
Percakapan-Percakapan Gusti dengan Jenar di Sepetak Sunyi
1.
Ada pujangga yang berkata, seperti halnya orang
yang kehausan mencari air, air pun mencari dia
yang kehausan. Apa diri-Mu juga mencariku?
Untuk apa mencari—yang telah dekat-Ku?
Gusti, apa seluruh duka-nestapa mesti dirasa
agar bisa berjumpa dengan-Mu yang maha?
Betapa malu diri sebab datang penuh luka
juga airmata, bahkan busuk beraroma.
Kemarilah, Jenar. Kemarilah. Sudah lama
Kutunggu. Haruskah ada alasan untuk
pulang ke rumah sendiri? Kemarilah—
dan dekaplah Aku.
Sahaya hanya segenggam tanah; hanya cacing
bergeliat di gelap tanah; hanya anjing merah
dipukul galah, hanya kepiting pipih lemah
berjalan sebelah. Sahaya bukan ngengat—dan
diri-Mu bukan nyala menjilat: tetapi dingin
mengikat. Duh, Gusti, bila sungguh boleh,
aku ingin terlelap dalam itu dekap.
2.
Aku Mahatahu, tapi Aku hendak bertanya padamu.
Jenar, apa benar dirimu mengaku sebagai Aku?
Sahaya tiada pernah berkata begitu, Gusti. Sahaya
hanya berkata diri ini rindu dan ingin bertemu.
Aku telah bermaklumat melalui lisan kekasih-Ku,
Muhammad, bahwa Aku begitu dekat. Lantas
kenapa dirimu merindu?
Betapa sebab itulah, sahaya jadi merindu; betapa
saat jadi manusia, sahaya belajar jika lubang itu
bukan hanya sembilan, tapi sepuluh. Lubang
itu di dada, menghendaki ditambal segera. Maka
berkenankah Gusti menambalnya?
3.
Jenar, apa dirimu tiada mau
membakar surga-Ku dan juga
memadamkan neraka-Ku?
Gusti, sahaya bukan Agung Wali;
hanya cacing di tanah hening, hanya
anjing bersuara melengking; hanya
kepiting pejalan miring. Andai
mungkin, sahaya hanya ingin
menanam bunga di neraka-Mu, dan
menata batu-batu baku di surga-Mu.
Sahaya hanya ingin menyebut-Mu,
meski bagiku susah selalu.
4.
Aku Mahatahu, tapi Aku ingin bertanya pada-Mu:
Apa yang mau dirimu minta dan ingin di Sini, Jenar?
Sahaya hanyalah secuil tanah liat; maka jadikanlah sahaya
sebuah kendi kecil untuk tangis-Mu bertempat. Sahaya
hanyalah cacing menggeliat; maka jadikanlah sahaya
cacing yang gemburkan akar-akar Pohon Khudli.
Sahaya pada sebuah akhir lakon-cerita, adalah anjing;
maka jadikanlah sahaya tetap anjing: anjing yang
menjaga dan suka bermain kejaran di antara taman penuh
Pohon Khudli. Namun, jadi apa pun, asal itu mau-Mu,
sungguh sahaya rela; terima dengan sepenuh segala. Ah,
tapi, Gusti, bila memang bisa minta, bolehkah sahaya
jadi nama keseratus-Mu?
(2014—2025)
Sona-Sona
1.
Negara kecil itu berkata, bahwa jenazah Jenar sudah berubah
jadi anjing merah, jadi satwa haram jadah. Akan tetapi, Aku
lebih tahu, bahwa Jenar, hamba-Ku, telah manjing, telah
ngasu-ngangsu. Mereka itu tiada tahu; hanya menduga
terlalu. Akan Ku-masukkan Jenar, hamba-Ku, dalam surga
yang jembar; bermain kejaran dengan anjing dari
tujuh pemuda beriman itu.
2.
Ada yang mengganti jasadmu dengan bangkai anjing.
Apa dirimu marah, Jenar, apakah dirimu geram?
Untuk apa sahaya marah, Gusti, bila itu bukan hinaan,
tapi perumpamaan yang mesti dipikir-renungkan. Betapa
sebab izin-Mulah, seorang pendosa diizinkan ke surga
sebab menolong anjing; seorang dan enam teman
terlindung iman sebab dijaga anjing; dan Yudhistira
dapati swargaloka melalui anjing pula.
Jadi dirimu tiada marah?
Tiada marah, Gusti. Akan tetapi, betapa anjing
terlampau mulia bagi sahaya yang cacing. Meraka
tiada hendak menghina, tapi berdoa supaya sahaya
ditempatkan di tempat mulia. Karenanya, ampuni
mereka; ampuni mereka, duh, Gusti yang Maha.
(2021—2025)
Akhir Sang Wali Kesepuluh
1.
Apabila seekor ular boleh bercita jadi penggembala
dari domba-domba, lantas kenapa seekor cacing
tiada boleh bercita jadi pewaris para Anbiya?
Apa hanya manusia sahaja yang boleh guna
mewarta agama, surga-neraka, dan betapa
Gusti amat cinta mereka yang taubat nasuha?
Namun, para Anbiya memang pohonan berbuah;
seekor cacing hanya bisa berupaya hadir guna
gemburkan sepetak tanah. Dan, di dalam kubur,
suaranya akanlah terdengar lebih nyaring; karena
dulunya seekor cacing dan kini berlisan anjing:
melolong memanggil bising. Betapa mudah bagi
Gusti mengubah cacing jadi wali pencinta Hening.
2.
Senantiasa ada akhir bagi topeng, penutup wajah
terukir gepeng. Akhirnya, tiada lagi cacing di tanah
hening, atau anjing berbaring di tanah kering; atau
kepiting berjalan miring. Akhirnya, tiada lagi
segenggam tanah merah, Jenar lembut melangkah,
atau wali kesepuluh yang rebah. Kini, dan nanti,
dan sejatinya sudah sejak zaman Azali, hanya ada
wajah Gusti, wajah Yang Mahasunyi.
(2019—2025)
- Variasi Samsa dan Kafka dalam Beberapa Roman: 15-60 - 14 November 2025
- Puisi Polanco S. Achri - 7 October 2025


dipta
wow puisi ini sangat bermanfaat sekali
dipta
puisi ini sangat Bagus sekali dak bermanfaat bagi saya dan semua orang
dipta
puisi ini sangat bermanfaat sekali bagi saya dan semua orang
Ibra
Puisi nya bagus indah, keren, dan sangat bermanfaat bagi saya
ONIC ojan
sounds good