Arya Penangsang, NasSirun PurwOkartun, dan Pemberontakan dalam Sastra

S. Sudjojono

1./

Ketika SMA, guru saya mata pelajaran Piwulang Agung menjelaskan sosok Arya Penangsang sebagai pemberontak yang mati oleh kesaktian kerisnya sendiri. Karena cara menjelaskan guru saya itu memukau, saya tertarik untuk serba sedikit mencari tahu tentang sosok pemberontak dari Jipang Panolan itu.

Memang, dalam Babad Tanah Jawi, dan babad-babad lainnya, seperti Babad Diponegara karya Pangeran Diponegoro, Babad Tanah Jawi (Galuh Mataram) Dr. Soewito Santoso, dan Serat Babad Tanah Jawi edisi prosa bahasa Jawa versi J.J. Meinsma, Arya Penangsang digambarkan sebagai perongrong kuasa Pajang. Wataknya serba buruk: pemarah, pendendam, tidak mau mendengar nasihat orang lain, dan semisalnya.

Wacana itu kemudian terbangun dengan sangat kokoh. Selain melalui institusi pendidikan, wacana itu sampai kepada khalayak melalui karya sastra (baca: novel). Banyak sekali pengarang-pengarang yang mengangkat tema tentang Arya Penangsang. Namun, karena mereka berkiblat pada babad-babad, penceritaan tentang sosok Arya Penangsang pun tidak jauh beda dari keterangan guru saya itu—hitam-putih dan penuh petuah di sini-sana.

Gamal Komandoko, dalam Jaka Tingkir, misalnya, menggambarkan Arya Penangsang sebagai sosok yang tinggi hati dan merasa sangat sakti. Karenanya, ia tak segan-segan menyingkirkan siapa pun yang dirasa menghalanginya untuk menguasai tahta Demak. Bahkan, tak puas saur pati pada Sunan Prawoto, ia juga menghabisi Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat.

Novel Wawan Susetya, Pajang: Memudarnya Senyuman Dewan Wali Sanga, juga mengusung wacana yang sama dengan mengisahkan adegan ketika Arya Penangsang terbahak-bahak begitu mengetahui para pengikutnya berhasil membunuh suami Ratu Kalinyamat tersebut. Arya Penangsang lantas disebut sebagai klilip sebab dianggap mengganggu keamanan kadipaten pimpinan Jaka Tingkir.

Kemudian, dalam Keris Setan Kober, S. Trisasongko Hutomo mengisahkan kebengisan Arya Penangsang dan laskarnya yang menyerang Demak ketika seisi kerajaan sedang dalam usaha menaklukkan Blambangan. Dalam penyerangan tersebut, Arya Penangsang membawa kehancuran yang mengerikan dan sangat merugikan karena membakar galangan kapal Demak beserta orang-orangnya hingga arang kranjang.

Nafsu Arya Penangsang untuk menjadi penguasa tanah Jawa pun dengan sangat jelas diceritakan oleh SH. Mintardja dalam Suramnya Bayang-Bayang. Dalam cerita silat 34 jilid tersebut, Arya Penangsang diceritakan sebagai pemberontak yang ngotot menuntut untuk menjadi penerus takhta Demak.

Bahkan, pemberontakannya tidak berhenti begitu Arya Penangsang mati. Tidak selesai meski cerita telah usai. Dalam serial lanjutannya, Sayap-Sayap Terkembang dan Api di Bukit Menoreh, SH. Mintardja menceritakan pengikut Arya Penangsang yang meneruskan pemberontakannya dalam rangka meneruskan cita-cita junjungannya itu.

Dengan bangun wacana tersebut, tidak aneh jika Maulana Syamsuri kemudian menunjukkan sifat jahat dan pembangkang Arya Penangsang sejak dari judul novel pendeknya: Arya Penangsang Balela!

2./

Wellek dan Warren, dalam Teori Kesusastraan, mengatakan bahwa selalu ada tingkat kejenuhan tertentu yang menuntut sebuah kode baru. Tingkat kejenuhan tersebut lantas membawa dampak pada munculnya keinginan, baik pada pembaca ataupun pengarang, untuk membuat wacana tandingan, yang bahkan bertentangan dengan pendahulunya.

Pada titik itulah NasSirun PurwOkartun, pengarang asal Purwokerto plus tukang gambar kartun, menuliskan lima jilid novel tentang Arya Penangsang dengan sangat berbeda. Ia mendekonstruksi karakter Arya Penangsang dari sifat dan wataknya yang serbaburuk dan jahat.

Dalam novel-novelnya, Arya Penangsang, sebagai pihak yang terpinggirkan,  diberi tempat untuk bersuara. Sosoknya yang selama ini berada pada posisi marginal dari pusaran sejarah ditempatkan sebagai seorang protagonis.

Lebih dari itu, tidak seperti novel-novel lainnya dan babad-babad, Arya Penangsang tidak digambarkan dengan stereotip dan stagnan, melainkan dimunculkan perkembangan psikologis dan kejiwaannya.

Memang, Joko Santosa pun melakukan usaha serupa. Dalam Penangsang Memanah Rembulan, sama seperti NasSirun PurwOkartun, Joko Santosa menggambarkan sifat Arya Penangsang yang welas asih, kalem, dan tidak berkeinginan menduduki takhta Demak meski ia berhak.

