Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar dan Puisi “Di Blok Apa?” Karya Remy Sylado: Hubungan Intertekstual yang Mengejutkan

pixabay.com

Sebuah puisi lahir dari rahim pemikiran, pengalaman, keinginan, imajinasi, peristiwa, dan atau hasil penginderaan penyairnya. Dalam hal menuangkan ide-idenya itu, si penyair, baik secara sadar ataupun tidak, secara sengaja ataupun tidak, kadang-kadang dipengaruhi dan atau diilhami oleh sebuah atau beberapa buah karya yang sudah ada. Entah itu sebagai reaksi persetujuan, penolakan, pembelokan ide, pengambilan sebagian, atau pengungkapan kembali dengan visi yang berbeda. Karya yang mengilhami atau melandasi sebuah karya lain itu disebut hipogram, sedangkan hasil karya dari proses itu disebut teks transformatif.

Dalam hal ”ilham-mengilhami” tersebut, muncullah teori intertekstualitas. Sebenarnya, pendekatan intertekstual diilhami oleh gagasan pemikiran Mikhail Bakhtin, seorang filsuf Rusia yang mempunyai minat besar pada sastra. Menurut Bakhtin, pendekatan intertekstual menekankan pengertian bahwa sebuah teks sastra dipandang sebagai tulisan sisipan atau cangkokan pada kerangka teks-teks sastra lain, seperti tradisi, jenis sastra, parodi, acuan atau kutipan. Pada perkembangan selanjutnya, pendekatan intertekstual tersebut dipopulerkan oleh Julia Kristeva (Worton dan Still, 1990: 1). Kristeva berpendapat bahwa setiap teks terjalin dari kutipan, peresapan, dan transformasi teks-teks lain. Sewaktu pengarang menulis, pengarang akan mengambil komponen-komponen teks yang lain sebagai bahan dasar untuk penciptaan karyanya. Semua itu disusun dan diberi warna dengan penyesuaian dan jika perlu mungkin ditambah supaya menjadi sebuah karya yang utuh. Jadi, teori ini merujuk pada pemaknaan sebuah karya sastra (dalam esai ini mengkhususkan diri pada puisi) dengan cara membandingkan dengan karya sastra lain yang menjadi hipogramnya atau yang ”mengilhaminya”.

Dunia perpuisian Indonesia pun ternyata tak lepas dari hubungan intertekstual ini. Salah satu contoh dari sekian banyak contoh hubungan intertekstual itu adalah adanya keterkaitan yang mengejutkan antara puisi “Aku” karya Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi, dan puisi “Di Blok Apa?” karya Remy Sylado, salah seorang pencetus puisi mbeling tahun 1972 (Puisi Mbeling, Remy Sylado, 2004: xii).

Gerangan apakah yang mengejutkan itu? Mari kita simak selengkapnya kedua puisi yang dimaksud.

AKU

Kalau sampai waktuku

’Ku mau tak seorang ’kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Deru Campur Debu, 1959: 7)

DI BLOK APA?

Kalau

Chairil Anwar

binatang jalang

Di blok apa

tempatnya

di Ragunan?

(Puisi Mbeling Remy Sylado, 2004: 14)

Anda tersenyum simpul di antara keterkejutan, bukan? Jangan malu-malu, tersenyumlah karena senyum itu ibadah.

Memang, ada perbedaan sudut pandang di sini. Setidaknya, Remy Sylado yang dewasa itu mengubah dirinya jadi seorang yang lugu. Karena keluguannya itulah ia menjadi lugas dalam memaknai frase ”binatang jalang” dari larik ”aku ini binatang jalang”. Agar “berbau” ilmiah, sebut saja denotasi sebagai dasar pemaknaan Remy dan konotasi untuk Chairil. Konotasi yang dibangun Chairil melalui majas metafora boleh jadi merupakan wujud semangat pemberontakannya yang penuh vitalitas. Pemberontakan yang dimaksud kemungkinan ditujukan pada “Pujangga Baru”, sebuah majalah yang didirikan dan dipimpin Sutan Takdir Alisyahbana, yang lebih dahulu eksis di kancah perpuisian Indonesia (para penyair yang karya-karyanya dimuat dalam majalah itu kemudian dinamai Angkatan Pujangga Baru). Bisa juga merupakan motif pantang menyerah dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Sementara itu, Remy juga sebetulnya melakukan hal yang sama, yakni memberontak terhadap karya-karya puisi yang terbit di majalah Horison, sebuah majalah yang dikelola H.B. Jassin, satu-satunya majalah sastra yang merupakan barometer mutu sastra Indonesia waktu itu.

