Puisi-Puisi Bode Riswandi; Mereka Terus Bergegas

in Puisi by
pixabay.com

Sepasang Tubuh

 

Sepasang tubuh berpapasan dalam cermin
Aku dan tubuhku saling memandang

Meraba pokok waktu. Hari yang kulakoni

Saat ini, masa lawas yang ia jalani di tapal

Sunyi yang waswas.

 

Ada yang lekat dalam penantian dan harapan

Ada yang sungsang di puncak takdir

Dan jurang nasib yang ngambang. Aku tak tahu

Ke mana tubuhku dijaring bayangannya. Ia takkan

Bertanya di simpang mana tubuhku melepas

bayangannya.

 

Sepasang tubuh saling memagut dalam cermin
Ia copot matanya bagai burung menggarami udara

Lalu dalam kegelapan mereka saling menerka

Tubuh siapakah yang dikendarai ini, gerangan?

Sementara bayangan tidak sepatah pun

Menciptakan jawaban.

 

2015

 

 

 

Mereka Terus Bergegas

 

Wajah ini tak pernah sendirian

Tapi milik siapa? cermin memikatnya

Setiap saat. Lalu dua paras berhadapan

Mereka tak saling raba, walau rindu

dan cemas saling berdekapan

 

Tubuh ini tegap dalam perangkapnya

Tumbuh dalam pohon usia muda

Lalu lengan cermin memeluknya lekat

Mereka satu dalam hakikat, walau hidup

Memagut kepada harap juga maut

 

Pada hasrat sunyi yang lumer

Tiada kegelapan yang dikenal

Sebagai cahaya karam.

Mereka berjalan jauh ke dasar pandang

Ke tubir-tubir rahasia tak kenal sauh

 

Mereka terus bergegas bagai kuda pacu

Di kalang perjudian. Ia pesat cemeti

Ke bokong sendiri. Berdarah. Ia pesat lagi

Iingar dan siul penonton dari balik balkon

Tak sampai memberinya batas kemenangan

 

Wajah dan tubuh ini ranggas di hadapan cermin

Mereka ganas dalam bertahun pelukan

Tapi pupus dalam sekejap ciuman

Lalu pada hari-hari berikutnya

Mereka menjumpai kenyataan

 

2016

 

 

Enam Bait Stanza

Untuk Indonesia

 

Di sepanjang jalan

Dalam ingar lagu-lagu kemerdekaan

Pada sederet baliho yang memadat

Di setiap tikungan atau pertigaan

Juga pada  papan nama toko-toko

Aku mencium peluhmu yang kecut

Disuling dari rahim kampung

Juga padang-padang gambut

 

Di pasar-pasar induk

Pada jongko-jongko

Pada papan dan tempayan

Semua impian digantang

Di sini kuhirup napas petani

Menangkap dengus nelayan

Seperti hidup dalam mitos

Kebun dan laut kian hampos

 

Tapi di muka jalan raya

Bocah-bocah kencur berbaris riang

Mereka gembalakan kegembiraan

Pada beton dan tiang-tiang pancang

Tempat kampung nenek moyangnya

Dikaram paksa lantaran desakan waktu

Digada lantaran manisan kekuasaan

—Tumpur

 

Dari candu televisi dan koran

Dari kudapan lubuk kecemasan

Aku ingin mengubur diri sendirian

Menghayati segenap kenyataan

Sambil tersenyum dalam gelap

Terbayang sudah bocah-bocah sekolah

Dengan daki mengendap di kerah

Bermain layangan, kelereng dan galah

 

 

Tapi kenyataan belingsatan tak karuan

Ia hinggap di reranting nestapa

Jadi iklan bius beribu pesakitan

Ada yang berdoa dengan setumpuk kepasrahan

Dan menabung harap dalam selembar amalan

Lalu didaraslah baris-baris nubuat

Bagi jerat-jerat nasib dan pukat tabiatnya

—Pasrah

 

Kepada bedeng-bedeng tepi kali

Lambung-lambung yang berkarat

Suara-suara parau dari jantung kemiskinan

Tegaklah kalian dari sirkus kemerdekaan

Dari kelonan rayuan pulau kelapa

Dari mimbar dan mikrofon yang sakit jiwa

Setabah batu  kucintai kalian

Yang terus bernyanyi meski ditekan majikan

 

 

2017

 

 

 

Kepada Waktu

 

Kepada waktu aku berkisah sepasang angsa di telaga

Sepasang kekasih yang menggantang harap di udara

Sepasang kupu-kupu yang terperangkap di pigura

Serta bunga-bunga cahaya di gedung-gedung kota

Tapi apalah daya bagi kata-kata yang kadung apak

Di telaga perahu dan galah tiada mencipta riak

Di udara impian tinggal lembaran nasib yang sesak

Di pigura wajah-wajah bopeng kita yang tampak

Dan di gemerlap kota, desa-desa tiada kunjung tanak

 

Kepada kalian yang meyakini ladang dan kebun

Adalah kitab yang didaras sepanjang usia tahun

Akar dan rotan yang cukup hidup dari sejentik ibun

Kenangkanlah padamu nyanyian rindu yang alun

Yang datang dari setiap huma dan rumpun

Dalam sekejap dibakar perasaan ngungun

 

Kepada kalian yang mengimani pantai dan laut

Adalah bentangan mukjizat tiada kenal surut

Liuk angin dan gemuruh ombak yang berpuput

Kenangkanlah padamu sekebat layar sekerlip suar

Yang datang sebagai jamuan hajat juga mahar

Dalam sekejap digulung jiwa-jiwa yang cabar

 

Apalah daya bagiku mengutuk waktu

Selain mencintai puisi setabah batu

 

2018

 

 

 

Tamimi

 

 

Tak ada masa kanak-kanak di sini

Ruang main tersimpan rapi di perut bumi

Mimpi-mimpi kian asing dari sejumlah tidur

Yang kami sendiri lupa bagaimana mengingatnya

 

Tak ada selembar saputangan di sini

Air mata kami telah jadi logam dan baja

Bagi mereka yang fasih menarik pelatuk senjata

 

Jangan ajari bagaimana membela diri

Sejak dalam rahim Ibu,

Kami makin terbiasa mendengar

Dentuman rudal dan bunyi tembakan itu

Seperti lagu-lagu rakyat yang biasa

Kami nyanyikan di halaman rumah

 

Ketika Bapak mati di tembak

Di lapang terbuka, di antara lelaki-lelaki lain

Yang menggenggam batu di tangannya

Tak ada waktu bagi Ibu untuk meratapinya

Ia akan terus mengupak perlawanan baru

Karena setiap seorang lelaki gugur

Di medan itu, darahnya akan cepat menyatu

Ke tubuh Ibu, lalu lahirlah kami

Dengan tangan yang sedia mengepal

 

2018

Bode Riswandi

Lahir di Tasikmalaya, 6 November 1983. Mengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi Tasikmalaya (Unsil). Bergiat di Rumah Budaya Beranda 57, dan Teater 28. Menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah drama. Beberapa karyanya dipublikasikan di beberapa media massa.

Latest posts by Bode Riswandi (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.