Puisi-Puisi Hamzah Muhammad

 

 

Baru Kenal, Anak Muda

Waktu bikin janji,

kamu tidak mau kalau sendiri.

Wajar sih. Namanya juga baru kenal.

Perlu ada basa-basi. Perlu caper sedikit.

Pas ketemu, ternyata kamu gengsi.

Tahu begitu aku tidak jadi.

 

 

Warung Nasi Depan Kuburan

Nasi dua centong

ditambah ikan asin

ditambah tempe goreng

ditambah sayur asem

sama dengan Rawamangun.

Aku biasa makan di situ,

di warung nasi depan kuburan.

Misalkan nantinya terjadi

sesuatu yang luar biasa,

Rawamangun biasa-biasa saja.

 

 

Adu Jotos

Tadi malam, aku menonton

prediksi antara Alvarez dan Bivol.

Selama merem, Mayweather nongol

mengobrak-abrik mimpiku.

Bangun-bangun, aku cengengesan

teringat bacot orang-orang.

Mayweather itu banyak bacot,

lawan Pacquiao banyak curangnya.

Alvarez dulu bukanlah yang sekarang

dan aku tidak suka Mayweather.

Mayweather mana berani taruhan

tanding ulang sama Alvarez.

Aku ikuti semua drama itu,

paling banter supaya tidak fanatik.

Sebab mereka yang doyan adu jotos,

belum tentu mengerti tinju.

 

 

Kelewat Mabuk, Bablas Curhat

Kenapa harus sampai mumet

dan cemberut?

Dibawa santai dong.

Jangan kelewat mabuk.

Setiap bablas mabuk, kamu curhat.

Kamu curhat soal mantan.

Kamu curhat soal puisi.

Kamu curhat soal masa lalu.

Kamu curhat soal mantan

yang baca puisimu di masa lalu.

Kamu curhat soal nasib penyair.

Kamu curhat soal kesepian.

Kamu curhat soal hiburan.

Kamu curhat soal nasib penyair

           yang kesepian butuh hiburan.

Jangan-jangan, tidak solutif

mabuk bablas curhat.

Tapi curhat kan wajar.

Oke. Mau sampai kapan 

uring-uringan?

 

 

Ampun Bang Jago

Jadi begini ceritanya.

Setelah kontan bayar pulsa token listrik,

aku melangkah keluar Indomaret.

Tiba-tiba ada tukang parkir

muncul di belakang jok motorku.

Aku menoleh sambil putar setang.

Mukanya beler, kurang tidur.

Di tengtop perut buncitnya tertulis:

PULANG MALU, TAK PULANG RINDU.

Selagi ia cuek mengulur tangannya,

kelihatan tato gambar ayam.

Maaf, cuma bisa kasih Rp2000.

Pasti nombok kalau buat ongkos mudik.

Dalam hati, laparmu bukan urusanku.

 

 

Sejumlah Alay Nongkrong di Taman

Di pengkolan seberang Atelir,

sering ada kecelakaan.

Memang belokan itu curam,

apalagi lampu jalannya agak remang.

Tapi di tengahnya ada taman.

Beberapa alay nongkrong di sana.

Beberapa lainnya merangkap pak ogah,

berganti terus siang dan malam.

Di hadapan taman itu, tidak satu pun

yang suka menabrak dari belakang.

 

 

Dalam Lagu The Upstairs

Dalam lagu The Upstairs:

para abg saling tawuran

persis di seberang kantor polisi.

Di Jakarta tidak ada kerajaan.

Malah yang berlaku hukum jalanan.

Kamu tidak lagi pantas disebut abg.

Dan gayamu terlalu Mataram,

bagi aku yang Matraman.

Di Mataram, para raja sudah lama mati.

Tidak ada gunanya ke kantor polisi.

Hamzah Muhammad
Latest posts by Hamzah Muhammad (see all)

Comments

  1. dimas Reply

    Bahkan dengan diksi yang ringan dari “Warung Nasi Depan Kuburan” pun saya masih tidak bisa memahami tulisan puisi. Apa betul puisi itu harus memiliki makna? Kalau iya, bagaimana cara tahunya? 🙂

  2. Kal Reply

    Ini puisi?