Chairil (dalam Esten, 1990: 13) pernah berkata, “Sesudah mana mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Penghargaan, Cinta dan Dendam Manusia. Kata ialah Kebenaran!!!” Dengan demikian, lanjut Esten, Chairil menempatkan kata pada kedudukan tersendiri. Kedudukan justru pada maknanya, bukan pada wujud lahirnya. Ia menempatkan kata pada kedudukan yang amat penting, melalui makna yang terkandung di dalamnya.

Pemberontakan Chairil terhadap Pujangga Baru merupakan pemberontakan estetika, pemberontakan terhadap konvensi-konvensi susastra (lama) yang melilit perpuisian Indonesia saat itu, yakni membebaskan puisi dari keteraturan rumus-rumus rima, jumlah larik tiap bait, serta bunga-bunga bahasa yang melankolis. Bagi Chairil, yang terpenting adalah makna. Sebagai salah satu bukti dari pemberontakan itu adalah judul yang ia pilih untuk sebuah buku antologi puisi yang diterbitkan bersama kedua kawan seangkatannya, Asrul Sani dan Rivai Apin, yaitu Tiga Menguak Takdir (Balai Pustaka, 1950). Kata ketiga dari judul itu sengaja dibuat ambigu: takdir sebagai “yang sudah lebih dahulu ditentukan oleh Allah; keputusan Tuhan”, yakni sebagai pencerminan jiwa mereka bertiga dalam hal mencoba menguak, memahami, dan menghayati misteri kehidupan manusia; atau upaya mereka bertiga untuk menghadapi eksistensi Takdir, tokoh Angkatan Pujangga Baru, yakni Sutan Takdir Alisjahbana.

Di sisi lain, pemberontakan Chairil terhadap penjajah dengan menyimbolkan dirinya (baca: rakyat Indonesia) sebagai binatang jalang. Sifat-sifat binatang jalang itu antara lain susah ditaklukkan (’Ku mau tak seorang ’kan merayu), tak kenal rasa sedih/tangisan (Tak perlu sedu sedan itu), tak kenal rasa takut (Biar peluru menembus kulitku), bersifat menyerang untuk merebut yang diinginkannya—kemerdekaan—(Aku tetap meradang menerjang), tak kenal rasa sakit (Luka dan bisa kubawa berlari), tak kenal aturan—yang dibuat penjajah—(Dan aku akan lebih tidak perduli), dan memiliki semangat hidup yang tinggi (Aku mau hidup seribu tahun lagi).

Akan halnya Remy, ia mewakili ”penyair-penyair kelas pinggir” yang karya-karyanya susah menembus majalah Horison pimpinan H.B. Jassin. Horison waktu itu dinilai sebagai satu-satunya barometer dunia sastra Indonesia. Bahkan  ada anggapan bahwa seorang sastrawan belum sah sebagai sastrawan jika belum berhasil menembus Horison (Puisi Mbeling, Remy Sylado, 2004: xii).

