngobrol sama ketiak sendiri.”
Saya berdiri dengan percaya diri, mengenakan pakaian yang terbuat dari rajutan status WhatsApp orang-orang yang selalu menuliskan pesan “jangan menyerah.” Benang-benangnya bau semangat palsu.
Saya mulai berpidato. Isinya campuran antara teori eksistensial, keluh kesah pribadi, dan tips mandi air hangat. Di tengah pidato, seorang peserta mengangkat tangan dan bertanya, “Mbak, bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri?”
Saya tersenyum dan menjawab, “Coba mulai dari mandi. Serius. Kadang kita benci diri sendiri bukan karena luka masa lalu, tapi karena bau yang kita biarkan terlalu lama.”
Suasana hening sesaat. Lalu terdengar tepuk tangan riuh dari seluruh penjuru panggung. Bahkan Tuhan pun ikut tersenyum dari pojok ruang seminar sambil mengangguk seolah berkata, “Akhirnya dia jujur juga.”
Saya terbangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti mimpi diberi nasi padang gratis yang lauknya teori eksistensial: absurd, tapi mengenyangkan batin.
Keesokan harinya, saya pergi ke kelas. Saya memilih duduk di kursi pojok belakang dekat jendela. Posisi strategis untuk kabur jika kepala saya tiba-tiba menyetel playlist sunyi level tiga.
Dosen sedang membahas topik komunikasi antarpribadi. Tapi perhatian saya pecah. Saya membisikkan sesuatu kepada diri sendiri, dengan pelan, tetapi jelas. “Berkomunikasi dengan orang lain itu relatif mudah. Yang sulit justru dengan suara di kepala sendiri yang setiap hari menginstruksikan kamu untuk pura-pura baik-baik saja.” Suara itu langsung menjawab, tegas tapi lembut. “Itu bukan pura-pura, Nad. Itu namanya bertahan.”
Saya terdiam. Pandangan saya melayang ke luar jendela, menatap langit yang berawan. Menjelang sore, saya naik ke roof top kampus. Langit terbuka begitu lebar. Saya duduk di sudut, memandangi siluet gedung-gedung kota yang tenggelam dalam warna oranye tua.
Dalam diam, saya merasakan kehadiran yang lain di sebelah saya. Bayangan saya sendiri ikut duduk, bersandar di bahu saya tanpa suara. “Kita tidak gila, kan?” Saya bertanya lirih, lebih kepada langit daripada ke dirinya.
Bayangan saya menjawab tanpa ragu, “Tidak. Kita cuma realistis di dunia yang terlalu sibuk pura-pura waras.”
Saya tersenyum tipis, lalu menatapnya. “Kamu percaya Tuhan?”
Ia berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kadang. Tapi lebih sering saya merasa Tuhan sedang duduk santai, menonton reality show kehidupan dan kita ini cuma episode filler yang tayang di waktu pertengahan malam.”
Kami tertawa bersamaan. Tawa yang tidak keras, tapi dalam. Absurd sekali. Tapi entah mengapa terasa jujur.
Akhir pekan tiba. Saya duduk di kamar, sendirian, dengan lampu temaram dan udara yang tidak terlalu dingin. Keke sedang rebahan di atas bantal. Ia terlihat lelah, meski cuma boneka kecil yang tidak punya shift kerja.
Saya menatapnya dan bertanya, pelan, “Kapan ya, saya sembuh?”
Keke menoleh dengan mata kosong, tapi penuh makna. Ia menjawab, “Kalau kamu terus memaksa sembuh, kamu bisa lupa bahwa luka itu bukan aib. Kadang luka cuma pengingat bahwa kamu pernah hidup dengan penuh nyeri.”
Saya menarik napas panjang, lalu memeluk Keke. Pelukan diam yang tidak butuh penjelasan.
Tiba-tiba, lampu kamar berkedip pelan. Dinding tembok menyapa dengan suara lembut, “Selamat, Nadira. Kamu berhasil bertahan seminggu lagi.”
Saya tersenyum. Saya mengangguk kecil, lalu menjawab dengan tulus, “Terima kasih, semesta. Saya juga salut sama kamu.”
Sampai sekarang, saya masih suka bicara sendiri, di kamar, di kampus, bahkan di ruang bebas. Kali ini bukan karena merasa sendiri, melainkan karena saya tahu, mungkin satu-satunya yang benar-benar mau mendengarkan saya, ya … saya juga.
Jadi kalau suatu hari kamu mendengar suara saya di dalam angkot atau di lorong kampus yang sepi, jangan takut. Mungkin saya sedang berbincang dengan kecoak bijak yang hanya muncul tiap Jumat malam atau debat filosofis dengan bayangan tentang makna kehidupan. Atau mungkin, dengan bahasa paling jujur yang tidak pernah saya gunakan kepada siapa pun, saya cuma sedang menyapa diri sendiri.
Yogyakarta, 2025
- Nadira Bicara Sendiri - 11 July 2025


Laras Irentha Ramadhani
Cerita yang menarik, Nadira gak mau ngomong sendirian di dalam hatinya. Nadira berharap ada yang mengerti pikirannya di dunia nyata.
Onny
Banyak di belahan bumi ini seperti Nadira. Berbicara dengan diri sendiri. Dan hanya diri sendiri yang bisa mengerti.
zoee
kak, aku suka banget banget ama cerpennya, sepanjang cerita aku cuman bisa kagum karena idenya yang keren
zumar
metamorfosa
Dias
Apakah aku termasuk Nadira in a real life? Hahaha, bertanya pada diri sendiri setelah membaca cerpen karyamu kak. Bagus, aku suka cerpennya.
Fi
Ceritanya mewakili diri saya. Thanks, Nadira
Fi
Ceritanya sangat mewakili. Thanks, Nadira