
Waktu Berhenti Menatapku
Di tikungan hari yang tak tercatat,
waktu menanggalkan jam tangannya—
dan menatapku seperti puisi yang ia sesali.
Ia tidak berjalan, tidak pula diam,
hanya menengadah seperti langit yang bingung
memilih bintang mana yang harus padam duluan.
Aku duduk di kursi yang tak memiliki bayangan,
menanti detik yang tak mau lahir.
Langkahku menggema di dalam kepalaku sendiri,
tapi tak satu pun pintu terbuka.
Seolah semesta lupa caranya berputar
tanpa wajahku sebagai alasan.
Waktu memiringkan kepalanya,
seperti kucing tua yang nyaris melupakan tikus.
Ia mencium bahuku dengan bisu,
dan bertanya tanpa suara:
“Kau masih ingin ke mana,
jika tak ada tempat yang belum kau tangisi?”
Aku menjawab dengan mencabut nadiku sendiri,
menuliskannya di udara sebagai kalimat yang genting.
Angin membaca tapi tak mengerti,
awan menangis tapi tak menghapusnya.
Waktu hanya diam,
seperti guru yang lelah menjelaskan kesedihan.
Detik-detik berubah menjadi fosil pikiran,
menempel di dinding mataku seperti lukisan asing.
Setiap kenangan adalah pintu yang tak jadi dibuka,
setiap impian adalah jendela yang digigit malam.
Dan waktu, oh waktu—
ia menatapku tanpa usia.
Pada akhirnya aku berdiri,
menggenggam satu-satunya jam pasir yang masih bernapas.
Kutumpahkan pasirnya ke dalam telapak dunia,
tanpa niat untuk menghitung apa pun.
Sebab waktu sudah berhenti menatapku,
dan aku belajar menatap diriku sendiri.
Nama yang Dilupakan
Ada nama yang tidak lagi dipanggil,
bukan karena mati,
melainkan karena ingatan memilih
menyapu huruf-hurufnya
ke bawah karpet percakapan sehari-hari.
Nama itu pernah bergema
di mulut seorang ibu,
menjadi nada pertama
yang menyentuh udara.
Kini, ia hanya gema
yang berputar dalam ruang tak bernama.
Di tempat yang jauh dari peta,
nama-nama yang dilupakan
berbaris seperti prajurit pensiun
menunggu dipanggil sekali lagi
bukan untuk berperang,
tapi untuk diingat dengan benar.
Mereka menulis diri mereka
di balik bayang-bayang pagar,
di buku absen yang kosong,
di potongan mimpi
yang jatuh saat kita terbangun
dan tak mau menoleh ke belakang.
Kadang mereka menyelinap
ke dalam jeda antara dua kalimat,
menjadi rasa asing
saat menyebut seseorang
dan merasa ada yang salah
tapi tak tahu apa.
Nama yang dilupakan bukan hilang,
ia hanya bersembunyi
di sudut sunyi bahasa,
menunggu mulut yang berani mengucap
bukan karena harus,
tapi karena rindu.
Boneka yang Tidak Lagi Bermain
Ia duduk di kursi kayu yang tergores waktu,
tidak menatap siapa pun,
matanya terbuat dari kaca
yang merekam dunia
tapi tak bisa menangis.
Dahulu, tangan kecil pernah memberinya napas,
menggerakkan lengannya
seperti langit menggerakkan awan.
Kini, lengannya kaku
seperti janji yang tidak sempat diucapkan.
Ia pernah memiliki nama,
nama yang tidak tercatat dalam akta
tapi hidup dalam tawa sore hari.
Sekarang, namanya mengendap
di bawah lapisan debu dan lupa.
Di perutnya, masih terbungkus suara
yang tak pernah selesai berkata:
“Aku di sini.”
Namun tak ada jari
yang mau memutar kembali mesin kenangan itu.
Malam tidak datang untuknya lagi—
lampu tidur pun enggan menoleh.
Ia hanyalah artefak
dari masa kecil yang dicuci bersih
dengan deterjen dewasa.
Boneka yang tidak lagi bermain
bukanlah sisa,
ia adalah saksi diam
dari cinta yang tumbuh dan berpindah
tanpa sempat pamit.
Teko Tua
Di sudut rak yang jarang disapa,
teko tua berdiri seperti biarawan
yang menyimpan doa-doa lama
dalam tubuh porselennya
yang retak bukan karena usia,
melainkan rahasia.
Ia tidak hanya menyeduh teh,
tetapi memanaskan kenangan
yang menggumpal di dasar waktu—
setiap uap yang naik
adalah sisa percakapan
yang tak pernah diakhiri.
Telinganya bukan pegangan biasa,
melainkan pegangan hari-hari
yang pernah digenggam oleh tangan
yang kini sibuk menjadi asing.
Teko itu mendengar,
bahkan bisikan yang dilupakan suara.
Di tubuhnya, terdapat goresan halus
yang bukan cacat,
tapi aksara rahasia
yang hanya bisa dibaca
oleh pagi yang kehilangan aroma
dan senja yang lupa pulang.
Setiap kali ia dituangi air,
ia tidak mendidih,
ia mengenang.
Dan ketika ia dituangkan,
yang keluar bukan teh,
melainkan kemungkinan
yang dulu tak sempat dipilih.
Teko tua tidak butuh pemilik,
hanya ingin dikenang sebagai wadah
yang pernah menyatukan dua cangkir
dalam keheningan
yang lebih hangat dari kata-kata.
- Puisi Yuni Fatmawati - 21 October 2025

Rety Tanjung
Mungkin kata “wow keren” tidak cukup utk ini. Luar biasa.
Agung andri prasetyo
puisinya berisi makna yang dalam, saya suka
Rio
cakep banget, mempunyai makna yang benar2 dalam, mantappp
Rio
cakep banget, mantappp
Eunoia
Tersentuh
Ellen
Maju terus sastra indonesia
Rebo
Waktu yang membuat hidup menjadi rumit