  3. Saut Situmorang Reply

    Kek di atas itu pun dianggap Puisi?! Pantaslah kalok diliat siapa Tim Kurator situsnya! :p

    • Duwiky alfiyanta Reply

      Banyak orang malu bersuara lantang di sosial media
      Hanya sedikit bersuara mengunakan lidah
      Kebanyakan dari kita bersuara dari ketikan jempol kita
      Tapi hanyalah bacotan yg tidak dibarengi dengan realita.

      Banyak yg malau menulis puisi hanya bisah bersuara melalui jari, kalau bisah berkomentar disah juga berkarya, dapat kan cuwa itu jalan nya.

  4. Saut Situmorang Reply

    Malu-maluin Bukowski ajah :p

    • Sae AB Reply

      Kok saya malah pusing?

      • Birru birru Reply

        Selepas nonton mayweather di warung depan kuburan
        Kau mengajak aku kenalan
        Bukan aku tak mau
        Tapi lihat tatomu aku jadi takut
        Apalagi baru kenal
        Kau sudah ceritakan tentang mantan2mu
        Tentang masa lalumu,
        Yang sering nongkrong di taman dan tawuran
        Sambil dengarkan lagu upstairs
        Sruput dulu kopinya…biar tidak dingin dicumbui lalat2 ..

    • Ibnu sya'nah Reply

      Mungkin karena di situ basabasi-nya disebut kali.
      Maap. Puisi sendiri itu gimana ya?
      Belajar puisi susah-susah mencari majas dan segala macam, dan ini disebut puisi? Entah.

    • Anonim Reply

      Urat malu Bukowski diputus mati

    • Petinju Reply

      Banyak bacot, polisi tua bangka.

    • DENI OKTORA PASARIBU Reply

      Kalau gak salah si penyair emang terinspirasi menulis puisi ala Bukowski. Buku sebelumnya adalah terjemahan puisi Bukowski

  5. Bagus Sigit Setiawan Reply

    😂

  6. Bagus Sigit Setiawan Reply

    Pantas saja saut muring2.

  7. ida Reply

    Apa ini puisi?? Kalok cumak begini dibilang puisi, Aku jugak bisa bikin. Tapi Aku malu mau bikin puisi macam ini. Kuatir malu maluin. 😜

  8. Nona Reply

    Agak kuciwa dengan pilihan kurator kali ini..

    • sisiput Reply

      Puisi macam apa ini?!?!?!

  9. Muhammad Yasir Reply

    Redakturnya benar-benar Sampah!

    • Provokator Reply

      Komennya benar-benar sopan. Hehe

      • Bukan Provokator Reply

        Emang redakturnya sampah makanya puisi sampah begitu dipilih buat dimuat

        • Provokator Reply

          Kalo saya redaktur, . . . ?

  10. Zayn Seno Gaudiumo Reply

    Mungkin ini yg disebut dgn kawan penyairku, katanya puisi tidak harus estetik selagi ia bermakna

  11. Alam Reply

    niat hati jadi gak niat

  12. sadam Reply

    saya sadar bahwa puisi-puisi yang saya tulis itu masih di taraf jelek saja belum, hanya saja saya sungguh tidak menyangka jika puisi model kayak begini ternyata bakal dimuat, wkwkwkwk.

  13. herman Reply

    ini yang dikomentarin bang saut? gilak kalok kayak gini dibilang puisi. puisi pertama malah macam coretan toilet

  14. Preman Cikampek Reply

    Tolol

  15. Ujang Saepudin Reply

    Goblok… puisinya lucu hahaha

  16. sukanda KM Reply

    Aku justru coba belajar menikmati puisi puisi Hamzah Muhammad,ada juga beberapa yg menarik tapi banyak juga yang bikin pusing .Tapi aku hormati keputusan kurator.Terus semangat membuat puisi yg bagus lagi untuk HM.

  17. Bhramastya Reply

    Proses kreatif yang dilalui penyair beda-beda dalam sebuah pertarungan kata. Kalau untuk menghakimi puisi dengan kategori “baik-buruk” agaknya sulit karena ranahnya subjektivitas. Mungkin kategorisasi yg patut disematkan untuk penyair di atas ialah “kekhasan”. Ya, khas dalam memilih diksi-diksi dalam puisinya.
    Wassayang.
    Semangat menulis.

