Kegiatan Mengisi Waktu Luang di Masa Pensiun

Hari ini adalah hari pertamaku sebagai seorang pensiunan.

Ada rasa nyaman yang menjalar di seluruh sendi jiwa dan ragaku sekaligus ada rasa hampa yang ganjil menyusup di sanubariku. Aneh juga rasanya, kini aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak pergi ke kantor untuk bekerja, atau menerima telepon dan pesan WA urusan pekerjaan.

Hanya ada satu pesan WA yang masuk ke ponselku pagi ini dari mantan istriku, ia mengucapkan selamat menikmati masa pensiun. Itu saja.

Bayangkan, sejak lulus kuliah ketika usiaku pertengahan 24, aku sudah bekerja hingga aku pensiun di usia 58. Aku pensiun di usia 58 karena aku dikaryakan kembali oleh perusahaanku selama 3 tahun. Sebenarnya pada waktu itu aku sudah memasuki usia pensiun orang-orang pada umumnya ialah usia 55. Terus terang, saat itu aku dalam kondisi tidak siap berhenti bekerja dan nganggur. Beruntungnya tidak ada lagi karyawan lain yang bisa menggantikan posisiku sebagai tenaga ahli forensik keuangan di perusahaan.

Aku seorang yang tak memiliki hobi atau ketertarikan khusus pada suatu hal tertentu selain bekerja. Karena itu, aku hampir kelabakan mencari aktivitas untuk bekal menjalani masa pensiun.

Berbeda dengan rekan sejawatku, Pareto. Ia menjadi penulis novel yang produktif, sejak masih bekerja, Pareto sudah menulis cerpen untuk koran dan menulis novel yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Sehingga saat ia memasuki usia pensiun, ia punya banyak aktivitas mengisi hari-harinya dengan berimajinasi menghasilkan tulisan berupa cerpen atau novel. Pun ia sering mengisi kegiatan seminar atau kelas menulis kreatif.

 Terus terang aku iri terhadap kehidupan masa pensiun Pareto. Aku ingat aku pernah melecehkan Pareto secara terbuka dan terang-terangan di kantor.

 “Hei Pareto, kau kayak tak ada kerjaan saja di kantor malah nulis cerpen dan novel,” cibirku ketika lepas kerja kulihat Pareto sedang mengetik sesuatu di laptopnya yang ternyata naskah sebuah cerpen.

 “Ah, kau ini resek banget sama urusan orang, aku nulis karena ini hobiku,” ujar Pareto menjawab cibiranku. “Lagi pula, saat ini sudah bukan jam kerja,” lanjutnya.

 Beberapa minggu kemudian tulisan Pareto dimuat di koran nasional, kulihat betapa bahagia dan bangganya ia. Koran tersebut diborongnya dan ia bagi-bagikan secara gratis kepada seluruh penghuni kantor.

Ada sejawatku yang lain, Kuntoaji, saat pensiun ia mendirikan kedai kopi di teras rumahnya dan sukses sebagai pengusaha kedai kopi, ia pun menjual biji-biji kopi hasil pilihannya secara online. Kuntoaji memang terkenal andal meracik kopi. Sejak dulu Kuntoaji memiliki hobi dan keahlian memilih biji kopi, lantas menyangrainya, dan meracik biji kopi itu menjadi beragam minuman kopi yang nikmat.

Kuntoaji mengemas minuman kopinya dalam botol-botol plastik berukuran kecil dan sedang. Lantas kopi-kopi itu ia jajakan kepada seluruh penghuni kantor. Aku suka es kopi susu buatannya. Ekstrak espresso yang dicampur dengan susu segar dan gula aren rasanya enak.

“Kau pintar sekali membuat kopi ini,” kataku memujinya sambil meneguk kopi susu gula aren buatannya.

“Kalau kau tertarik, aku ajarkan cara membuat dan meracik kopi menjadi berbagai minuman di akhir pekan ini,” katanya penuh antusias.

Tapi aku malas beraktivitas di akhir pekan, tawaran itu kutolak dengan halus. Aku lebih suka bangun siang dan tidak melakukan apa-apa kecuali nonton televisi seharian atau drama Korea kegemaranku.

“Bapak-bapak kok doyan nonton drakor, kayak emak-emak aja!” Begitulah komentar Pareto dan Kuntoaji soal kegemaranku nonton drama Korea. Tapi aku bergeming dengan komentar tak berguna itu.

Memang, perihal aku ketagihan nonton drama Korea pernah menjadi bahan gunjingan di kantorku. Beruntungnya sebagian besar pekerja perempuan di kantorku adalah penggila drama Korea, sehingga aku dibela mati-matian oleh mereka.