Sangat mungkin, ada beberapa motif Remy yang melatarbelakangi puisi “Di Blok Apa?” Pertama, main-main, sekadar bercanda, atau membuat parodi dengan maksud agar pembaca tertawa; kedua, menyindir H.B. Jassin yang selalu membahas karya-karya sastra yang diterbitkan Horison, di antaranya karya Chairil tersebut. Saking alerginya dengan majalah pimpinan H.B. Jassin itu, Remy tak pernah mengirimkan karya-karyanya ke majalah tersebut (Puisi Mbeling, Remy Sylado, 2004: xvi). Untuk mewadahi karya-karya seniman yang tidak tertampung Horison, Remy kemudian memimpin penerbitan majalah Aktuil. Salah satu rubrik dalam majalah itu bernama puisi mbeling. Tokoh-tokoh yang turut mendukung gerakan puisi mbeling di antaranya adalah Jeihan, Seno Gumira Adjidarma, Abdul Hadi W.M., tiga bersaudara Massardi (Noorca, Yudhistira, dan Adi), Efik Mulyadi, Kurniawan Junaedi, dan Edy Herwanto; ketiga, menggugat ”kepausan” H.B. Jassin yang tidak pernah membicarakan karya-karya penyair yang menurutnya “tidak memiliki stilistika yang baku”. Padahal, sekadar menyebut contoh, Remy jelas-jelas termasuk sastrawan yang banyak melahirkan karya-karya bermutu, di antaranya novel Ca Bau Kan yang sudah ditransformasikan ke dalam layar perak dan novel Kerudung Merah Kirmizi yang mendapat hadiah sastra Khatulistiwa. Sementara itu, Yudhistira mendapat anugerah karya fiksi terbaik melalui novelnya Arjuna Mencari Cinta (1977) yang kemudian ditransformasikan oleh Ahmad Dhani lewat lagu dengan judul yang sama, kemudian dinyanyikan band yang didirikannya, Dewa 19. Akan halnya Abdul Hadi W.M., ia mendapat penghargaan SEA Write Award pada tahun 1985 atas antologi puisinya yang berjudul Anak Laut Anak Angin. Ia juga mendapat anugerah seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pokok persoalan “binatang jalang” yang didenotasikan Remy adalah kesengajaan yang bertendensi, bukan ketidaktahuan atau keluguan yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, motif parodi dan sentilan terhadap ”binatang jalang” adalah kecemburuannya terhadap dominasi para penyair, terutama yang dianakemaskan, juga sentilannya terhadap yang menganakemaskan itu, yakni H.B. Jassin. Adanya rujukan motif ini jelas terlihat bila membaca puisi mbeling lainnya, karya Mahawan, seperti yang dapat disimak berikut ini.

TEKA-TEKI

saya ada dalam puisi

saya ada dalam cerpen

saya ada dalam novel

saya ada dalam roman

saya ada dalam kritik

saya ada dalam esei

saya ada dalam w.c.

siapakah saya?

Jawab: h.b. jassin

Bagaimana? Jelas bukan? Ya, semangat pemberontakan puisi mbeling mendobrak konvensi-konvensi estetika yang dipatenkan H.B. Jassin menggelora pada penyair-penyair “kelas pinggir” asuhan Remy ini. Bahkan, penyair Sapardi Djoko Damono mengapresiasi kepenyairan mereka seperti yang diungkapkannya berikut ini.

“Puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama dalam masa perkembangannya sebagai sastrawan. Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat segera dimuat… Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah ‘mapan’ (1983: 90).”

Demikianlah, pada akhirnya semuanya diserahkan kepada masyarakat penikmat sastra untuk menilai sebuah karya. Setidaknya, dapat dicatat bahwa Takdir memiliki prinsip dalam bersastra, yakni sastra bukan sekadar untuk seni, melainkan juga untuk kebermanfaatan intelektual dan pencerdasan masyarakat. Ini dibuktikannya dalam novel Layar Terkembang. Sementara itu, Chairil menyerukan semangat dengan vitalitas yang tinggi, membangkitkan kesadaran rakyat untuk berjuang merebut kemerdekaan. Silakan baca kembali puisinya yang berjudul “Persetujuan dengan Bung Karno” dan “Diponegoro”. Kesadaran akan rasa kebangsaan yang meledak-ledak itu memang akhirnya meledak pada 17 Agustus 1945. Akan halnya Remy, dalam main-mainnya, ia sesungguhnya serius mencemooh ketimpangan-ketimpangan yang terpampang. Tidak hanya dalam khazanah sastra, tetapi meluas ke berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini tercermin dalam puisi-puisinya, seperti “Lebih Baik Mati Muda”, “Madah yang Tertindas Namun Tak Binasa”, dan “Kota Kita”.

Yang jelas, baik Chairil maupun Remy, sama-sama “binatang jalang yang terbuang”. Chairil terbuang dari Pujangga Baru, sedangkan Remy terbuang dari Horison.

Sebagai penutup, jika Chairil masih hidup, mungkin ia akan berkata pada Remy, “Remy, adikku…, sesama binatang jalang kita mesti tahu, tak perlu sedu sedan itu!”

Sekian

 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil. 1959. Deru Campur Debu. Jakarta: Pembangunan.

Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Moderen: Beberapa Catatan. Jakarta: PT Gramedia.

