RUQYAH

Waktu aku dibawa Pak Polisi, teman-teman mengejekku anak durhaka. Mereka bilang, aku mau membuat Ayah meninggal. Padahal, kan, aku cuma mau mengusir jin yang masuk ke badan Ayah.

Sebelumnya aku juga sering diejek mereka. Kata Afna, aku ini anak lonte. Aku diam saja. Aku tidak tahu artinya apa. Waktu aku mau bertanya sama Ibu, ia sudah pergi sama Om Fafa. Aku tunggu-tunggu, Ibu tidak pulang-pulang. Lalu aku ketiduran. Besoknya aku masuk ke kamar Ibu. Aku lihat, mulut Ibu banyak sekali busanya. Aku bangunkan, Ibu tidak bangun-bangun. Aku menangis kencang sekali sampai Mama Afna datang. Mama Afna bilang, Ibu sudah meninggal. Aku jadi tambah sedih karena ditinggal Ibu.

Aku juga sedih waktu Ayah pergi dari rumah. Karena Ayah pergi, Ibu jadi tidak punya teman. Karena tidak punya teman, Ibu jadi berteman dengan Om Fafa. Padahal, kan, Ibu bisa bermain sama aku. Kenapa, ya, orang dewasa tidak mau bermain sama anak-anak?

Kata Ibu, anak-anak tidak mengerti orang dewasa. Makanya Ibu mencari teman orang dewasa. Kata Ibu, Om Fafa itu orangnya baik. Sering sekali kasih Ibu uang jajan. Kalau Ayah tidak pernah kasih Ibu uang jajan. Ayah malah selalu minta uang jajan sama Ibu. Kayak anak kecil saja.

Sejak berteman dengan Om Fafa, Ibu jadi tidak punya waktu lagi sama aku. Ibu lebih sering bermain sama Om Fafa. Ibu dan Om Fafa sering bermain di kamar.  Aku tidak boleh mengganggu. Padahal, kan, aku anaknya. Aku juga ingin bermain dengan Ibu. Tapi Ibu malah menyuruhku menonton tivi kalau Om Fafa datang. Jadinya aku selalu menonton film vampir. Awalnya aku takut menonton sendirian, sampai-sampai aku minta dibelikan petasan sama Ibu dan Om Fafa biar tidak diganggu vampir. Tapi lama-kelamaan aku malah jadi bosan menonton film vampir. Tidak seru lagi kalau sudah tahu. Vampirnya pasti kalah kalau sudah dilempari petasan dan ditempeli kertas doa di jidatnya.

Sebenarnya teman bermain Ibu tidak hanya Om Fafa. Tapi om-om lain yang tidak kukenal. Aku hanya kenal sama Om Fafa saja. Soalnya Om Fafa sering kasih aku es krim. Tapi sejak Ibu meninggal, Om Fafa tidak pernah lagi kasih aku es krim. Tapi aku senang karena Ayah akhirnya pulang.

Sejak Ayah pulang, teman-temannya jadi sering main ke rumah. Mereka kadang juga suka menginap di rumah. Tapi aku tidak suka kalau mereka menginap di rumah. Mereka jahat. Aku jadi takut. Mereka sering memeluk dan menciumku. Aku tidak suka bau napas mereka. Badan mereka juga bau.

Aku juga jadi sering menangis kalau teman-teman Ayah menginap. Pantatku sakit sekali. Aku tidak berani mengadu ke Ayah. Ayah selalu marah kalau aku bicara. Kata Ayah, anak kecil tidak boleh banyak bicara. Kalau banyak bicara itu namanya nakal. Kalau aku nakal, Ayah pasti pergi lagi. Aku tidak mau Ayah pergi. Aku tidak mau tinggal sendirian lagi.

Kalau teman-teman Ayah datang, aku selalu pergi ke masjid. Di sana ada Pak Ustad. Pak Ustad itu adalah guru mengaji. Mengaji itu kayak pelajaran membaca. Tapi bukan bahasa Indonesia. Pak Ustad orangnya baik. Aku boleh duduk di dalam masjid sama Pak Ustad dan abang-abang yang lain. Mereka belajar mengaji, tapi aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti bahasa Indonesia.

