
Kota yang Menguap
Di dada seorang anak kecil yang terbaring
derap kuda berlari
menggetarkan tanah sunyi kota itu
debu menghambur
serupa mimpi menjelma gumpalan awan
bersama malaikat empat ribu sayap
pada hening langit dinihari
ketika percik kembang api terakhir telah padam
tepat di atas kepala
di antara bongkah tembok
yang menyimpan nyanyian hangat keluarga
sebelum kuda itu sampai
kota ini telah lama menjadi makam
bagi hari-hari silam
yang menyimpan wajah ayah, ibu, dan saudara
ketika senja melingkari meja
dengan cangkir-cangkir yang menguarkan
harum shay bil maramiya
dan renyah falafel bertabur rempah
aroma yang telah lama hilang dari dapur
sejak terakhir kali ibu membuat adonan roti
—yang tak akan pernah ia rampungkan.
2026
Rahim Ibu yang Luruh
Dan,
kenapa harus aku, Ibu?
mendengar pekik tangismu
di ujung bukit hantu
tentang longsor, tentang rahimmu
yang luruh
dan batu
dan pohon
dan rumah
sekolah
surausurau
sawah ladang
dan orang-orang bersidekap
dengan napas hampir lepas
dan sungai kehilangan muara
dan airmata kehilangan mata air airmata
segala mata air telah menjelma lumpur,
menggulung
rembulan muram di atas kampung
yang tiba-tiba menjadi makam
dan malam
dan pekat awan
dan tajam angin
dan badai memilin
dan kepala-kepala yang berpaling
dan telinga yang bersipekak
dan tangan-tangan yang enggan mengulur
setelah mengoyak-koyak rimbamu
penuh berahi
dan kenapa harus aku, Ibu?
menyaksikan tubuhmu jatuh
di sisi kepalaku yang demam.
2026
Sajak Jarak
sudah lama
kita tidak menatap purnama
menggelar cahaya
di langit yang sama
lalu bersenandung tentang
masa kanak yang riang
dalam dekap hangat ibu
dan kokoh bahu ayah
tempat kau merasa lebih tinggi
dan tanganmu menggapai-gapai
langit di atasmu
seperti menjangkau mimpi
yang kaugantung
di luas doa ibu
sudah lama
aku tak menatap purnama
mekar di matamu
jelang kelopak itu mengatup
sembari menggambar hari depan
dengan sapuan warna pelangi
dan kilau cahaya mentari
saat ibu menyajikan sepiring
telur mata sapi
dan segelas susu dari air tajin
dengan sedikit gula
agar kelak di sekolah
kau tak lagi lapar
saat guru menerangkan
soal matematika
meski di rumah,
tak banyak yang bisa kauhitung
dari waktu yang hilang
saat ayah dan ibu berangkat
dan tak pernah kembali
sudah lama
aku tak bercakap dengan angin
kala embun subuh memagut rumput
menyisipkan gigil ke dalam selimut kita
lalu berpura-pura tak mendengar
pagi mengetuk jendela
dan kita bisa terus nyenyak,
kemudian terbangun dalam mimpi
kanak yang lain
sudah lama
tak aku rasakan getar napasmu
membisikkan kalimat doa
di daun telinga
saat sekujur tubuh gigil
dalam demam
lalu aroma jarak menjinakkan api
dalam dirimu
menenangkan igau tentang hantu-hantu
yang menguasai isi kepalamu
sebab terlalu lama menjadi bilik kosong
sejak hidup tak lagi memberi waktu
untuk kau pulang ke dalam dirimu
denyut lambannya bertukar derap
sepatu kuda di gelanggang pacuan itu
engkau selalu berlari entah dikejar
atau mengejar sesuatu yang tak pasti
sudah lama
sejak jarak merentangkan lengannya
di antara masa kini dan hari lalu
lalu kita tak dapat saling bertukar degup
di hadapan cermin
yang tak lagi memantulkan
bayangan dirimu.
2026
Berpulang
Hujan meraut ujung sepi
tikam menikam detak waktu
ke detik paling rahasia
peram usia dalam dada
bayang engkau serupa jubah embun
selimuti senjakala
pada sekepal tanah tempat ilalang tumbuh
menghitung zikir pada buku angin
memukul lembut pucuk membulir
tempat burung-burung bercengkrama
sepanjang siang
sebelum kibas kepaknya menggugurkan
serbuk bunga
bila tiba masa kaulipat cahaya
bersama warna yang memulas paras cakrawala
pagut serta jiwaku dalam hangat jemari rahim-Mu,
duhai Yang Maha Lembut
agar tak gemetar sekepal tanahku
ketika hari perlahan memuram
dan cahaya mataku yang fana
berpulang ke dalam kekal cahaya-Mu.
2026
- Puisi Yeni Purnama Sari - 14 April 2026
- Puisi-Puisi Yeni Purnama Sari - 1 March 2022

Naiza
Puisi-puisi nya bagus semua dan keren pemilihan katanya bagus, penulisannya juga bagus pokoknya keren dehhh karyanya
Ryan
sangat simbolis
Amanda
Sangat menyentuh