Puisi-Puisi Yusril Ihza F. A.

A Stairs in a Temple of Bangkok Poster by Luis Beltran

 

SUWUNG

: sedekat-dekat angkara, sejauh-jauh kembara

 

aku masih mencari-mu di antara

barisan kidung

 

yang disematkan para pertapa

semenjak ia turun

 

dari lereng gunung.

 

kau berusaha melarikan diri

dari ingatan

 

yang kulumuri perhitungan

ganjil,

 

ketika,

 

aku mengajak-mu berkelana

ke dusun-dusun setua nganga.

 

lantas,

 

pun aku mencari-mu dari balik

tingkap nurani

 

yang melegam dibubung

seringai jelaga.

 

namun,

 

sampai di tahun-tahun terakhir,

di musim perak meranggas

 

gugurkan dua belas rasi bintang.

 

dua ekor angsa betina menjadah

dan kulimbungkan sepi padanya.

 

dua – tiga jawaban menghampiri

tapi enggan menjelaskan

tentang-mu.

 

lelah kumencari sahaja di antara

seribu kata para jemawa.

 

kelana yang enggan berpangku

di tangan nasib fana

 

berbisik ke telingaku,

 

“teruslah melangkah, sampai

kau temukan tirta perwita

 

di tengah pusara samudera”

 

kutanggalkan masa silam agar

membias bersama malam.

 

kutinggalkan seluruh kelam

agar dapat membaca kalam.

 

pun kau,

 

berhasil mengantarkanku

ke persimpangan-persimpangan

 

di mana aku harus memilih

jalan menuju-mu.

 

 

 

 

 

SALAM BUNGA SEPASANG

 

sebelum fort de kock dibasahi ribuan

tetes darah meliwis,

 

sebelum kawanan bangau merajai

langit kacau,

 

sebelum garuda bertengger di puncak

kepongahan,

 

sebelum auman harimau menandai

kebijaksanaan di tengah kesangsian,

 

sebelum ular-ular menjelma naga-naga

yang gusar merenungi dosa-dosa

terbesar,

 

sebelum kesatria menenggak darah

peperangan atau memilih jalan

pengembaraan,

 

sebelum pendeta menginjakkan kaki

ke tanah – menyudahi pertapaan

maha panjang,

 

sebelum putri kerajaan awang-awung

menciptakan gelanggang pertarungan

di tengah gelisah yang gandrung,

 

dan sebelum nafsu menyulut api

di benak risaumu.

 

gelisah mengepung nyala matamu,

menerka tubuh dan kebisuan.

 

kemudian,

 

sukmamu menjelma sepasang

mahkota bunga yang lindap

di altar keheningan.

 

 

 

 

MADAKARIPURA

 

setelah perang Bubat usai

menjadi peristiwa berdarah

 

merebah tubuh nusantara;

ia menerima segala alpa.

 

amuk serapah Hayam Wuruk

menghempas

 

seperti beliung yang linglung,

 

Majapahit terlunta – Mahapatih

berdosa.

 

lalu,

 

ia kuburkan amuktia palapa

di tanah paling sunyi.

 

sebagai kesatria bangsa arya,

ia tebus dosa-dosa

 

dengan melepas tahta

kepatihan.

 

pergi mengembara menjinjing

duka,

 

mencari kebijaksanaan

Sang Hyang Pencipta.

 

Sang Panglima Amangkhubumi

moksa,

 

meninggalkan napas cemara

dan anyir kembara.

 

di balik percakapan jutaan butir

air yang memenuhi kubangan,

 

di ceruk tebing selingkar lintang;

ia bersemadi.

 

menempuh jalan keheningan,

 

membangun surga dalam

kalut kalbunya,

 

hingga usia menentukan

usainya.

 

 

 

WUKU WATUGUNUNG

 

di hari suci saraswati, burung gogik

bertengger di piyak dahan

wijayakusuma.

 

purnama mengindah di atas candi

sang hyang widhi.

 

nagagini – nagasesa meramu perjamuan

batin paling bening.

 

mereka layang-layangkan sukma di atas

tungku keheningan.

 

demi tinggalkan bayang-bayang keinginan

dan tanggalkan kekosongan.

 

meskipun doa berujung kesungsangan

– meskipun sesal berakar kefanaan.

 

Latest posts by Yusril Ihza F. A. (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Sukses terus yus.. aku bangga

  2. Opang Reply

    Teruslah Haus Kakak Tertua

  3. Anonymous Reply

    terus menggeliat bagai cacing kepanasan dan menjadi ular buas sebesar anaconda

  4. Endah woe Reply

    Teruslah berkarya dan jgnlah berhenti hingga namamu mengharumkan sluruh dunia serta mwmpersembahkan pd bangsamu akan karya karyamu.. Aq mendoakanmu

  5. Dewi f.lailiyah Reply

    Terus smgt dan membumi,dek.

Leave a Reply

Your email address will not be published.