Ya, hari ini hari Senin pertama di awal bulan aku tidak bekerja sebagai seorang pekerja kantoran. Rasanya nyaman tetapi ada rasa ganjil yang mengganjal hatiku.

“Kau punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan keluarga, istri, anak, dan cucumu,” begitu kata Pareto ketika aku meneleponnya beberapa hari menjelang pensiun. Aku menanyakan kira-kira apa yang harus kulakukan di masa pensiunku.

Di akhir pembicaraanku dengannya, Pareto menyarankan aku menghubungi atau melihat portal sebuah lembaga nirlaba yang menyediakan kegiatan mengisi waktu luang di masa pensiun. Setelah menutup telepon aku langsung membuka portal tersebut dan mendaftarkan diri sebagai peserta kegiatan di lembaga yang menyelenggarakan kegiatan di masa pensiun itu. Mudah-mudahan saja bermanfaat, batinku.

Banyak yang tidak tahu karena aku tak pernah memberitahukan kepada rekan-rekan kerjaku atau bahkan dengan orang-orang terdekatku, bahwa aku sudah bercerai dengan istriku 10 tahun yang lalu.

Peristiwa perceraian terjadi begitu saja ketika usia pernikahan kami memasuki tahun ke-25 pada waktu itu usiaku 50 tahun. Entah kenapa kehidupan rumah tanggaku menjadi hambar dan membosankan. Aku tiba-tiba ingin hidup sendiri lagi selayaknya lelaki lajang, ketika hal itu kusampaikan kepada istriku, ia pun dengan mudah menyetujui usulanku untuk bercerai.

Kami memiliki dua orang anak laki-laki. Pada saat kami bercerai, anak-anakku pun tidak ada yang protes. Kemungkinan mereka menyetujui perceraian itu terjadi karena mereka berdua sudah cukup dewasa memahami situasinya. Ketika itu anak pertamaku berusia 24 tahun dan sedang merintis karier sebagai dokter muda di sebuah rumah sakit swasta di sebuah kota kecil di luar Pulau Jawa. dan anak keduaku yang berusia 23 tahun tengah sibuk menyiapkan skripsi sarjana akuntansinya.

Mantan istriku dan anak-anakku tentu saja tetap tinggal di rumah kami di sebuah kompleks perumahan di pinggiran kota Jakarta. Sementara aku memilih tinggal di apartemen di tengah kota Jakarta. Selama kami bercerai, secara berkala aku bertemu dengan istriku dan anak-anakku, apakah itu pada suatu acara makan malam yang sengaja kami adakan di restoran langganan kami, atau pada acara-acara keluarga besarku atau istriku. Mantan istriku sampai saat ini tidak menikah. Aku pun demikian.

Anak pertamaku menikah ketika ia berusia 27 tahun, dan dari hasil pernikahannya aku beroleh dua orang cucu perempuan, kembar. Saat ini anakku bekerja di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta. Anak keduaku pun sudah bekerja di sebuah perusahaan keuangan swasta asing di Jakarta, ia berencana menikah beberapa bulan lagi dari sekarang. Dibanding kakaknya, ia terlambat menikah.

Usai mandi dan sarapan pagi, aku bermaksud membunuh waktu di hari pertama masa pensiunku dengan berolah raga ringan sekadar berjalan kaki mengelilingi kompleks apartemen. Pengelola apartemen ini menyediakan jogging track yang cukup memadai. Kurasa berjalan kaki atau sekadar bergerak di pagi hari adalah pilihan jitu hingga menjelang siang nanti.

Aku ke luar dari unit apartemenku lantas menuju lift dan turun ke lobi apartemen di lantai dasar. Saat pintu lift terbuka, seorang laki-laki mencegat langkahku. Kupikir ia petugas satpam di apartemen ini, tapi lelaki itu tidak aku kenal.

“Bapak Sultan Saladdin?” tanyanya

“Betul, Anda siapa?” aku balik bertanya.

“Mohon ikuti saya,” katanya datar.

Ia mengarahkan tangannya ke sebuah mobil berwarna hitam yang sudah menunggu di depan lobi apartemen.

“Tapi Anda siapa?” tanyaku lagi.

Ia mengangkat bahu, “Saya bukan siapa-siapa.”

Ia memberi isyarat dengan matanya agar aku masuk ke dalam mobil. Sekonyong-konyong ia mencengkeram tanganku dan menyeretku dengan paksa masuk ke dalam mobil yang telah menunggu itu.

