Puisi Polanco S. Achri

 

Percakapan-Percakapan Gusti dengan Jenar di Sepetak Sunyi

 

1.

Ada pujangga yang berkata, seperti halnya orang

yang kehausan mencari air, air pun mencari dia

yang kehausan. Apa diri-Mu juga mencariku?

 

Untuk apa mencari—yang telah dekat-Ku?

 

Gusti, apa seluruh duka-nestapa mesti dirasa

agar bisa berjumpa dengan-Mu yang maha?

Betapa malu diri sebab datang penuh luka

juga airmata, bahkan busuk beraroma.

 

Kemarilah, Jenar. Kemarilah. Sudah lama

Kutunggu. Haruskah ada alasan untuk

pulang ke rumah sendiri? Kemarilah—

dan dekaplah Aku.

 

Sahaya hanya segenggam tanah; hanya cacing

bergeliat di gelap tanah; hanya anjing merah

dipukul galah, hanya kepiting pipih lemah

berjalan sebelah. Sahaya bukan ngengat—dan

diri-Mu bukan nyala menjilat: tetapi dingin

mengikat. Duh, Gusti, bila sungguh boleh,

aku ingin terlelap dalam itu dekap.

 

2.

Aku Mahatahu, tapi Aku hendak bertanya padamu.

Jenar, apa benar dirimu mengaku sebagai Aku?

 

Sahaya tiada pernah berkata begitu, Gusti. Sahaya

hanya berkata diri ini rindu dan ingin bertemu.

 

Aku telah bermaklumat melalui lisan kekasih-Ku,

Muhammad, bahwa Aku begitu dekat. Lantas

kenapa dirimu merindu?

 

Betapa sebab itulah, sahaya jadi merindu; betapa

saat jadi manusia, sahaya belajar jika lubang itu

bukan hanya sembilan, tapi sepuluh. Lubang

itu di dada, menghendaki ditambal segera. Maka

berkenankah Gusti menambalnya?

 

3.

Jenar, apa dirimu tiada mau

membakar surga-Ku dan juga

memadamkan neraka-Ku?

 

Gusti, sahaya bukan Agung Wali;

hanya cacing di tanah hening, hanya

anjing bersuara melengking; hanya

kepiting pejalan miring. Andai

mungkin, sahaya hanya ingin

menanam bunga di neraka-Mu, dan

menata batu-batu baku di surga-Mu.

Sahaya hanya ingin menyebut-Mu,

meski bagiku susah selalu.

 

4.

Aku Mahatahu, tapi Aku ingin bertanya pada-Mu:

Apa yang mau dirimu minta dan ingin di Sini, Jenar?

 

Sahaya hanyalah secuil tanah liat; maka jadikanlah sahaya

sebuah kendi kecil untuk tangis-Mu bertempat. Sahaya

hanyalah cacing menggeliat; maka jadikanlah sahaya

cacing yang gemburkan akar-akar Pohon Khudli.

Sahaya pada sebuah akhir lakon-cerita, adalah anjing;

maka jadikanlah sahaya tetap anjing: anjing yang

menjaga dan suka bermain kejaran di antara taman penuh

Pohon Khudli. Namun, jadi apa pun, asal itu mau-Mu,

sungguh sahaya rela; terima dengan sepenuh segala. Ah,

tapi, Gusti, bila memang bisa minta, bolehkah sahaya

jadi nama keseratus-Mu?

 

(2014—2025)

 

 

Sona-Sona

 

1.

Negara kecil itu berkata, bahwa jenazah Jenar sudah berubah

jadi anjing merah, jadi satwa haram jadah. Akan tetapi, Aku

lebih tahu, bahwa Jenar, hamba-Ku, telah manjing, telah

ngasu-ngangsu. Mereka itu tiada tahu; hanya menduga

terlalu. Akan Ku-masukkan Jenar, hamba-Ku, dalam surga

yang jembar; bermain kejaran dengan anjing dari

tujuh pemuda beriman itu.

 

2.

Ada yang mengganti jasadmu dengan bangkai anjing.

Apa dirimu marah, Jenar, apakah dirimu geram?

 

Untuk apa sahaya marah, Gusti, bila itu bukan hinaan,

tapi perumpamaan yang mesti dipikir-renungkan. Betapa

sebab izin-Mulah, seorang pendosa diizinkan ke surga

sebab menolong anjing; seorang dan enam teman

terlindung iman sebab dijaga anjing; dan Yudhistira

dapati swargaloka melalui anjing pula.

 

Jadi dirimu tiada marah?

 

Tiada marah, Gusti. Akan tetapi, betapa anjing

terlampau mulia bagi sahaya yang cacing. Meraka

tiada hendak menghina, tapi berdoa supaya sahaya

ditempatkan di tempat mulia. Karenanya, ampuni

mereka; ampuni mereka, duh, Gusti yang Maha.

 

(2021—2025)

 

 

Akhir Sang Wali Kesepuluh

 

1.

Apabila seekor ular boleh bercita jadi penggembala

dari domba-domba, lantas kenapa seekor cacing

tiada boleh bercita jadi pewaris para Anbiya?

Apa hanya manusia sahaja yang boleh guna

mewarta agama, surga-neraka, dan betapa

Gusti amat cinta mereka yang taubat nasuha?

Namun, para Anbiya memang pohonan berbuah;

seekor cacing hanya bisa berupaya hadir guna

gemburkan sepetak tanah. Dan, di dalam kubur,

suaranya akanlah terdengar lebih nyaring; karena

dulunya seekor cacing dan kini berlisan anjing:

melolong memanggil bising. Betapa mudah bagi

Gusti mengubah cacing jadi wali pencinta Hening.

 

2.

Senantiasa ada akhir bagi topeng, penutup wajah

terukir gepeng. Akhirnya, tiada lagi cacing di tanah

hening, atau anjing berbaring di tanah kering; atau

kepiting berjalan miring. Akhirnya, tiada lagi

segenggam tanah merah, Jenar lembut melangkah,

atau wali kesepuluh yang rebah. Kini, dan nanti,

dan sejatinya sudah sejak zaman Azali, hanya ada

wajah Gusti, wajah Yang Mahasunyi.

 

(2019—2025)

Polanco S. Achri
Latest posts by Polanco S. Achri (see all)

Comments

  1. dipta Reply

    wow puisi ini sangat bermanfaat sekali

  2. dipta Reply

    puisi ini sangat Bagus sekali dak bermanfaat bagi saya dan semua orang

  3. dipta Reply

    puisi ini sangat bermanfaat sekali bagi saya dan semua orang

  4. Ibra Reply

    Puisi nya bagus indah, keren, dan sangat bermanfaat bagi saya

  5. ONIC ojan Reply

    sounds good

Leave a Reply to Ibra Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!