Proyek Menulis Cerita Erotis

“The Bride,” painted by Marcel Duchamp in 1912

 

Dalam kehidupan pemuda Lukmana, ada tiga hal yang dia benci secara permanen. Semuanya hasil peradaban manusia. Lelaki dengan tindik di lidah, juru tagih pinjaman online, dan lagu top forty.

Pemuda Lukmana tahu membenci adalah reaksi alamiah atas suatu kondisi yang tak sejalan dengan keinginannya, tidak sampai menimbulkan banyak keringat, namun bisa membawa dampak buruk di kemudian hari. Dan lagu hits adalah salah satu contoh nyata. Dari sana, kisah asmaranya dengan Yusvika karam saat sedang tenang-tenangnya berlayar di laut lepas.

Menurut analisis pribadinya, lagu-lagu itu terlalu bising, artistiknya payah, sampai-sampai merusak libidonya. Dengan kata lain, lagu-lagu itu membuat gairah seksualnya hancur. Itulah alasan utamanya.

“Sialnya mereka seperti bangkai, hidung yang rusak pun sanggup mengendusnya,” kata Lukmana saat kami berada di kedai susu sapi segar di samping lapangan tenis.

Aku menghubunginya seminggu yang lalu dan membuat janji bertemu  untuk membicarakan proyek menulis cerita erotis yang sudah kujanjikan akan diterbitkan buku. Kami membicarakan hal-hal kecil di sekeliling kami, dan pembahasan utama justru disinggung belakangan menjelang kami berpisah.

Tawaran itu sebenarnya kuberikan hanya karena kasihan melihat dia masih luntang-lantung saja di kampus tanpa pekerjaan jelas, dan terus mengaku diri sebagai penulis. Setidaknya dengan buku cerita esek-esek, aku ingin membantu mengangkat harga dirinya yang sekarang teronggok di selokan, tersumbat di bawah gorong-gorong bersama bangkai tikus dan tanaman eceng gondok. Tidak ada orang yang mau memandang bangkai tikus.

Kuakui aku pernah menyukai cerita pendek kawanku ini, Hakikat Persetubuhan Anjing, sebuah kisah sarkasme berlatar kompleks sel tahanan napi koruptor. Tapi cuma satu cerita itu yang pernah nongol di media. Selanjutnya aku tidak pernah melihat karyanya lagi. Dan dia mulai rajin menyapa redaktur cerpen, berlagak sok akrab, dan sering nge-like postingan Instagramnya. Tapi tetap tidak digubris.

Sudah tujuh cerita pendek yang sebelumnya dia kirimkan kepadaku dan minta diterbitkan. Bahkan dia berani membayar biaya produksi dengan menjual sepeda motornya. Namun tema-tema yang dibahas melulu birokrasi, memaki-maki pemerintah ataupun wakil rakyat.

“Ini momentumnya pas banget, eksekutif dan legislatif sedang berkolaborasi memainkan sirkus, rakyat pasti suka dengan buku saya dan omzetmu bakal melambung. Kamu bisa menonton blues di Royal Albert Hall,” kata Lukmana beberapa waktu lalu lewat telepon, seakan bisa menyakinkan aku.

Aku memilih menundanya. Hanya saja karena berkali-kali dia menanyakan nasib cerpen-cerpennya, aku menyarankan Lukmana untuk membuat cerita-cerita erotis saja yang akhir-akhir ini peminatnya memang lumayan banyak. Aku memberi gambaran pada Lukmana bahwa cerita-cerita erotis kini populer lagi, hanya saja tampil dengan gaya yang lebih elegan.

Aku tidak yakin dia punya keterampilan mendirikan cerita erotis yang halus, anggun, tidak menggebu-gebu, tapi secara esensi berhasil bikin pembaca terangsang dengan cara paling santun. Artinya terangsang tanpa ada dorongan untuk masturbasi. Sensasi semacam itulah yang diam-diam banyak dicari orang.

Namun itu bukan persoalan berat, kupikir aku bisa menyiasatinya. Aku punya penyunting semi penyair yang mau lembur demi melahirkan buku bagus. Dia siap mematikan ponselnya selama tujuh hari tujuh malam hanya untuk membongkar pasang cerita-cerita Lukmana.

Dengan begitu, kawan lamaku yang sudah dua kali pindah kampus sementara teman-teman seangkatannya sudah mengerek rumah tangganya tinggi-tinggi, punya peluang untuk hidup lebih bermanfaat.

Awalnya Lukmana menolak saranku, sempat menertawai bahwa semenjak lulus kuliah selera sastraku rendah dan hanya mementingkan bisnis belaka. Tapi karena penjelasanku, perlahan-lahan hatinya mulai terbuka, dia mau mencoba dan meminta tenggat waktu tiga bulan.

Selama mengobrol, aku sesekali melihat bapak-bapak latihan tenis. Ada jaring pembatas yang mengelilingi lapangan untuk menahan bola agar tidak terlempar keluar, namun orang-orang di dalam lapangan masih bisa terlihat dengan jelas. Pertandingan tenis kupikir cocok disaksikan sepintas lalu di sela-sela obrolan, sebab gerakannya hanya bolak-balik saja. Sama seperti kendaraan berlalu-lalang di jalan raya bisa menjadi objek pengalihan sesaat.

Lukmana merokok banyak sekali saat itu, sambil mencecap susu murni hangat tanpa campuran apa-apa. Rambutnya yang berombak kini tampak lebih panjang dari pertemuanku sebelumnya, sudah melewati bahu dan tidak diikat. Dia mengenakan kaus hitam dengan sedikit sobekan di bagian lengan, sementara celana jins biru gelap yang dipakainya tampak masih kelihatan baru. Sepatu yang pernah kuberikan lima tahun lalu selepas wisuda terlihat masih menempel di kakinya, aku sulit menjelaskan kondisinya.

