Puisi Gilang Sakti Ramadhan

 

Barnard

 

permukaan merah menonaktifkan

segala yang ingin tinggal, diredupkannya

nyala kehidupan agar sempurna

 

sistem bintang tunggal serupa

panas gelora iblis, dipinjampakai untuk menjebak

planet-planet di lingkar tata surya

 

menjelang akhir malam abadi, kau datang dari

tempat berjarak enam tahun cahaya dariku

melepaskan sejumlah besar energi

agar fusi termonuklirku mati bersama

 

debu yang mengembara pasif ke galaksi-galaksi baru

bergerak seperti tak mengenal waktu

lalu meninggalkan riwayatnya sendiri

pada rasi-rasi yang belum dikenali

 

 

Methuselah

 

seperti fosil kosmik yang menyimpan informasi

tentang siapa yang lebih tua: aku atau alam semesta

kau mencampuradukkan gas primordial dengan

sedikit pecahan supernova untuk kejutan

 

awal sebelum ledakan besar pertama. dan ketahuilah

ketika api abadi mulai dihidupkan pada tubuh agung

abuku akan berubah menjadi energi gelap yang memaksa

 

seluruh benda mendekat ke lubang hitam—mekanisme

yang tak kau perkirakan sejak pertemuan pertama denganku

sesaat setelah kau meragukan bintang raksasa lainnya

sebagai hunian yang menyenangkan. dan peliharalah

 

keraguanmu hingga seluas konstelasi libra—tak pernah tuntas

kita jelajahi. janganlah dikira cahaya-cahaya purba itu

berusia lebih muda dari jagat tempat mereka berlintasan

 

dan apabila aku dan mereka telah hening di tepi waktu

kau akan berhenti berburu dan akan sepenuhnya pucat biru

 

 

Sirius

 

kau menelan hidrogenmu sendiri untuk mengolok

bintang-bintang yang berlomba menjadi paling terang

kepuasanmu berkembang biak di sepanjang rasi anjing besar

serupa luminositas yang meningkat berkat dekat dengan

 

tata surya, memberikan segalanya padamu yang tabah

bercahaya biru dalam kegelapan gelanggang antariksa

 

betapa janggal orbitmu, bergantian dengan

si saudara kembar hanya untuk saling meredupkan diri

kemudian mati sebagai bintang ganda gerhana

 

dan kisah tentangmu terbang bersama debu-debu

ditarik oleh gravitasi, dibentuk sebagai katai putih

takdir yang entah datang dari mana

memaksamu bertemu aku, lubang hitam

pelaku pemulihan sekaligus kehancuran

 

mimpi buruk bagi setiap nebula di langit malam

melihat kosmis digerogoti energi gelap

tanda bersiap menyambut ledakan

kenyataan yang terlampau menyilaukan

 

 

Tabby

 

dan apabila gelap sudah sepenuhnya menerpa

janganlah melepaskan pandangan dari struktur buatan

sesungguhnya, benda itu seumpama komet api

bagi bintang yang kehilangan keseimbangan

menjelang keruntuhan alam semesta

 

pugarlah rahasia kehidupan itu erat-erat

kelak di kemudian hari, ia akan menjelma

penyelamat kuat berjiwa cahaya

yang kedatangannya akan menggemparkan

apa-apa yang saat ini masih tak tampak

 

kemudian hewan-hewan luar angkasa lahir,

berkembang biak lalu memimpikan

racun-racun mereka bisa mengubah

batu menjadi debu, debu menjadi bintang

dan inilah siklus baru kehancuran

 

alam semesta dengan jadwal-jadwal

penuh celaka seperti jalan melingkar 

yang membuat sinarku

tak akan menerangi apa-apa

tak akan membuka jalan ke mana-mana

Gilang Sakti Ramadhan
Latest posts by Gilang Sakti Ramadhan (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!