
1 Jam sebelum Peristiwa
membacakan puisi sutardji
ke foto sapu lidi
kecewa karena tak terjadi apa-apa
nonton teater tetap numpak skuter
separo teler (gagal hipster)
mau kencan buta coba melihat cinta
“sebesar punya kuda
siapa namanya?”
black hole di dada
masih bercokol
pak tangkurak moga aja
masih nyimpen ketapel dewa
pikirnya
petang tadi aku lihat
buah pinangnya telah matang
bagaimana jika memang inilah malam
yang telah distempel untuk ia
segera berlayar ke ithaka?
tapi itu si dukun juga masih melihara
anjing item dari neraka
yang suatu hari pernah aku pergoki
lagi ngunyah rante sepeda
“kudengar gitu, orang suci
dari lembah mediterania
pernah 99x mengutuk lelaki
yang terlalu mencintai hidup.”
Bila telah Terjungkal
Neraca dari Neraka
bila telah terjungkal
neraca dari neraka itu
kupu-kupu kertas mengempas
brankas ke udara bertuba
di langit nyaring sipongang
pendulum yang saling bentur
runtuh sebuah rubanah
dihantam batang-batang kartu
Ekfrasis atas Lukisan Anonymous
setombak cahaya menancap
pada daun pintu kandang
berwarna kering
ada sepertinya ekor cecak
di ujung ruang
obat nyamuk yang tidak dibakar
siapakah ia yang berkaki kepiting
sementara di gigirnya teronggok
apel kopong berbelatung
Warga Negara
ia pikir
seandainya saja
ia bisa
menjadi seekor tapir.
tak galau
tak terkenang saintis
berambut awan kemarau:
betapa lekas
waktu buat bocah entah
nan selamat pascasunat
betapa kebas
sayembara ini
berhadiah kolam renang susu
(atau kukubima ungu)
di balik yang menindih
swallow lusuh ibunya itu.
tapi toh ia belaka bocah lain
tengah duduk menatap seringai (punya goblin?)
di wajah mantri agak keriput
bergigi matahari (sepotong di atas laut)
bertangan tremor
persis nyala mesin bor
(konon telah memancur mata air air mata
berjuta keluarga).
- Puisi Santama - 15 September 2026
