Kucing yang Terbelah di Kota Hujan

in Cerita Pendek by
pixabay.com

Di kota ini hujan turun setiap saat dengan cara yang berbeda-beda setiap waktu. Terkadang seharian kota ini dilanda hujan gerimis yang nyaris tak menyentuh kulit. Namun lebih sering saat pagi atau di tengah malam hujan lebat dan merata turun di seluruh bagian kota. Warga kota menyebutnya hujan berdegup, karena irama hujan lebat ini teratur seperti irama denyut jantung seseorang yang sedang berdetak.

Dari lantai dua puluh di salah satu blok tower apartemen bernamakan nama-nama bunga, aku memandang jauh ke ujung cakrawala. Kota ini terletak di antara cabang aliran sungai yang membelahnya serupa pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh dan dari seluruh tubuh ke jantung, sebuah sungai yang mengalir tenang meskipun hujan sedang berkecamuk. Di kota ini sampan adalah salah satu moda transportasi untuk bepergian ke mana pun warga inginkan, mulai dari sampan yang berbadan lebar hingga sampan yang kecil-kecil, rata-rata sampan yang digunakan adalah sampan-sampan bermotor yang melayari sekujur tubuh sungai dan berhenti pada dermaga-dermaga kecil persinggahan yang terletak di kawasan pemukiman padat yang bersinggungan dengan pasar tradisional, di situ berdiri apartemen-apartemen jangkung. Di antara apartemen-apartemen yang tumbuh subur di tubuh kota ini, di situlah apartemenku menjulang sendu.

Dari lantai dua puluh, aku memandang suasana jalanan kota yang basah, kendaraan bermotor, mobil dan bus dan sepeda motor bergemuruh di antara derasnya hujan. Hebatnya tak terdengar suara klakson yang memekak telinga, tak ada caci-maki dari mulut orang yang tak sabaran. Deru kendaraan bermotor samar-samar terdengar bagai simponi orkestra tanpa konduktor. Hilir mudik pejalan kaki yang menggunakan payung-payung berwarna cerah tampak berayun-ayun seperti sampan-sampan kecil di atas trotoar.

Aku berdiri mematung di atas balkon apartemen, menghirup aroma hujan yang masih menetes deras di atas kanopi. Mendengar senandung sedih hujan yang berdegup, hujan yang memukul-mukul ulu hati. Tiba-tiba saja aku merasa kesepian dan kedinginan, alih-alih masuk ke kamar apartemen, aku malah menjulurkan tubuhku pada pagar teralis balkon.

Dari atas balkon aku mengintip ke bawah dan kakiku gemetar dan  hatiku bergetar, dan hampir saja aku menjatuhkan syal yang mengalungi leherku akibat kekuatan angin yang mendesau wajahku terasa basah oleh terpaan air hujan. Aku seperti melihat sosok seekor kucing berwarna hitam. “Apa yang akan kulakukan?” tanyaku dengan nada mengeluh. Aku melanjutkan gerutuanku, semua orang di kota ini punya kesibukan, kesibukan sendiri-sendiri, baik itu sibuk beneran maupun sibuk yang dibuat-buat. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu–menyadari bahwa hidupku akan berubah selama-lamanya–setengah berbisik aku berseru, “Wahai diriku yang malang, kesepian tidak akan meninggalkanmu”. Kata-kataku yang setengah berbisik itu lenyap ditelan angin.

Aku adalah penghuni tertua dan terlama di blok tower aparteman bernama bunga-bunga ini, aku tinggal sendirian di sini, tidak ada satu pun penghuni lain yang  kukenal dengan baik, aku hanya mengenal mereka sambil lalu, misalnya saat bertemu di dalam lift itu pun tanpa tegur sapa, hanya sekadar menganggukkan kepala tanpa senyum, tanda basa-basi belaka. Akan tetapi ada yang paling aku ingat, ia seorang gadis kecil dengan warna kulit sepucat awan, namun berambut hitam sepekat jelaga, dan mata serupa warna laut di musim dingin. Ia sering menatapku dengan ramah dan hangat serta senyum yang lebar. Gadis itu memiliki seekor kucing yang selalu ia bawa ke mana-mana, ke mana pun ia pergi, kucing yang memiliki mata biru kelabu dan bulu tebal hitam legam mirip rambut pemiliknya. Kucing itu memiliki cakar seputih susu segar dan uniknya ada warna putih di ujung ekornya, ke mana pun gadis itu pergi, kelihatannya kucing itu akan mengikutinya. Apabila kucing itu tidak digendongnya, maka kucing itu yang akan membuntutinya paling jauh satu langkah orang dewasa di belakangnya, sehingga aku pun mengenal kucing berbulu hitam itu.

