Orang Mati Tidak Berbicara

Deconstructed Watercolor Portraits by Henrietta Harris

Entah Tuhan sengaja atau tidak—aku lebih memilih sengaja—hidupku benar dibuat oleh-Nya menjadi ambruladul. Belum genap pernikahanku mendaki tahun kelima, istriku berselingkuh dengan mantan pacarnya waktu di SMA. Mereka berhohohihe di hotel bintang dua yang terletak di pinggiran kota. Aku mengetahui kabar itu dari polisi ketertiban yang menciduk mereka.

Aku yang masih belum memiliki buah hati, langsung kesumbat. Larilah aku menuju kantor polisi sembari membawa air keras. Rencananya, mau aku hancurkan sekalian rupa istriku dan selingkuhan jahanamnya. Nahasnya lagi, niat buruk ini direstui oleh Tuhan.

Senyumku membentang lebar ketika istriku memeluk dari depan. Ia tersedu-sedu sembari meminta maaf berulang kali. Sementara itu, aku menyaksikan selingkuhannya sesekali melirikku, lalu menundukkan kepala. Melihat ia berlagak sok acuh, tanganku mengepal. Caranya membuang muka, seperti merendahkanku.

Tanpa banyak cincong, aku hempaskan istriku, lalu tanganku menghajar selingkuhannya berulang kali. Setelah selingkuhan istriku tepar di kursi kantor polisi, aku mengambil air keras yang dibungkus kresek hitam. Nampaknya, keributan yang kutimbulkan mengundang kedatangan polisi. Cepat-cepat kubuka botol berisi air keras, lalu berjalan pelan menuju selingkuhan istriku.

Napasku memburu. Darahku berdesir cepat di pembuluh. Mungkin, saat ini aku kehilangan kewarasanku. Kuangkat botol air kerasnya hingga sejajar dengan dada, lalu menggoyangkannya ke depan.

Kukira, Tuhan merestui niat burukku. Akan tetapi, justru Tuhan tengah mengutukku. Sebelum aku menyiramkan air keras itu, istriku menampik botolnya. Habislah air keras itu muncrat ke wajahku. Aku mengerang kesakitan sembari berguling-guling di lantai. Sebelum aku kehilangan kesadaran karena perih tiada tanding, senyuman istriku yang melintang, telah mencabik-cabik kewarasanku yang tinggal sedikit.

Sejak saat itu, aku mengasingkan diri dari lingkungan sekitar. Rupaku sangat jelek. Aku hanya bekerja sebagai buruh di pabrik. Karena rupaku yang tidak keruan, kontrak kerjaku diputus secara sepihak. Lengkap sudah penderitaanku. Rumah kontrakan yang kutinggali, habis masa sewanya.

Sementara itu, istriku menyebarkan rumor yang tidak sedap. Istriku tinggal sekampung denganku. Rumah orang tuanya juga berada dalam satu kampung. Istriku mengatakan pada warga kalau aku telah menganiaya teman prianya. Padahal, teman prianya sedang menolong istriku, karena mengalami KDRT yang dilakukan oleh diriku.

Cerita yang luar biasa sempurna, bukan?

Aku dan istriku semula sepasang manusia yang saling mencintai, kini menjadi musuh bebuyutan. Aku sangat membencinya! Bahkan, kalau bisa, aku bunuh sekalian sekarang juga! Tidak bisa, aku sadar kalau itu sia-sia.

Akhirnya, Tuhan sedikit berbaik hati padaku. Dalam hati, aku juga tertawa. Tuhan sendiri yang mendatangkan malapetaka untukku, lalu Tuhan sendiri yang menolongku. Sepertinya, sosok yang disebut Tuhan itu gemar bermain peran pahlawan dan penjahat.

Setelah melamar pekerjaan ke sana-sini, dengan rupa yang buruk, akhirnya mendapat panggilan kerja dari salah satu rumah sakit swasta sebagai sopir ambulans. Tidak peduli apa pekerjaannya, yang terpenting halal dan menghasilkan. Namun, syarat yang diajukan oleh pihak rumah sakit, aku harus membawa pulang mobil ambulansnya, sekaligus mencucinya ketika selesai mengantar jenazah.