Selesai mengaji, abang-abang dan Pak Ustad pulang. Tapi aku tidak mau pulang. Kata Pak Ustad masjidnya mau dikunci. Pak Ustad bertanya kenapa aku tidak mau pulang. Aku tidak menjawab. Pak Ustad bertanya lagi di mana rumahku. Kata Pak Ustad, ia mau mengantarku pulang. Tapi, kan, aku tidak mau pulang. Jadi aku tidak menjawab. Pak Ustad keluar sebentar. Terus masuk lagi. Pak Ustad bilang, sudah tahu rumahku di mana. Akhirnya aku diantar pulang sama Pak Ustad.

Sewaktu Pak Ustad mengantar, aku bilang, tidak mau pulang kalau ada teman-teman Ayah di rumah. Aku mau di masjid saja. Aku takut sama teman-teman Ayah. Pak Ustad bertanya kenapa aku takut sama teman-teman Ayah. Aku tidak menjawab. Pak Ustad bertanya lagi sambil jongkok. Lalu aku menangis. Aku bilang sama Pak Ustad kalau pantat aku sakit sekali. Pak Ustad bertanya siapa yang jahat sama aku. Aku bilang teman Ayah. Pak Ustad mengelus kepalaku dan mengajakku pulang ke rumahnya. Aku tidak jadi pulang ke rumah. Padahal rumah aku sudah dekat. Aku juga bisa dengar suara teman-teman Ayah tertawa. Mereka berisik sekali. Tapi aku senang. Malam itu aku tidur di rumah Pak Ustad. Ternyata Pak Ustad tinggal sama Bu Ustad. Bu Ustad juga baik sama aku. Aku tidur ditemani Bu Ustad. Kamar Bu Ustad dingin. Aku tidur nyenyak sekali, kata Bu Ustad.

Besoknya aku diantar Pak Ustad dan dua bapak-bapak pulang ke rumah. Pak Ustad ketuk-ketuk pintu rumah, tapi Ayah tidak buka-buka. Pak Ustad ketuk lagi kencang-kencang, baru Ayah berteriak. Waktu Ayah buka pintu, Pak Ustad langsung menyuruh aku masuk ke dalam. Kata Pak Ustad, ia mau bicara sama Ayah. Anak kecil tidak boleh mendengar. Aku langsung masuk ke dalam kamar.

Sejak hari itu, teman-teman Ayah tidak pernah datang lagi ke rumah. Tapi Ayah jadi sering pergi dan marah-marah. Aku tidak tahu kenapa Ayah marah. Ayah cuma bilang kalau aku mengadu yang enggak-enggak ke Pak Ustad.

Setiap sore Ayah selalu pergi. Pulangnya selalu pagi-pagi. Kalau pulang, Ayah selalu ngomel-ngomel. Tapi, aku tidak mengerti, Ayah bilang apa. Jadi aku diam saja. Karena aku diam, Ayah jadi tambah kesal dan marah sama aku dan memukulku. Aku jadi sering dipukul kalau Ayah pulang pagi-pagi. Padahal, kan, aku tidak salah. Badan dan pipiku jadinya sakit sekali. Setelah itu, Ayah tidur lama sekali. Ayah kalau tidur nyenyak. Ayah selalu bangun kalau sudah sore. Lalu setelah mandi, Ayah pergi lagi. Aku jadi tidak punya teman kalau di rumah.

Jadinya aku sering ke masjid kalau Ayah pergi. Aku diajari mengaji oleh Pak Ustad. Kata Pak Ustad aku pintar. Aku cepat bisa kalau Pak Ustad mengajar. Kata Pak Ustad mengaji itu baik. Kalau kita mengaji, Allah jadi senang. Kalau Allah senang, kita bisa masuk surga. Pak Ustad bilang, di surga itu enak sekali. Banyak makanan dan mainan. Banyak teman juga. Aku jadi sering mengaji biar Allah senang.

Kalau habis dipukul Ayah, aku jadi tidak bisa mengaji. Mulutku sakit sekali kalau dibuka. Padahal kalau mengaji harus buka mulut biar bisa didengar Pak Ustad. Tapi aku tetap pergi ke masjid. Walaupun aku sedang tidak bisa mengaji, aku senang mendengar abang-abang mengaji.

