Portrait of Lady on Fire, Film Feminis yang Artistik

 

Saya bukan penggemar film Prancis, karena menurut saya kebanyakan absurd dan biasanya tidak happy ending. Namun akhir Desember 2019, saya menonton film terbaik yang pernah saya tonton sehingga mengalahkan film Hollywood maupun Inggris. Portrait of Lady on Fire (PoLoF), karya Céline Sciamma, sutradara dan penulis skenario original. Portrait of Lady on Fire menjadi film yang ramai diperbincangkan di sirkuit festival film dan mendapat penghargaan Cannes Prancis sebagai Queer Film dan Best Screenplay; dari Toronto Film Critics Association runner up Best Foreign Language Film; Best Cinematography Los Angeles Film Critics Asociation, nominasi dari British Independent Film Award, meraih Excellence in Cinematic Achievement USA Women Film Critics Circle. Semuanya memuji, film ini masuk nominasi Foreign Language Golden Globe, bahkan termasuk dalam film library The Criterion Collection sebuah channel streaming berbayar yang juga preservasi karya film dunia dalam bentuk DVD dan Blue Ray serta resolusi tinggi.

Portrait of a Lady on fire diperankan semua oleh aktris, peran utama Noémie Merlant dan Adèle Haenel. Ini adalah film feminis Céline Sciamma yang kesekian kalinya. Film ini indah secara sinematografi. Adegan per screen bisa di-f­rame sehingga seperti lukisan alam dan scene yang merepresentasikan nilai yang hendak disampaikan. Céline Sciamma menyatakan ini film love story yang patah hati. Kisah cinta Marianne (Noémie Merlant) dan Héloïse (Adèle Haenel) sehingga sudah dipastikan film ini tak akan diputar di layar bioskop Indonesia. Namun film ini bukanlah sekadar kisah cinta romansa biasa, background story, gambaran kondisi masyarakat mampu diungkapkan dalam dialog-dialog singkat di film ini.

Film ber-setting tahun 1770-an di sebuah Pulau Brittany, Prancis berkisah tentang pelukis Marianne yang diminta melukis portrait Héloïse, oleh ibunda Héloïse, namun Marriane melukis secara diam-diam dan di depan Héloïse ia bertindak sebagai companion. Opening film dimulai dari Marriane yang sedang mengajar melukis potret dengan dirinya sebagai model. Murid-muridnya anak perempuan. Menonton film ini kita akan masuk dalam framefemale’s gaze” sejak awalnya. Lukisan portrait itu rencananya akan dikirim ke bangsawan di Milan yang akan menikahi Héloïse. Di sinilah mulai drama dan konflik hidup. Berjalan lambat, itu pun diakui dalam dialog. Penonton seakan masuk ke dalam cerita yang berlapis-lapis, dan sarat dengan penggambaran kondisi perempuan pada saat itu, khususnya perempuan pelukis.

Sebagaimana film adalah representasi berbagai seni, PoLoF tidak memiliki score music (soundtrack) selain suara alam (debur ombak), angin, perempuan bernyanyi bersama, suara kayu bakar di pemanas ruangan dan dapur, serta Marriane yang memainkan piano. Hanya di akhir scene ada musik orkestra, lagi-lagi bukan sebagai soundtrack, namun adegan Héloïse nonton opera.

 

Dialog Singkat Pesan dan Nilai Kuat

Céline Sciamma adalah sutradara yang dikenal dengan film-film yang tidak bertaburan dialog begitu pun Portrait of Lady on Fire. Secara keseluruhan film feminis ini juga merepresentasikan penolakan kelas. Karakter sentral lain dalam film ini adalah Sophie maid (pembantu rumah tangga). Dia tidak berjarak dengan Héloïse sebagai majikan, juga dengan Marianne. Bahkan ada satu adegan Sophie dan Heloise tidur dalam satu tempat tidur, dan Marianne yang melukis Heloise dari pinggir tempat tidur.