Aku hanya mengontrak rumah kecil, dengan halaman yang sama kecilnya pula. Hanya terdapat dua kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan kamar mandi. Itu lebih dari cukup untuk duda berkepala tiga sepertiku. Setiap mengantar jenazah atau pasien darurat, aku mendapat bonus gaji sebanyak seratus ribu rupiah. Nominal yang cukup besar, bukan? Belum lagi ditambah dengan gaji pokoknya yang menyamai UMR di kotaku.

Tetapi, ya begitu. Seperti di cerita atau film-film horor klasik, di mana selalu ada saja momen mistis ketika mengantar jenazah sendirian. Terkadang, memang ada keluarga yang ikut, tapi itu jarang sekali. Mereka lebih senang naik mobil sendiri, lalu membuntuti dari belakang. Ditambah lagi, kalau jenazah dari korban kecelakaan lalu lintas. Terpaksa aku melintasi jalan sendirian.

Pernah aku mengantar satu jenazah perempuan yang tubuhnya remuk karena dilindas truk gandeng. Kepalanya penyet. Otaknya menyemburat keluar. Isi perutnya terburai. Saat aku tiba di TKP, kepolisian memintaku untuk membantu mengumpulkan anggota tubuh yang tercerai-berai. Awalnya, sungguh aku mual dan berkeringat dingin. Akan tetapi, ketika menyadari bahwa ini profesiku, aku tetap tegar sembari terus beristigfar.

***

Setahun sudah aku menjalani profesi sebagai sopir ambulans. Karena saking kesepiannya, tiap kali mengantarkan jenazah, aku mulai meracau tidak jelas. Seperti bertanya, “AC-nya dingin? Kalau saya kegerahan, nih.” Setelahnya, aku mengikik, meski tidak ada yang lucu. Aku membuka jendela di sampingku, lalu menyalakan rokok.

Kulirik spion yang menggantung di atas dashboard, berharap kalau jenazah yang tengah kubawa terbangun, lalu berkenan hati mengobrol sejenak denganku, hingga tiba di rumah sakit. Aku mendecitkan lidah, ketika menyadari sungguh itu percuma.

Esok harinya, aku mendapat teman mengobrol. Ia seratus persen manusia. Aku menjaminnya. “Nama saya Rohman, Mas,” sapanya sembari mengulurkan tangan, “nama Mas siapa?”

“Siapa, ya?” Aku mengisap rokokku, lalu mengepulkan asapnya. “Lama sekali saya tidak berbicara dengan manusia, jadi lupa nama saya sendiri.” Aku menyodorkan rokok padanya, lalu ia menolaknya. Setelah melihat peci putih di kepalanya, aku memaklumi penolakannya.

Rohman sedikit mengikik. “Masnya bisa saja.”

“Beneran, Mas.” Aku mendongakkan kepala. “Kalau gak salah, namaku Su… Su… Suwardi atau Supri… entah Mas, aku ya juga lupa.”

“Kalau gitu, tak panggil Mas Sopir aja, gimana?”

“Boleh. Terserah Masnya saja.” Jujur, aku semringah ketika mengobrol lagi dengan manusia, setelah setahun lamanya jarang bercengkrama dengan manusia lainnya. Paling-paling, aku hanya berbicara sekilas dengan bosku atau keluarga dari jenazah. Warga di sekitar rumahku seperti menghindari keberadaanku. Mungkin, mereka ketakutan dengan rupaku, lalu ditambah setiap malam saat perjalanan pulang, aku menyalakan sirine ambulans.

Setelahnya, Rohman bercerita sedikit tentang kehidupannya. Ia katakan kalau dirinya menjalankan bisnis tambak. Sempat aku ditawari olehnya untuk bekerja di tempatnya. Aku menolak. Bukan karena nyaman sebagai sopir ambulans, hanya takut membuat ikan-ikan di tambaknya stres dan berenang terbirit-birit menyaksikan rupaku yang buruk.

