Bahasa Indonesia dari Telinga Asing

 

Judul              : Ajaib, Istimewa, Kacau: Bahasa Indonesia dari A sampai Z

Penulis           : André Möller

Penerbit          : Kompas

Cetak              : Pertama, 2019

Tebal              : 173 halaman

ISBN               : 978-623-241-021-3

Ada dua kasus bahasa yang cukup menarik datang dari dua selebritas. Penyanyi Maudy Ayunda mengaku tidak fasih menulis dalam bahasa Indonesia karena sejak kecil belajar di sekolah berpengantar bahasa Inggris (Kompas, 24 April 2019). Menulis dalam bahasa Inggris sangat jauh lebih mudah. Katanya, “Kalau saya menulis dalam bahasa Indonesia, sepertinya kalimatnya berantakan parah.” Meski kabar lebih menekankan dalam bahasa tulis, sangat mungkin dan wajar bahasa tutur Maudy lebih bebas hambatan dalam bahasa Inggris.

Kasus kedua datang dari ibu sekaligus penyanyi Indonesia yang bermukim di Prancis, Anggun C. Sasmi, yang berbangga karena putrinya, Kirana Cipta Montana Sasmi, bisa berbahasa Indonesia. Anggun mengatakan, “Anakku pintar lho (bicara bahasa Indonesia) dan itu bikin bangga banget.” Anggun membiasakan Kirana menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Seperti saat meminta sesuatu, Kirana harus mengajukan dengan bahasa Indonesia (Suara Merdeka, 4 Juli 2019).

Maudy jelas masih seorang Indonesia, tapi harus menghadapi “keterasingan” karena ketidakbiasaan. Sejak belia, bahasa Inggris terbiasa dikudap sebagai bahasa akademik bahkan mungkin bahasa komunikasi urban. Dalam kasus Anggun, “keterasingan” terasa lebih kompleks terkait dengan keterpisahan geografis, identitas kultural, kewarganegaraan, sekaligus keterhubungan harian. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang “asing” meski Kirana jelas memiliki separuh darah (asali) Indonesia di tubuh dan harus dilegalkan dengan “kebi(a)saan” berbahasa Indonesia.

Di buku Ajaib, Istimewa, Kacau: Bahasa Indonesia dari A sampai Z (2019) garapan André Möller, “keterasingan” secara tidak langsung dijelmakan dalam dua sifat yang menjadi judul esai pertama “Aneh nan Ajaib” dari 26 esai tentang bahasa Indonesia yang dirancang dari kata-kata berawalan 26 abjad. Kecuali sampai di Q memang pembaca tidak bertemu esai. André mengatakan, “Harus diakui tidak banyak kata yang berawalan q dalam bahasa Indonesia, dan oleh karena itu bab ini mesti berakhir sebelum berawal. Harap maklum.”

Menarik bahwa buku digarap oleh seorang Swedia yang lebih dulu dikenali lewat kamus Swedia-Indonesia, Indonesia-Swedia, buku Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar, dan kolom-kolom “Bahasa” di harian Kompas. Kekariban dengan (bahasa) Indonesia justru dialami tidak sengaja. Pada 1995 di usia 20 tahun, André dan temannya berencana pelesir ke Australia dan biro perjalanan merekomendasikan untuk mampir di Indonesia (Bali). Maka berbekal “buku kecil berisikan frase-frase pendek dalam bahasa Indonesia yang hendak saya pelajari saat dalam saat di pesawat”, negeri yang benar-benar asing berusaha dikenali.

André mengingat “anehnya bahasa” orang-orang saat mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, “Sungguh aneh dan ajaib bahasa ini! Kala itu kemungkinan besar bahasa yang saya dengar adalah baik bahasa Indonesia maupun bahasa Bali semuanya sama, dan semuanya benar-benar lain daripada yang pernah saya dengan sebelumnya!” Bahasa yang dianggap aneh dan dipersepsikan mustahil dikuasai justru awal-awal disampaikan oleh sebenar-benar penutur, “…penting kesan pertama seorang wisatawan ketika dia mendarat di Indonesia, dan di sini orang seperti sopir taksi, pelayan di toko swalayan, pramugari, dan pembersih kamar mandi memiliki peran amat besar.”

