“Profetik Balsem” Gus Mus

 

Judul Buku: Dimensi Profetik Dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan

Penulis: Abdul Wachid B.S.

Penerbit: Nuansa Cendekia

Cetakan: Pertama, Februari 2020

Tebal: 346 halaman

ISBN: 978-602-350-535-7

“Dalil-dalil” sastra profetik saya peroleh dari buku Maklumat Sastra Profetik karangan Kuntowijoyo. Dia memosisikan sastra sebagai ibadah dan memberikan arah realitas; apabila diniatkan sebagai sebuah representasi dari pemikiran keagamaan (teologis) dan kemanusiaan. Akan tetapi, sastra profetik tetaplah sastra, dengan segala ukuran dan nilainya. Historisitas Kuntowijoyo dalam membangun logika sastra profetik, sependek pengetahuan saya, senada dengan pendapat Abdul Quddus, sebagaimana yang ditulis Muhammad Iqbal dalam Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam. Dia mengatakan bahwa: “Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku yang telah mencapai tempat itu, aku tidak akan kembali lagi.” (Iqbal, cet.2, 2008).

Artinya, realitas yang “disasar” oleh sastra profetik bukan saja persoalan ketuhanan (transendensi) an sich, melainkan berbagai persoalan yang berkelindan dalam setiap gerak kehidupan, mulai dari persoalan kemanusiaan (humanisme) hingga urusan ekonomi, politik, dan kebijakan publik (liberasi). Dengan kata lain, narasi ketuhanan yang “dibumikan” menjadi hal ihwal kemanusiaan dan kebudayaan. Dari sanalah sastra profetik “memberi arah” realitas. Sastra profetik, meminjam istilah Kuntowijoyo, menjadi collective intelligence; simbol-simbol yang aplikatif dan melampaui rutinitas manusia secara umum.

Berdasar itu, ruang-ruang profetik kerap menjadi isu atau pandangan dunia yang menarik dalam “menggambar realitas” kekinian dan kedisinian. Setidaknya, dalam perpuisian K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) simbol profetik meruap cukup kentara sebagai sebuah repsons atas pergumulan estetik dan etiknya terhadap realitas. Abdul Wachid B.S. (Achid) dalam buku anyarnya, Dimensi Profetik Dalam Puisi Gus Mus: Keindahan Islam dan Keindonesiaan ini menyatakan bahwa profetisme tidak bisa dilepaskan dari hakikat transendensi (hlm. 130). Hal itu didasari atas ucapan istri kinasih Nabi Saw., Aisyah Ra., “kana khuluquhu al-Qur’an” (akhlak Nabi Saw adalah al-Qur’an). Sehingga, Achid berupaya membaca puisi Gus Mus melalui “kaca mata” profetisme (transendensi, humanisasi, liberasi) sebagai sublimasi atas nilai-nilai al-Qur’an.

***

Dalam pembahasan Achid, sudut pandang transendensi menjadi pola estetika Gus Mus dalam menulis sajak-sajaknya. Karena itu, setiap puisi Gus Mus dapat dicari rujukan teologisnya. Sebagai indikasi, Gus Mus selalu “menyifati” semua perkara kehidupan melalui dua kacamata; cinta dan kebenaran. “Cinta dan kebenaran memang tidak perlu ‘kata-kata indah’ sebab cinta dan kebenaran itu sendiri adalah keindahan.”

Keindahan yang berasaskan cinta dan kebenaran itulah membuat puisi Gus Mus menjadi sajak yang “tidak diindah-indahkan”. Sebagai sebuah karya sastra, puisi Gus Mus memberikan (juga menggambarkan) arah realitas yang sama sekali gelap menjadi lebih terang. Transendensi (dalam) puisi Gus Mus menyentuh persoalan hidup manusia secara langsung melalui pilihan kata atau frasa yang sederhana. Dengan kata lain, yang simbolik adalah realitasnya. Sehingga, bahasa “dibiarkan” menjadi denotatif.

Temuan lain Achid pada puisi Gus Mus adalah “ritme metafisik”. Ritme itu lahir melalui “ketidakteraturan tipografi” sehingga pada saat kita membaca satu sajaknya akan dimungkinkan sajak itu bisa dibaca dengan beragam aksen, tekanan nada, dan penjedaan pada saat dilakukan pemutusan frasa atau kalimat secara berbeda-beda.

