
Maria
maria, matahari separuh terbuka, dan aku tak ingat siapa
atau sejak kapan matahari diberikan wajah untuk berduka
seperti di sini, tak ada warna apapun
hanya getaran kecil berbeda, berulangkali
sampai padaku, sampai pada ketelanjanganku
yang tak pernah dicapai matahari
tempat manusia pertama tinggal
setelah kehilangan rumahnya
adakah kuning telah susut
dunia ini gila. semua orang tahu itu
dan semua orang ragu-ragu menyebutnya
aku menulis baris-baris ringan buatmu
agar matamu tak memberat saat gelap
melayang-layang di kamarmu. gambar-
gambar matahari, bunga matahari
wajah-wajah, kesepian meramai
biru prusia
doa seekor gagak
Putih Pagi
apa arti pagi bagi
melati. tak sampai cahaya
menyentuh basah kelopaknya
memberi nama pada gerak
lain di bawah sulurnya
daun-daun mencari-
cari putih wanginya
apa arti wangi bagi
pagi. mekar tak berkelopak
menyentuh bening mimpinya
memberi warna lain
di dalam gerak
hari-hari mencari-
cari tidur hijaunya
Pensil Warna
merah mencari wanginya. kuning mencari bunyinya hijau milik tetumbuhan. langit tergesa menampung segala bentuk biru. hitam membayangi segala tepi
di atas kertas. satu dunia terbuka menemukan satu sama lain dalam gelombang daun-daun, matahari, bunga-bunga, juga yang mulai merayap dari gelap
adalah putih, bersendiri di dalam kotak warna menemu rupa tertentu yang tak dapat dijangkau mata di lembar berikutnya, di lembar berikutnya
Dari Divya
untuk Divya
aku tahu tempat ini tapi aku tak ingat
sempat melihat di mana
barangkali di mimpiku
atau di ingatan saat aku
berada di dalam perut ibu
sementara
di sana
seorang anak memberi nama
pada bunga. sebuah taman
belum dilihat dunia. mekar
di agama kecilnya
di sini
aku kehilangan sesuatu
yang terus menerus
aku cari
melalui bahasa
- Puisi Abed Ilyas - 10 February 2026
- Puisi Abed Ilyas - 27 February 2024