Esten, Mursal. 1990. Sastra Indonesia dan Tradisi Subkultur. Bandung: Angkasa.

Sylado, Remy. 2004. Puisi Mbeling Remy Sylado. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Worton, Michael dan Judith Still. 1990. Intertextuality and Practices. New York: Manchester University Press.

Baren Barnabas

Pengelana nusantara, pencerdas bangsa, pecinta bahasa dan sastra Indonesia.

Comments

  1. Anonymous Reply

    ah keren

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya.

  2. Anonymous Reply

    apik, aku jadi lebih paham.

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan memahami tulisan saya.

  3. Anonymous Reply

    Super keren….materi Pak Sumanto diluar nalar….

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Oh, ya, maksudnya mungkin Prof. Dr. Suminto A. Sayuti. Beliau Guru Besar di UNY.

  4. Aden Allen Reply

    Mantap sekali tulisannya. Saya banyak mengambil manfaat darinya. Terima kasih.

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Alhamdulillah, setidaknya satu tujuan saya tercapai.

  5. Zarra Z. Reply

    Makasih, bahasa & bahasannya bagus!

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Alhamdulillah, semoga bermanfaat!

      • Anonymous Reply

        Bagus Kak

  6. Yasminiati Reply

    Mantap Pa.
    Karya sastra mengilhami sastra yg lainnya memang bisa dikait kaitkan atau bisa disengaja dikaitkan … bagaimana pembaca menafsirkan. Mengkritisi sastra dari setiap generasi sah-sah saja. Bahkan ‘perang pena’ tidak jadi masalah selama kuat rujukannya. Dan perbedaan itu menjadi indah.
    Pokoknya tulisannya keren !

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya.
      Betul, Bu, antara kedua puisi di atas memang ada keterkaitan. Tulisan sederhana ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk mengungkapnya dari sudut pandang intertekstualitas.

      Tentang perang pena atau polemik sastra, saya jadi teringat pada “peperangan” antara Pak Ajip Rosidi dan Dr. Umar Junus. Seru sekali dengan argumen-argumen kelas tinggi. Hasilnya, banyak ilmu yang didapat dari polemik itu.

  7. DimasCr Reply

    Muantap dan keren

    • Baren Barnabas Reply

      Saudara DimasCr, terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Senang jika tulisan ini berkenan.

  8. Jeany L.V. Reply

    Jadi terang-benderang, nihhh…

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Apalagi jika tulisan ini membuat Saudari lebih paham tentang intertekstualitas, alhamdulillah.

  9. S. Jannati Reply

    Tulisan yang luar biasa, mengilhami, n mencerahkan. Jazakalloh khoir.

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Saya bersyukur jika Saudari Jannati berkenan. Aamiin.

  10. Aldian H. Reply

    Menyenangkan ‘n bermanfaat!

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya.

  11. Cahaya Reply

    Trim’s tulisannya, bagus banget.

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Semoga bermanfaat.

  12. Rizal Reply

    Tulisan yang menyegarkan, ditengah-tengah puisi cyber dan puisi esai yang diperdebatkan. Tulisan ini semakin menancapkan wawasan tentang puisi yang lahir beberapa dekade terakhir bahwa puisi yang lahir dari rahim penyair sesungguhnya lebih matang.

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya.
      Sepanjang zaman, kemajuan teknologi rupanya sudah menjadi sebuah keniscayaan . Hal ini berpengaruh pula pada bertambahnya keanekaragaman media sebagai penyalur aspirasi berpuisi para penyair kita. Kita berharap semoga kemajuan teknologi ini dapat menumbuhsuburkan kreativitas serta inovasi para penyair dalam berpuisi.

  13. Reza saeful rachman Reply

    Mengalir dan mengejutkan! Luar biasa Pak Baren..

    • Baren Barnabas Reply

      Brother Reza, terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya. Tulisan ini merupakan sebagian endapan diskusi kita dkk. di bangku kuliah dulu.

  14. Ai Julaeha Reply

    mantul p ketu…

    • Baren Barnabas Reply

      Terima kasih sudah mampir di basabasi.co dan membaca tulisan saya, Bu Ai. Semoga bermanfaat untuk bahan membudayakan literasi, khususnya pada bahasa dan sastra Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.