Kematian adalah Cara Kita Kembali Utuh

Kau datang mengendarai vespa warna army. Di keranjang belakang kulihat ada buket bunga dan boneka panda bertoga kesayanganku. Aku menghampirimu dan langsung duduk di jok belakang. Begitu sampai di tujuan, gegas kau mengambil buket bunga, seperti biasa, sikapmu selalu membuatku termanjakan, bahkan pada hal sekecil itu.

“Nanti jangan lupa senyum, ya,” katamu lebih mirip sebagai gumaman, lalu kau menoleh sesaat sebelum kembali fokus pada jalan. Aku mengangguk, meski rasa gugup merambati pikiranku.

Sampai di gedung, aku baru menyadari rupanya kita menghadiri upacara kematian. Spontan aku merasa jantungku tenggelam ke perut. Selain itu, sekilas aku memikirkan boneka panda yang kurasa sempat kubawa tadi tidak ada. Tanganku tidak memegang apa-apa. Semua pengunjung menampakkan wajah sedih. Kita menghampiri peti mati di depan. Kau meletakkan buket bunga di dekat peti, lalu  bicara dengan mayat di dalamnya.

“Kamu tahu, sejak dulu aku sudah bilang kepadamu, betapa indahnya kematian. Terkhusus buatmu, kematian akan menyembuhkanmu, bahkan membebaskanmu dari derita. Kurasa kamu akhirnya sepakat, mungkin karena itu kamu memilih meninggalkanku lebih dulu. Pilihan tepat, karena jika aku yang lebih dulu mati, bisa saja kamu belum mengerti, dan aku akan sedih untuk itu. Ketahuilah, sesungguhnya apa pun keadaanmu, selamanya aku mencintaimu,” katamu panjang. Aroma dupa menguar ke seluruh ruangan, menguasai udara dengan melankolia yang pekat.

Usai berdoa, kau bangkit dan beranjak menjauhi peti lalu duduk di bangku deretan paling depan. Aku mengikutimu sembari melihat sekeliling. Kecuali dirimu, sepertinya aku tidak mengenal hampir semua orang yang berada di ruangan itu. Mereka tampak seperti bayangan samar yang hadir tanpa suara. Aku duduk di sebelahmu, memeluk lenganmu, dan bersandar di pundakmu. Rasa takut tiba-tiba merasuki diriku, seolah ada sesuatu yang akan merenggut kita.

Cukup lama kita bertahan dengan posisi seperti itu. Setidaknya sebelum datangnya seorang bocah perempuan yang seakan tiba-tiba muncul lalu mendekatimu dan memanggilmu ayah. Aku terkejut, hampir menjatuhkan diriku dari kursi.

“Tidak apa-apa, aku bersamamu,” katamu, seraya memangku bocah itu. Suaramu tenang, tetapi meninggalkan kehampaan dalam diriku. Aku seperti terabaikan. Bahkan saat aku memanggil dan bertanya kepadamu tentang situasi itu, kau seolah-olah tidak peduli. Aku kesal. Bocah itu membuatku merasa sangat cemburu.

Aku pun berdiri. Ingin berlalu dari tempat itu, pergi dari semua yang serba membingungkanku, namun tak satu pun pintu terlihat di ruangan itu. Aku bertanya kepada mereka, tetapi tak ada yang menjawab. Sekelilingku membeku. Kulihat kau masih memangku bocah itu, membisikkan sesuatu ke telinganya, yang entah kenapa, samar-samar kudengar menyerupai namaku.

Kejadian berpindah di gudang tua. Aku makin merasa linglung, tak tahu bagaimana aku bisa sampai di tempat ini. Di dalamnya ada beberapa perabot berdebu, memancarkan kesan pengap, sesak, dan berbau tidak sedap. Di sudut ruangan, aku menemukan sebuah lukisan teronggok begitu saja di lantai. Aku meraihnya, menyandarkannya di tembok. Gambar seorang perempuan tanpa busana yang menampakkan tubuh bagian belakang. Awan gelap menggantung di atasnya, serta genangan air menenggelamkan kakinya setinggi betis.

Aku merasa dekat dengan lukisan itu, seakan itu bagian dari masa laluku yang terlupakan. Saat aku masih berusaha mengingat, tubuhku tiba-tiba tersedot ke dalam lukisan. Aku berada di pinggir telaga, menemanimu memancing. Tetapi, bukan ikan yang kau cari, melainkan bayi-bayi manusia. Kau berhasil menaikkan satu bayi ke atas. Kau letakkan bayi itu di dekatku. Tatapan bayi itu menusuk hingga ke dasar jiwaku, seolah-olah berbicara tanpa kata. Lantas kau membawanya masuk ke pondok. Aku mengikutimu dengan langkah ragu.

Di dalam pondok, kau memandikan bayi itu, memakaikan pakaian, lalu menidurkannya. Aku mengamati detail perlakuanmu dengan takjub. Kau tampak seperti pria luar biasa di mataku. Aku merasa menjadi sangat bahagia, meski entah mengapa kebahagiaan itu bercampur dengan rasa takut.

Di salah satu sisi pondok, aku melihat dinding yang dipenuhi coretan tangan bocah. Ada gambar rumah dengan cerobong asap, dua sosok manusia, besar dan kecil berpegangan tangan, dan matahari yang separuhnya tampak seperti sedang jatuh. Gambar-gambar itu terasa akrab, seperti berasal dari ingatanku yang terlupa. Namun, saat aku mencoba mengingat, semuanya justru sirna begitu saja.