Aku dengar dari penumpang lift di apartemen ini, kucing milik gadis itu telah lenyap, hilang entah ke mana, padahal kucing itu bagian penting dari jiwa dan raga gadis itu. Seperti halnya hujan di kota ini hujan adalah bagian penting yang tak terpisahkan dari kota ini. “Oh, betapa kesepian gadis itu tanpa kucing hitam bermata biru kelabu!”

Perihal kucing hitam milik gadis berkulit pucat itu sampai-sampai merasuk dalam mimpiku. Suatu malam aku bermimpi berada di sebuah ruangan yang hening, aku merasakan keringat dingin menitik tetes demi tetes dari kulitku. Tiba-tiba berdiri di hadapanku seorang perempuan tua bertubuh tinggi menyeramkan, ia mengenakan mantel satin yang menyentuh lantai. Warna rambut perempuan tua itu seperti burung murai, hidungnya bengkok seperti tokoh jahat dalam film animasi, kulitnya berwarna cokelat seperti dedaunan di musim gugur, perempuan tua itu berdiri dan bergeming memeluk kucing berbulu hitam milik gadis itu.

“Hei, itu kucing milik seorang gadis di apartemen ini, kembalikan padanya!” teriakku, rupanya suaraku jauh lebih keras dari yang kuinginkan. Kucing yang ada dalam pelukan perempuan tua itu mengeong keras dan perempuan tinggi menyeramkan itu berbalik arah dengan marah. Tentu kondisi ini sangat mengerikan, lalu ia menoleh ke arahku dengan tatapan mata penuh kebencian. Lantas perempuan tua itu berjalan pelan menerobos kegelapan, lalu semuanya seperti melambat, kudengar dalam ruangan yang hening sesuatu yang begitu mengiris kalbu di kegelapan. Darahku  terasa membeku, di sana di dalam  keremangan lorong ruangan, tampak mendiang istriku sedang menangis tersedu-sedu. Aku nyaris saja menjerit, sebelum terbangun dengan napas tersengal-sengal dan tubuh berkeringat. “Mimpi sialan!” umpatku.

Perlu diketahui istriku sudah lama mati, ia meninggalkanku dan kota yang selalu hujan ini untuk selama-lamanya dengan tragis. Ia mengembuskan napas terakhir, kukira, ketika hujan deras bergema membelah malam 15 tahun yang lalu.

Kala itu seorang petugas keamanan dermaga kecil di tepi sungai beberapa meter dari pasar tradisional sedang memeriksa kondisi pos dermaga yang sedang direnovasi. Ia melakukan tugas tersebut sebagai bagian dari rutinitas seorang personel petugas keamanan. Saat ia berdiri di atas dermaga sambil melihat air sungai yang keruh akibat hujan sepanjang hari tanpa henti. Matanya tertumbuk pada sebuah benda putih yang kelihatan ganjil dan menarik perhatiannya. Benda yang mengambang di atas air sungai di bawah dermaga kembali ditelitinya dengan saksama, ia lalu menggaet benda yang mencurigakan itu dengan sepotong kayu. Petugas keamanan itu mengais-ngais benda tadi ke pinggir sungai dan betapa petugas keamanan itu sangat terkejut ketika benda misterius itu sudah mendekat ke arahnya. Meskipun sebelumnya ia telah curiga, tak pernah terbayangkan olehnya bahwa benda itu adalah sepotong kaki manusia. Petugas keamanan dermaga itu segera melaporkan temuan ini ke kantor polisi terdekat, setelah itu kepala polisi kota menerjunkan sebuah tim untuk menyusuri sungai dekat dermaga. Terlebih aku pernah melaporkan tentang keberadaan istriku yang entah di mana.