Film ini menampilkan fakta sejarah pelukis perempuan, pada masa ini tak bisa melukis tubuh laki-laki secara terbuka. Gambaran film ini ruang publik dan ruang domestik jelas. Setting kehidupan ruang domestik seluruhnya perempuan, Héloïse, Marianne, dan Sophie berada di dapur termasuk saat membaca karya klasik kisah tragedi cinta klasik Yunani Orpheus dan Eurydice, dan main kartu. Ada perdebatan tentang akhir kisah ini di antara para karakter, dan terungkap juga di akhir film, ketika Marianne pergi. Beberapa adegan bila di-frame akan tampak seperti lukisan klasik, seperti kisah Pygmalion atau adegan Sophie, the maid seperti lukisan maid klasik Eropa abad ke-18.

Sebagai sutradara feminis, keseluruhan adegan bila dilihat frame by frame gambar akan tampak bagaimana feminisme dihadirkan. Bahkan dialog singkat pun mengungkapkan hal tersebut. Ketika Héloïse bertanya mengapa perempuan tidak melukis laki-laki telanjang, bukan alasan moral dan kesantunan, namun jawaban Marianne, “kebanyakan agar mencegah perempuan bisa menjadi hebat, tanpa pengetahuan anatomi tubuh laki-laki maka subjek besar tidak terjangkau kami (pelukis perempuan)”.

Adegan ruang publik hanya ada dua scene, di ruang opera dan ruang pameran lukisan. Di ruang-ruang itulah jumlah laki-laki banyak. Namun sekali lagi, frame adegan ketika Marianne berada di depan lukisan berbicara dengan seorang laki-laki terlihat dominasi space Marianne, namun kembali lagi ke kenyataan patriarki, ketika Marianne mengaku bahwa lukisan yang dimaksud itu yang melukis adalah Marianne namun ditulis atas nama ayahnya. Adegan menampilkan laki-laki sebagai ekspresi hadirnya patriarki juga muncul saat nakhoda perahu yang akan mengantarkan Marianne pergi tiba, dan berada di dapur. Setelah hampir dua jam alur cerita laki-laki ini hadir kembali, di awal dia hadir satu perahu dengan Marianne. Fungsinya jelas, transporter, dan sampai masa kini pun fungsi transporter memang masih dikuasai oleh laki-laki.

Sisi kemanusiaan ditampilkan representasi tajam tentang praktik hidup yang sangat dekat dengan perempuan. Sakitnya menstruasi dan aborsi yang dilakukan dengan cara tradisional. Ada juga tentang herbal semacam dedaunan yang bisa membuat orang fly.

Ketelanjangan adalah hal biasa dalam film Prancis. Tak ada pornografi. Tak ada adegan seks yang menstimulasi. Portrait of Lady on Fire adalah banyak lukisan, alam, orang-orang, sehingga layaknya karya lukisan maka tidaklah tercipta dengan instan. Dan seperti kebanyakan film Prancis, tak selalu berakhir happy ending, realis sesuai konteks zaman, di mana patriarki “ayah” tampil sebagai lambang kekuasaan walaupun sosoknya tak ada dalam film ini. Adalah Marianne yang menyebut ayahnya di dua kesempatan, sebagai pewaris bisnis dan sebagai nama lukisannya.

Meskipun kisahnya berat, ada juga lucu-lucunya, dan bagi perempuan Indonesia bisa mengerti, seperti membuat ramuan jamu, atau menggunakan bebatuan kecil cherrie stones yang dihangatkan dan ditempatkan di perut untuk mengurangi sakit saat menstruasi. Film yang indah dan artistik, meskipun tak diputar di bioskop Anda bisa menyaksikan dari link berbayar atau yang gratis.

Umi Lasminah

Arts enthusiast.
Umi Lasminah

Latest posts by Umi Lasminah (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.