 

Keminggris (Lagi)

Sengaja memberi penjelasan arti kata pada setiap judul dari KBBI dan Tesamoko, André memang ingin memantik pembaca untuk “menikmati” kedua buku setebal bantal daripada beralasan agar buku lebih tampak sebagai kumpulan tulisan ihwal bahasa. Pilihan ini pun secara tidak langsung menunjukkan banyak kata kurang dikenali bahkan tidak dikenal sama sekali karena tidak diketahui dan sangat jarang dituturkan. Misalnya, Tesamoko mengartikan sakti dengan jaduk, mandraguna, kosen, weduk, makbul, mangkus, manjur, tokcer, berpuaka, bertuah. Berapa kata yang kita akrabi? Tentu, hal ini juga semacam ironi yang diresahkan Andre. Karena kepopuleran, banyak kata-kata asing yang sah masuk KBBI, seperti kes (tunai), kensel (batal, tunda), skedul (jadwal).

Melesatnya bahasa Inggris sebagai bahasa pekerjaan, pergaulan, dan ketrendian hidup yang bahkan tidak lagi membedakan kelas sosial penutur jelas dibahas. André pernah menantang diri dan istri membeli kopi es (bukan ice coffee) di kedai kopi pusat perbelanjaan dan sejenisnya yang mayoritas pelanggan dan pegawai orang Indonesia. Kita cerap dalam esai “Cukup”, “Saya berulang kali mencoba memesan kopi es di tempat seperti ini, terakhir kali di Bandara Adisucipto di Yogyakarta belum lama ini, tapi pelayannya tidak pernah dapat menangkap maksud saya. Saya ulangi lagi. Dan ulangi lagi. Akhirnya air mukanya menyala seolah mendapat ilham: “Oh, ice coffe, Pak?” Lha ya, kopi es. Nah, sekarang kalian barangkali berpikir bahwa logat bule sayalah yang membuat pelayan-pelayan itu ragu-ragu, tapi saya juga pernah minta istri saya (yang notabene seratus persen orang Indonesia dan tidak menderita logat bule) memesan kopi es. Hasilnya pun sama. Cuma, dia lebih malu daripada saya.”

Pada awalnya jelas nasionalisme bahasa dibentuk oleh situasi diskriminatif dan ketertindasan atas nama kebangsaan. Soedjatmoko (1996) mengatakan bahwa bahasa Indonesia terbukti menggalang perjuangan dan kekuatan antikolonialisme, menjadi bahasa politik sebagai pernyataan sikap merdeka, menjadi bahasa nasional untuk urusan bernegara, dan memperantarai pergaulan antarsuku. Bahasa Indonesia menempatkan para penuturnya dalam satu kelas yang setara meski dalam penguasaan ilmu, pengetahuan, dan teknologi, bahasa Indonesia masih kalah dengan dominasi bahasa Inggris.

Malu kepada seorang asing yang ternyata lebih mencintai sekaligus tertarik bahasa Indonesia, mungkin bisa jadi alasan realis meski rapuh untuk lebih mengakrabi bahasa Indonesia. Terutama kaum muda yang sering dianggap terpapar wabar keminggris, tentu memiliki rancangan “nasionalisme bahasa” dengan cara serta persepsi berbeda. Apakah Maudy yang masih berkewarganegaraan Indonesia, membanggakan Indonesia dengan prestasi akademik di luar negeri, dan menulis buku anak berbahasa Inggris untuk misi moral, literasi, pendidikan di Indonesia mesti dituduh nggak nasionalis!

Mencintai bahasa Indonesia sepertinya harus teralami dari dalam, dari ketakjuban dan rasa ingin tahu selayaknya dibabarkan André Möller lewat buku ini. Tak perlu kita perlu menjadi orang asing dulu untuk optimis dan bangga berbahasa Indonesia, tho? Bahasa Indonesia itu garib, kelesah, monumental, jempolan, transenden, dan tahkik lho. Buktikan saja, deh!

Setyaningsih

Latest posts by Setyaningsih (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.