“Kalau ada kaki kanan, tentu ada kaki kiri,” ujar seorang petugas polisi menerangkan. Usaha menyisir sungai tak sia-sia, beberapa jam kemudian tim polisi menemukan bagian lain dari tubuh manusia dan bagian lain tubuh itu adalah istriku. Lantas duniaku serasa runtuh, lalu gelap. Pelan-pelan aku membuka sebelah mataku dan menemukan istriku sedang melayang-layang di udara, ia berlari-lari di udara seperti tanpa beban, seakan dirinya terbuat dari bulan dan bintang-bintang di langit. Lantas ia melesat meninggalkan tanah dan sungai yang membelah kota, ia menerabas senja, sepertinya tubuhnya sangat ringan daripada terpaan hujan yang menimpa kulit wajahku. Sejak saat itu rasa kesepian dan kesedihan selalu menggelayut dalam kepalaku, seperti awan mendung yang menggelayut di langit kota pada siang hari.

Saat ini di kamar apartemenku penuh dengan buku-buku puisi dan prosa, seharusnya ruangan kamar ini sudah kujadikan perpustakaan 15 tahun yang lalu. Tapi hal itu hanya sebatas keinginanku saja. Sejak kematian istriku aku lebih banyak berdiam diri, mengurung diri dalam kamar gelap, karena dalam gelap aku merasa sangat nyaman. Mendengarkan musik-musik yang menyedihkan, dan menulis puisi secara sembarangan di kertas-kertas, di kartu pos-kartu pos, dan puisi-puisi yang baru setengah jadi kutulis bertebaran di lantai.

Tiba-tiba dari arah balkon terdengar suara bergemerincing gelang, aku terperanjat lalu kusibak gorden jendela. Di lantai balkon apartemen kulihat seekor kucing berbulu hitam, bermata biru kelabu dengan ujung ekor berwarna putih sedang mengendap-endap dan berusaha naik ke jendela apartemenku. Aku menahan napas saat kucing itu berjinjit dan tampak mengintip melalui celah jendela. “Oh, aku bahagia sekali kau ada di sini, Sayang”, bisikku pada kucing itu ketika aku membuka pintu balkon. Kucing itu mundur selangkah dengan wajah penuh curiga dan kaget, lalu dengan kecepatan mengejutkan, sebelum kucing itu bergerak mundur lagi, aku menjatuhkan diriku ke lantai dan merenggut kucing hitam itu dalam pelukanku. Kucing itu mendesis buas, tetapi aku mengusap tenguknya untuk menenangkan.

Waktu sesaat terdiam, seolah berhenti dan mati, ketika aku pergi menuju pinggiran sungai di bawah guyuran hujan yang berdegup seperti irama jantung yang memburu. Di tepi sungai dekat dermaga kecil, terdengar suara kucing yang tercekat dan suara kucing berbulu hitam ini lantas menggeram menggema membelah malam untuk terakhir kali. Butiran air hujan yang berkilauan melayang turun dari langit dan menerpa tubuhku yang menggigil keras.

Di atas air sungai yang keruh seekor kucing yang terbelah dua mengapung di hadapanku, lantas tenggelam ke dasar sungai. Di tanganku sebilah pisau dapur terhunus berlumuran darah seekor kucing yang malang sekaligus sial. Pikiranku yang lain berusaha terbentuk dalam otakku, tapi malah menjadi kosong, memotong segalanya dan menjadi membingungkan. Saat ini masih terdengar suara hujan yang berdegup-degup tanpa ampun dan tanpa belas kasihan.***

Jakarta, 1 September 2018

***Teruntuk Almarhum Ramadira penulis Kucing Kiyoko

Bamby Cahyadi

Bamby Cahyadi

Hari Minggu adalah “hari raya” untuk para penulis cerita pendek. Karena sebagian besar media (terutama koran), memuat cerita pendek pada hari Minggu. Selama bertahun-tahun, setiap hari Minggu tiba, laman Facebook Bamby Cahyadi selalu menjadi incaran para penulis. Karena ia, secara sukarela selalu memberi informasi tentang siapa saja, dan dari koran mana saja, yang pada hari itu memuat karya-karya yang mereka tunggu.
Bamby Cahyadi lahir di Manado, 5 Maret 1970. Ia bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Buku kumpulan Cerpennya yang telah terbit, di antaranya adalah Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (GPU, 2012, danPerempuan Lolipop (GPU, 2014).
Bamby Cahyadi

Latest posts by Bamby Cahyadi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.