Namun, NasSirun PurwOkartun melangkah lebih jauh dengan mendekonstruksi karakter orang-orang Pajang. Penceritaan Jaka Tingkir adalah contohnya, yang tidak digambarkan dengan segala sifat baik yang selama ini melekat padanya. Penggambaran sosok Jaka Tingkir tidak sesuci seperti yang ada dalam babad-babad dan novel-novel lain.

Bahkan, diceritakan bahwa Jaka Tingkir sendiri, selaku Sultan Pajang, sebenarnya tidak berani menghadapi Arya Penangsang sehingga bermain muslihat licik dengan memancing kemarahannya dengan mengirimkan surat tantangan yang melecehkan dan provokatif setelah menggunting telinga pekatik Gagak Rimang, kuda kesayangan Arya Penangsang.

NasSirun PurwOkartun juga menyuguhkan cerita baru terkait peristiwa-peristiwa yang berlangsung selama perseteruan antara Arya Penangsang-Jaka Tingkir. Pembunuhan Sunan Prawoto adalah salah satu contohnya. Dikisahkan, pembunuh Sunan Prawoto bukanlah Rangkud, suruhan Arya Penangsang, melainkan orang lain suruhan Sultan Pajang yang telah datang sebelum Rangkud tiba dan berhasil melarikan diri.

Lebih dari itu, NasSirun PurwOkartun mencoba menafsirkan kejadian-kejadian heroik Sultan Pajang. Salah satunya adalah ketika Sultan Pajang menaklukkan para buaya. Dalam novelnya, NasSirun PurwOkartun mengubah peristiwa itu menjadi kebejatan Sultan Pajang muda yang menghamili gadis kembang desa yang kemudian ditinggal begitu saja secara tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut tentu sangat menarik karena kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa yang selama ini disampaikan dengan begitu heroik tidak dibaca dengan telanjang, melainkan diposisikan sebagai pasemon yang musti ditafsirkan melalui pendedahan simbol-simbol yang semiotis—ingat konotasi makna kata buaya!

Dalam menuliskan novel-novelnya itu, NasSirun PurwOkartun mengaku berangkat dari sebuah pertanyaan: Apakah benar murid Sunan Kudus yang terkenal saleh sekaligus panglima dewan Walisongo merupakan pemberontak? Keheranan itu mengendap begitu lama dan novel-novelnya merupakan wujud ikhtiarnya mencari jawab.

Cerita tentang Arya Penangsang sendiri ia ketahui dari lakon ketoprak tobong yang sering ditontonnya semasa SD. Dari pengalaman itulah, pada tahun 2010 novel pertamanya terbit, Penangsang: Tembang Rindu Dendam. Pada 2011, terbit Penangsang: Kidung Takhta Asmara. Jilid ketiganya, Penangsang: Tarian Rembulan Luka, terbit pada 2013. Sedangkan Penangsang: Lukisan Sembilan Cahaya, jilid keempatnya, terbit pada 2015. Penangsang: Sabda Kasih Sayang, jilid kelima menyusul pada bulan April lalu.

3./

Jika melihat sejarah dan perkembangannya, sastra Indonesia selalu menunjukkan gejala pencarian akan kebaruan. Hal itu dapat dilihat dari berbagai usaha yang dilakukan para pengarang melalui karyanya. Bahwasanya, mereka selalu meneroka berbagai kemungkinan untuk menemukan yang berbeda dari yang sebelumnya.

Para pengarang senantiasa mencari kebaruan dalam bentuk, isi, gaya, dan ideologi. Pencarian tidak pula sebatas pada batas artistika, melainkan juga dalam estetika. Roestam Effendi dan Mohamad Yamin, misalnya, mencoba mencari gaya yang berbeda dari aturan syair Melayu lama. Pengarang-pengarang Balai Pustaka menggugat adat dan budaya setempat. Pengarang-pengarang Pujangga baru, khususnya Sutan Takdir Alisyahbana, mencoba menyebarkan pandangannya tentang budaya dan kesenian.

Daftar itu masih bisa diperpanjang lagi jika Chairil Anwar, WS. Rendra, Ajip Rosidi, Danarto, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Budi Darma, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, dan pengarang-pengarang selanjutnya diikutsertakan.

Namun, yang pasti adalah bahwa sastra selalu menunjukkan gejala pemberontakan. Itu terjadi, selain karena adanya kejenuhan yang pasti muncul, seperti telah disinggung di atas, juga karena posisi sastra itu sendiri yang, seperti dikatakan A. Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra, berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.

Pemberontakan dalam rangka pencaraian akan yang berbeda dan penerokaan kemungkinan tersebut akan terus berlanjut tanpa usai. Saat ini, apa yang dilakukan NasSirun PurwOkartun menunjukkan hal tersebut. Dekonstruksinya atas kisah Arya Penangsang dan Jaka Tingkir menyentak kita.

Dari hal itu, kita menjadi sadar dan tahu bahwa sastra memang selalu merupakan pemberontakan—pencarian yang bermula dari kejenuhan dan dijawab dalam sebuah penawaran. Maka, karena pemberontakan-pemberontakan itu, sastra akan terus hidup. Sastra tidak akan berhenti pada apa yang sudah menjadi kesepakatan dan terus menawarkan kegelisahan-kegelisahan. Barangkali seperti itu.

Mlangi, 2019

Syafiq Addarisiy

Belajar di PP. Assalafiyyah dan Jurusan Sastra Indonesia UNY. Bergiat di Komunitas Susastra dan Kelompok Melempar Jala. Dapat dihubungi melalui surel: addarisiy13@gmail.com
Syafiq Addarisiy

Leave a Reply

Your email address will not be published.