Meski masih tinggal satu kota, aku sudah jarang bertemu dengan Lukmana karena kesibukan. Sore itu, kami meluangkan banyak waktu menceritakan aktivitas masing-masing, sambil sesekali menyinggung teman kuliah yang sekarang sudah hidup makmur di kampung masing-masing. Baru menjelang magrib kami mengakhiri obrolan dan berpisah. Aku membayar seluruh pesanannya.

Sampai batas waktu yang ditentukan sendiri sudah habis, Lukmana belum juga memberiku kabar apa pun soal proyek buku erotis. Basabasi, aku coba menanyakannya lewat pesan WhatsApp. Tidak lama kemudian Lukmana meneleponku, tetapi dia tidak merespons pertanyaanku dan justru melanjutkan obrolan asmaranya dengan Yusvika. Lumayan panjang, tapi aku masih mengingat poin-poinnya.

Tepat di hari ulang tahun Yusvika, kawanku menyiapkan kado istimewa berupa foto dirinya di kandang macan. Dia ingin menunjukkan kepada perempuan itu bahwa dia adalah lelaki pemberani dan dipastikan bisa mengayomi. Mengayomi, itu memang kata yang dia pakai. Dan gadis itu menyukai hadiah pemberiannya, lalu mengajaknya berjalan-jalan di kebun binatang yang sama.

Mereka berfoto di samping harimau dengan raut wajah keduanya jauh dari kemurungan. Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama karena sepulang dari kebun binatang mereka putus. Itu terjadi di kamar kos Lukmana. Persoalannya menurutku cukup sepele, mereka berebut tentang lagu yang mestinya diputar saat keduanya melangsungkan ciuman panjang.

Lukmana menyetel lagu yang ini, kemudian di tengah ciuman pacarnya menggantinya dengan lagu yang itu. Begitu seterusnya sampai akhirnya mereka benar-benar menghentikan ciuman dan memutuskan berdebat.

Yusvika pergi dan jatuh ke pelukan mahasiswa pecinta alam. Dari penjelasan Lukmana, tidak ada ciri-ciri menonjol dari pacar Yusvika yang baru, kecuali paham jenis daun yang bisa dimakan dan mana yang beracun, dia punya tindik di lidah.

Lukmana mengetahui fakta itu setelah mengajaknya bicara baik-baik secara dewasa. Dan mahasiswa pecinta alam justru mempersilakan kawanku bilamana mau menunggu sampai mereka putus, sebab hubungannya dengan Yusvika tidaklah serius karena perbedaan agama.

“Kau dengar, dia bilang seperti itu,” kata Lukmana kepadaku.

“Lalu apa tanggapanmu?” aku bertanya.

“Saat itu juga aku meludah di depannya dan berkata ‘lelaki sejati tak mungkin menjilat ludah sendiri’, setelah itu aku meludah lagi sebanyak tiga kali.”

“Menurutku, itu bisa dikembangkan menjadi cerita pendek, tapi mungkin terkesan agak mengada-ada. Tinggal bagaimana kamu menjelaskannya agar sedikit lebih masuk akal,” aku mencoba memberikan saran.

“Nggak juga, tinggal kuberi embel-embel true story. Selesai,” ucapnya.

Dua minggu sudah berlalu dari tenggat waktu yang dia janjikan, tapi aku tetap belum menerima naskah cerita esek-eseknya. Padahal aku berniat membantunya. Aku bahkan sudah berencana untuk tidak mengambil keuntungan terlalu banyak dari hasil penjualannya.

Sambil minum kopi, aku membuka email untuk mencari tujuh cerita pendek yang sudah pernah dia kirimkan. Lewat ponsel aku kembali membaca-baca ulang, tapi ceritanya tetap tidak berubah sama sekali, permasalahan yang diangkat itu-itu saja, dituturkan dengan terlalu apa adanya bahkan cenderung vulgar, nyaris tidak ada kandungan imajinasi. Bila memaksa untuk cetak kupikir sama saja bunuh diri, usaha penerbitan yang selama ini sudah kukelola bersama istriku akan hancur dalam sekejap.

Pada saat yang sama, tiba-tiba aku mendapat satu pesan singkat dari perusahaan pinjaman online. Mereka menanyakan apakah aku merupakan teman Lukmana, selanjutnya pesan itu meminta aku menyampaikan kepada yang bersangkutan untuk segera melunasi utang-utangnya.

Aku mencecap kopi dan termenung beberapa saat, tapi akhirnya aku meneruskan pesan tagihan itu kepada Lukmana. Seperti biasa, dia langsung meneleponku.

Pemalang, 2019

Sulung Pamanggih
Latest posts by Sulung Pamanggih (see all)

Comments

  1. Rian Reply

    Wow, permasalahan yang rumit. Menurutku endingnya susah di tebak. Asik!

  2. Anonymous Reply

    Kehidupan tak bermodal dengan penuh keegoisan.

  3. Era Reply

    Keren cerpennya!

  4. A Reply

    Saya suka

  5. Anonymous Reply

    Humornya kelas duh

    • Anonymous Reply

      I heard you paint the houses

  6. Inka Reply

    Berharap ada lanjutan, ternyata hanya sampai pada lukmana menelpon

  7. Anonymous Reply

    cerita yang menarik

  8. Gui Reply

    Sarkas yg halus xD

Leave a Reply to A Cancel Reply

Your email address will not be published.