Kemudian, mendadak Rohman meneteskan air mata. “Bapak saya sudah gak ada, Mas,” desisnya. Ia mengusap matanya, lalu menoleh ke belakang. “Waktu di rumah sakit, saya gak bisa nangis. Ada ibu sama adik saya, lalu istri dan anak saya juga. Masa mereka melihat Bapaknya cengeng?”

Tidak ada balasan dari mulutku. Habislah aku dibuat senewen.

Rohman pun melanjutkan, “Saya harus tabah, Mas. Bapak sudah gak ada. Saya harus tabah.” Rohman menutupi wajahnya dengan telapak tangan, lalu terus mengisak-isak. Aku mengelus punggungnya sembari berkata, “Betul. Harus tabah, Mas.” Kalimat itu juga aku tujukan pada diriku sendiri.

Pertemuanku dengan Rohman, sepertinya kesempatan langka. Di pengantaran jenazah berikutnya, sampai belasan kali pun, tidak ada keluarga yang berkenan duduk di sebelahku. Mulailah lagi kebiasaanku mengajak para jenazah berbicara. “Mbaknya cantik, tapi sayang sudah mati.” Kebetulan, jenzah yang kuantar adalah perempuan berdarah Manado yang meninggal karena penyakit—aku tidak mengetahuinya.

Mendadak, suara samar muncul. “Masnya juga lumayan. Tapi sayang, cuma sopir ambulans.”

Kontan, aku menoleh ke belakang. “Mbak… Mbaknya yang tadi ngomong?” Aku terus menoleh ke belakang, mengamati jenazah yang ditutupi kain putih itu. “Mbak?”

Hingga tanpa sadar, kakiku terus menginjak pedal gasnya.

Setelah kejadian itu, aku menyadari kalau orang mati tidak berbicara. Karena, aku telah membuktikannya sendiri. Dalam keadaan mulut yang tersumpal oleh tanah lembap, aku dibuat kesukaran untuk membuka mulut.

Sidoarjo, 8 Agustus 2019

Ardha Tian

Tinggal di Sidoarjo.
Ardha Tian

Latest posts by Ardha Tian (see all)

Comments

  1. Asih Reply

    Cerpennya bagus

    • Vianda Alshafaq Reply

      Waaaw, cerpennya bagus banget, apik dan bikin penasaran. Apalagi endingnya, saya suka.

  2. Adam Reply

    Gila…, gk ketebak endingnya. Good story.

    • Galang Reply

      An Good Idea. Love it

  3. dinny Reply

    simpel tapi asli keren cerpennya

  4. izky Reply

    Yeee, dia mati

  5. Royani Reply

    Mantapz bikinbpenasaran..

  6. Anonymous Reply

    “Masnya juga lumayan. Tapi sayang, cuma sopir ambulans.”

  7. Anonymous Reply

    Jd Rohman tu siapa?

    • ielma m. malik Reply

      Sama. Saya juga penasaran. Rohman itu siapa? Wkwk

      • Adam Reply

        Rohman tu salah satu keluarga pasien.

  8. aapermana Reply

    keren

  9. Yuni Bint Saniro Reply

    Idenya keren dah.

  10. Anonymous Reply

    Alurnya bagus sama gak ketebak endingnya

  11. Agung Reply

    Ada horor klasik nya.. Ok

  12. Rebecca Reply

    Cerpennya bagus. Gagasan ceritanya bagus. Gaya bahasanya baik.
    Kritik saya cuma satu, risetnya untuk ceritanya kurang. Mobil ambulans dan mobil jenazah itu beda. Mungkin maksudnya di dalam cerpen ini, si tokoh utama adalah sopir mobil jenazah, bukan ambulans, ya.

    Don’t give up. Keep writing. 🙂

  13. Anonymous Reply

    bagussss,,,, mengalir aja ringan tapi amazing…..

    • Zaenal mustakim Reply

      Mantap jiwa. Alurnya keren

  14. Anonymous Reply

    kerenn

  15. Anonymous Reply

    keren bang

  16. niLLa Reply

    love at the end..

  17. Anonymous Reply

    sederhana tapi syantik…

  18. Merisa Reply

    Cerpen nya keren👍

  19. Septiannor Wiranata Reply

    Cerpen sederhana dgn alur yg luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published.