Aku berusaha memberontak dan berteriak tetapi usahaku sia-sia. Aku sudah berada di dalam mobil bersama lelaki itu, dan sang sopir yang sudah menunggu di dalam mobil sedari tadi langsung tancap gas menuju suatu tempat.

Di dalam mobil, lelaki itu mengambil sebuah kantong belanja berwarna hitam dan dengan tangkas ia masukkan kepalaku ke dalam kantong belanja itu, sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa dan aku tak tahu akan ke arah mana mobil ini pergi.

Akhirnya mobil berhenti di suatu tempat. Lelaki itu memegang tanganku dan menarikku turun dari mobil dengan paksa. Setelah berjalan beberapa langkah. Lelaki itu berhenti menyeretku dan tentu saja langkahku pun turut terhenti.

Kantong belanja yang membekap di kepalaku akhirnya dilepas. Aku melihat sekelilingku. Aku berada di sebuah ruangan besar kosong dengan cat di dindingnya yang telanjang telah mengelupas tak terurus. Lelaki dan sopir itu kini ada di hadapanku, memakai masker berwarna hitam agar aku tak mengenali wajah mereka.

“Hei, siapa kalian dan kenapa saya diperlakukan seperti ini?” teriakku.

Aku tak sempat menyelesaikan perkataanku. Lelaki itu bergerak bagaikan kilat, ia menyerangku dengan mengarahkan tinju ke arahku. Pukulannya telak menghajar ke wajahku dan membuat mataku berkunang-kunang, tubuhku sempoyongan.

Jerit ketakutan melesak keluar dari kerongkonganku.

Dengan kepala yang terasa sakit dan pusing, aku berpikir bahwa seharusnya aku segera lari untuk menyelamatkan diri. Saat aku hendak bergerak lari, lelaki itu tertawa dengan suara keras, ia tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Tubuhku diangkatnya, lalu dilemparkan ke lantai ruangan ini. Aku terjerembab dengan tubuh terasa remuk di bagian dada. Si Sopir mendekatiku, lalu pergelangan tanganku diikat dengan sebuah tali plastik. Aku meronta-ronta. Kurasakan darah menetes deras dari mulut dan hidungku, saat itulah dunia menjadi gelap. Aku pingsan.

Ketika aku siuman, aku sedang berbaring di ranjang apartemenku. Kulihat dari jendela kamar apartemenku langit malam membentang di atas sana. Gemerlap sinar bintang disapu oleh pijaran cahaya lampu-lampu dari semua unit kamar apartemen lain yang menyala.

Dengan kepala yang masih terasa berat serta tulang dan sendi serasa dilolosi, aku bangkit dari tempat tidur. Saat itu sebuah pesan WA muncul di layar ponselku dari nomor tak kukenal, isinya membuatku terpukau.

“Terima kasih telah memercayai kami mengisi kegiatan permainan hari pertama masa pensiun Anda, semoga aktivitas permainan hari ini ‘penculikan dengan kekerasan’ mengesankan. Kami akan menyiapkan aktivitas dan pengalaman yang tak terduga dan tentu menyenangkan untuk Anda besok.”

Aku mendongak dan tersenyum. Mereka benar-benar menjalankan permintaanku dengan baik. Sungguh menyenangkan menunggu kejutan yang akan terjadi besok. Jantungku terasa berdentam-dentam. Ternyata begini rasanya memiliki aktivitas di masa pensiun.***

Jakarta, 07 Oktober 2021

Bamby Cahyadi

Comments

  1. MZ Reply

    hari pertama pensiun yang mendebarkan. kayak di film-film.

  2. Sultan Reply

    Saya tak menemukan apa-apa dalam cerpen ini.

  3. Me Reply

    Aduh ngeri

  4. @haryosupplychain Reply

    Agak mirip…film di netflix..adiknya membelikan tiket wisata yg penuh kejutan tiap hari ke kakaknya yg hidupnya mapan….lupa judulnya….

  5. Bamby Cahyadi Reply

    Boleh mas haryo ingat-ingat lagi judul filmnya… kalo cerpen ini gegara lihat serial drakor Squid Game hehe

  6. Karin Reply

    Bapak-bapak penyuka drakor xixixi

  7. dalgona Reply

    squid game ala ala pensiunan

    • Chi Reply

      Awalnya biasa, endingnya ternyata…

  8. Resnu Reply

    Serem juga jadi pensiunan ahli forensik. Banyak yang dendam wjwj

Leave a Reply

Your email address will not be published.