  18. Polisi Sastra Hiski Reply

    Maaf, Saut. Sastra Indonesia lebih membutuhkan web basabasi dan penerbitnya yg telah memberi ruang (dan honor) untuk banyak penulis sastra Indonesia, ketimbang bacotmu yang sember.

    • Upil kering Reply

      Ada baiknya saut dkk bikin media sastra baru yg nerima tulisan. Jgn lupa kasih honor. Bisa gak???

    • Colonel Aureliano Buendia Reply

      Persoalannya bukan pada basabasi memberi ruang (dan honor) untuk penulis yang kirim tulisannya. Tapi di puisi-puisi sampah yang dipilih buat dimuat pada tanggal 22 Maret. Cobak kau tengok tulisan yang lain, ada nggak yang komentar aneh-aneh? Nggak ada kan? Karena tulisannya jauh lebih baik dari puisi-puisi sampah ini.

      • Akpol Sastra Hiski Reply

        Coba juga kau tengok tulisan nabi kau itu, “pantaslah kalok liat siapa tim kurator situsnya”. Artinya menurut nabi kau yang paling benar itu, situs ini kuratornya sampah juga. Padahal kalo merujuk komentarmu, puisi di sini bagus-bagus kan? gitu. Artinya ada yang salah sama otak nabi kau itu. Coba siapapun yang puisinya kau anggap bagus, terus adu jotos sama si saut itu. Otomatis karya kalian akan jadi sampah. goblok kali kau pilih nabi.

        Btw, ini nama tokoh Gabo yang benar, Aureliano KW: Colonel Aureliano Buendía

  19. bolo bolo Reply

    puisi saut bagus?

  20. Distraksi Reply

    puisi ini terlampau bagus bagi saya, sekalipun yang nyinyir juga luarbiasa banyaknya

  21. Boboi boy Reply

    Terus tulis pak, puisinya udah engga kayak puisi Bukowski kok wkwk, tetep keren dan semoga jadi lebih keren 👍

  22. Y.B Tiar Reply

    nah ini, puisi-puisi norak ala Hamzah Muhammad. itu. 😛😛😛

  23. Muhammad Azzam Khairel Fauzan Reply

    Ku fikir karya seperti puisi dibuat untuk dinikmati, sekarang aku mencoba setuju karya seperti puisi dibuat untuk dihakimi
    Ku fikir menjadi “anak sastra” wajib mengapresiasi karya seperti puisi, sekarang aku bahagia melihat “anak sastra” tak perlu capek capek mengapresiasi seni
    Ku fikir jadi penyair itu susah setengah mati, sekarang aku yakin yang susah setengah mati itu jadi penikmat karya para penyair

    HM penyair pinggiran, salah target pasar kalau jualan ke elit sastra
    Coba geser sedikit, misal ke pinggiran bekasi
    Kalo orang pinggiran gak ahli menghakimi, tau nya cuma mengkonsumsi

  24. alphaomega Reply

    jadi sebenarnya siapa yang berhak memberikan makna terhadap sebuah tulisan? apakah sebuah penghakiman lebih baik daripada beribu2 pujian atau sebaliknya? mungkin sebuah tulisan bisa jadi bukan untuk hari ini ataupun untuk hari berikutnya tapi setidaknya dia sudah cukup untuk seseorang ataupun beberapa yang percaya

  25. ALPHAOMEGA Reply

    hiduplah seperti bukowski…bergaulah seluas mungkin hingga ke gang – gang sempit dan sudut gelap kota…”malu” itu bkn frasa yang tepat untuk menggambarkan bukowski atau kegusarannya….dan mungkin zaman juga telah merubah nilainya pak tua…

  26. Sampean Reply

    Gak tahu, kok baca puisi hamzah saya terhibur.

  27. Preditya Reply

    Puisi???🤣🤣🤣
    Puisi yang dipertanyakan

  28. Rachmansyah Reply

    q besok mau kirim ah

  29. Hanum Reply

    Jujur diantara yang lain aku paling suka yang ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!