 

Seporsi Cinta

(Diilhami oleh kekasih yang lapar)

 

Seporsi cinta

Tak habis dimakan

Berdua, sayang

Seporsi cinta

Bila tak habis dimakan

Dibuang sayang (hlm. 209-210)

Sajak yang termaktub dalam Gandrung (2000) bisa dibaca dengan penjedaan (ditandai dengan garis miring), yang pertama, “seporsi cinta/ tak habis dimakan berdua/ sayang.” Kata “sayang” dengan cara pembacaan demikian dapat dimaknai sebagai “jangan disia-siakan.” Pembacaan dengan penjedaan yang kedua: “Seporsi cinta tak habis dimakan berdua, sayang.” Pembacaan dengan setarikan napas ini menjadikan kata “sayang” lebih pasti maknanya, yaitu sebagai sapaan kepada “sang kekasih.” (hlm. 210).

Hal lain yang Achid temukan adalah tamsil (perbandingan, perumpaan) metafisik puisi-puisi Gus Mus yang menimbulkan asosiasi metafisik. Secara khusus dalam antologi Gandrung (2000), Gus Mus sering menggunakan judul puisi memakai bahasa Arab; “Al-‘Isyq”, “Hanien”, “Ilhaah 1” dan “Ilhaah 2”, Syauq.” Judul-judul itu menyiratkan wacana tasawuf/ mistik dalam perkembangan ruhani manusia.

Achid juga mengungkapkan dalam risetnya bahwa puisi-puisi Gus Mus menjadi salah satu upaya “keterlibatan” dirinya dengan realitas sebagai manusia dan hamba sekaligus. Oleh karena itu, Achid menilai puisi-puisi Gus Mus sebagai upaya kontekstualiasasi dimensi profetik yang menyentuh aspek ketuhanan, kemanusiaan dan eksistensi alam semesta. Karena penyair bagian dari masyarakat, maka lazim kiranya apa yang ditulis oleh Gus Mus menjadi simbol keresahan, kepedihan, kelakar, atau hal-hal yang lucu dalam kehidupan manusia. Meski sebagai kiai masyhur, dalam berpuisi Gus Mus tidak berupaya menasihati atau merasa “benar sendiri.” Sebaliknya, dia membangkitkan kesadaran manusia dengan narasi-narasi yang sederhana tetapi sarat makna.

Dalam konteks keindahan Islam dan keindonesiaan, untuk mempraktikannya, Gus Mus “mengharuskan” umat beragama, khususnya umat Islam, untuk mengenali dan memahami agamnya terlebih dahulu. Tidak mungkin pemahaman tentang kebangsaan (keindonesiaan) akan baik apabila pemahaman terhadap agamanya juga pincang (hlm. 279). Gus Mus menekankan bahwa agama adalah wasilah. Bahkan dalam puisinya, agama disebut sebagai “Kereta Kencana” yang akan membawa kedamaian dan keselamatan bagi siapa pun.

Agama dan budaya akan selalu berdampingan. Oleh sebab itu, sebagai wujud ukhuwah wathaniyyah, keduanya diharapkan menjadi simpul-simpul pemersatu dan simbol keberagaman. Gus Mus juga “mengajak” kita untuk selalu mencintai tanah air, sebagaimana sajaknya berikut: “Mana ada negeri sesubur negeriku?/ sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung/ tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung/ perabot-perabot orang kaya di dunia”/

Meski bernada satire dan mencerminkan kesedihan, sajak itu menandakan bahwa Gus Mus memiliki perhatian terhadap keberlangsungan hidup para petani, eksistensi tanah dan lain sebagainya. Nada puisi semacam itulah yang disebut Achid menjadi ciri “puisi balsem.” “Balsemnya” puisi Gus Mus mengakibatkan pembaca menuai efek relaksasi, satire, jenaka; “memungut” kembali sesuatu yang sia-sia dan tidak bermakna menjadi simbol yang unik. Bahasa awamnya “gosip” (digosok makin sip). Karena balsem hangat, maka membaca puisi Gus Mus terasa seperti sedang dipijat, agar keadaan tubuh menjadi lebih baik.

Wahyu Budiantoro
Latest posts by Wahyu Budiantoro (see all)

Comments

  1. wi gung Reply

    Kata ada doa

  2. Aprilia Reply

    Mantaf Mas Bos Wahyu

Leave a Reply to wi gung Cancel Reply

Your email address will not be published.