Aku kembali mengikutimu, yang kali itu menuju dapur. Rupanya kau akan membuat secangkir teh dari daun kemboja. “Semakin sering mencium aroma kematian, maka kau akan semakin bahagia,” katamu. Kata-kata itu terdengar seperti mantra yang merasuk ke dalam pikiranku. Aku sempat mencecap teh buatanmu yang terasa getir di lidah. Rasanya seperti perpaduan getah dan rumput. Aku memelukmu sangat erat, seperti ingin memastikan kau tetap bersamaku.

Namun setelahnya, aku justru terlempar dari lukisan. Pada saat itu, tanpa peringatan sebelumnya, kau mengejutkanku. Bersama dengan bocah itu, kau terjun ke dalam telaga. Aku melihatmu dan menangis tersedu, tetapi bibirmu menyungging senyum.

Aku tidak bisa merasakan tubuhku. Tidak bisa menghirup udara. Karena hal itulah, aku menjadi tidak bisa lagi memperhatikanmu. Tapi begitu keadaanku pulih, aku justru menuju ke telaga, bermain-main dengan bayi-bayi yang lain. Mereka tertawa, menyambutku dengan tangan-tangan kecilnya yang dingin. Ketika aku hendak meraih salah satu bayi itu, sesuatu menyeret kakiku ke tempat yang lebih jauh dan gelap.

Aku terombang-ambing dalam kegelapan yang sepi. Hanya ada suara detak jantung, tapi aku tidak tahu milik siapa. Mungkin milikku, mungkin juga milikmu. Tapi detak itu makin lama makin pelan, lalu lenyap. Aku terapung di ruang yang tak punya arah, hanya ada cahaya tipis seperti awan yang kadang berubah menjadi bentuk-bentuk aneh: wajah ibuku, tubuh kecilku di masa lalu, dan seseorang yang kupikir diriku sendiri, sedang memandangi sebuah tali yang menggantung.

Setelah itu bayangan buket bunga, peti mati, bocah perempuan, dan lukisan yang sebelumnya kutemui seakan menjejali pikiranku. Aku bingung sekaligus takut. Segala yang pernah kurasakan berserakan seperti puzzle yang kehilangan bentuknya. Dan saat aku merasa benar-benar tersadar, aku berada di tengah-tengah lapangan. Tanganku terikat, seutas tali melingkari leherku.

“Tidak ada kado yang lebih indah dari sebuah kematian,” teriakmu dari bawah. Suaramu menggema, menyayat udara yang dingin. Tanganmu masih menggandeng bocah perempuan yang bisa membuatku sangat cemburu. Namun, anehnya ia tersenyum kepadaku dan memanggilku ibu.

Gerimis turun. Semuanya tiba-tiba lenyap. Dan aku berada di tiang gantungan seorang diri. Tidak ada perasaan apa-apa. Aku hanya merasa tidak lagi butuh siapa-siapa. Dunia seperti menguap, meninggalkan ruang kosong yang sunyi. Namun, saat aku menatap ke langit yang kelabu, sesuatu berubah. Tali yang melilit leherku terasa lebih ringan, seakan membiarkanku bernapas kembali. Suara bocah perempuan itu memanggilku dari kejauhan, “Ibu, ayo pulang.”

Aku tidak turun dari tiang gantungan. Tapi perlahan-lahan dunia di sekitarku larut, seperti cat yang diencerkan air. Lapangan berubah menjadi halaman rumah tua. Tiang gantungan menjelma pohon jambu yang pernah tumbuh di samping ruang dapur di rumah nenek. Dan suara bocah perempuan itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, mirip doa: “Ibu, Ayah bilang rumah kita masih ada. Aku mau ke sana bareng Ibu.”

Aku membuka mata dan mendapati diriku kembali di pondok. Kau sedang duduk di depan perapian, memeluk bocah itu erat. Aku ingin mendekat, tapi langkahku terasa berat. Lantas kau menoleh dengan mata basah. “Aku hanya ingin kamu mengerti,” bisikmu. “Kematian adalah cara kita kembali utuh.”

Bocah itu ikut menoleh, lalu berkata. “Ayah bicara sama Ibu, ya?” Tatapan mata bocah itu penuh kedamaian, meski aku tahu ada hal besar yang belum sepenuhnya dia mengerti.

Aku menunduk, lalu perlahan melangkah mendekat. Tidak ada derita yang tersisa. Tidak ada lagi cemburu. Justru semacam kelegaan yang menggantung di udara, seolah tubuh dan jiwaku akhirnya berjalan beriringan lagi, setelah sekian lama saling asing. Aku merasa seolah bisa menyentuh kehadiranmu, dan juga bocah itu. Kita bertiga terdiam, tanpa kata, seperti telah saling memahami sesuatu yang tak perlu dijelaskan. Mungkin, di dunia seperti ini, cinta memang cukup hadir saja, tanpa perlu alasan.

Di luar pondok, hujan mulai reda. Meski awan gelap masih menggantung di kejauhan, namun sepertinya keadaan perlahan-lahan menjadi lebih terang, Dan untuk pertama kalinya, aku merasa siap menerima segalanya. Angin meniup tirai jendela. Asap dari perapian membubung ke langit. Aroma daun kemboja masih samar menggantung di udara. Dan sebelum segalanya benar-benar lenyap dari pandangan, aku tahu: aku telah kembali, bukan untuk menjadi utuh seperti semula, melainkan untuk mengerti bahwa retak-retak dalam diriku bisa menjadi rumah. ***

Yuditeha
Latest posts by Yuditeha (see all)

Comments

  1. ilham Reply

    saya ingin daftar disini

  2. Mell Reply

    (kematian di ambang karam🍂)

  3. Mell Reply

    Di ambang karam

  4. Aka Reply

    Suka sekali dengan diksi yang beliau gunakan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!