Abang-abang di masjid bilang, mereka kasihan sama aku karena sering dipukulin sama Ayah. Mereka bilang, ayahku itu kayak setan. Setan itu adalah jin. Pak Ustad bilang, jin itu adalah makhluk gaib. Kita tidak bisa lihat. Mereka suka sekali masuk ke badan orang-orang. Apalagi kalau pikirannya kosong. Orang-orang kemasukan jin biasanya suka ngomong enggak jelas. Mereka juga kasar dan suka memukul kalau dipegang. Pantas saja abang-abang bilang Ayah kayak setan. Ayah, kan, suka memukul aku.

Kata Pak Ustad, Ayah sering memukul aku karena pengaruh khamr. Aku tidak tahu apa itu khamr. Pak Ustad bilang khamr itu adalah minuman yang bisa mengundang jin. Penjelasan Pak Ustad karena minuman khamr bisa menghilangkan akal orang yang meminumnya. Jin sangat suka kalau kita hilang akal karena ia bisa bebas masuk. Kalau jin sudah masuk, ia bisa menggerakkan badan kita sesuka hatinya. Kalau kata abang-abang kayak robot di film Power Rangers. Bedanya kalau Power Rangers itu baik, kalau jin itu jahat. Pantas saja Ayah suka jahat sama aku. Ternyata Ayah sudah dimasuki jin.

Pak Ustad bilang, orang yang kemasukan jin itu harus diruqyah biar jinnya keluar. Aku bilang sama Pak Ustad, aku mau meruqyah Ayah biar jin di badan Ayah keluar. Tapi aku tidak tahu caranya. Lalu Pak Ustad kasih aku buku. Isinya doa-doa. Pak Ustad bilang, aku harus lebih rajin belajar mengaji lagi biar cepat bisa membaca Quran kayak abang-abang. Kalau aku sudah bisa membaca Quran, aku bisa membaca doa yang ada di dalam buku yang Pak Ustad kasih. Aku jadi tambah rajin biar bisa cepat membaca doa ruqyah.  

Tapi karena sering dipukuli sama Ayah, aku jadi sering tidak bisa mengaji. Aku cuma bisa duduk-duduk saja sambil mendengar abang-abang mengaji. Aku jadi sedih karena tidak bisa cepat-cepat meruqyah Ayah. Karena aku sedih dan tidak punya teman bermain kalau pagi-pagi, jadinya aku hanya bisa menonton tivi saja. Padahal kan aku sudah bosan menonton itu-itu terus. Eh, aku jadi punya ide untuk meruqyah Ayah. Tapi aku harus menunggu sampai Ayah tidur nyenyak dulu. Kalau tidak, Ayah bisa marah lagi sama aku. Terus nanti aku dipukuli lagi. Aku tidak mau dipukul terus sama Ayah. Rasanya tidak enak. Sakit sekali.

Jadi, selesai menonton tivi, aku masuk ke kamar Ayah. Aku lihat Ayah sedang tidur. Mulut Ayah sampai terbuka lebar sekali. Aku panggil-panggil, Ayah tidak bangun-bangun. Aku goyang-goyang badannya, Ayah juga tidak bangun-bangun. Ayah nyenyak sekali tidurnya. Aku senang sekali karena akhirnya aku jadi bisa meruqyah Ayah.

Yang aku lakukan, pertama-tama, buku doa dari Pak Ustad aku robek. Kata Pak Ustad itu buat aku saja. Jadi aku pikir tidak apa-apa kalau dirobek. Terus, aku tempel di petasan yang Ibu dan Om Fafa belikan untukku. Petasannya besar sekali. Terus, petasannya aku masukin deh ke mulut Ayah. Ayah lucu sekali. Hihihi. Tapi korek Ayah di mana, ya? Aku mencari-cari korek Ayah, tapi tidak ketemu-ketemu. Aku mencari lama sekali. Eh, ternyata koreknya ada di kantong celana Ayah. Langsung saja aku ambil koreknya. Terus …

… aku nyalakan petasannya. Duar! Kepala Ayah meledak.

2 November 2025

Reja Fahleza
Latest posts by Reja Fahleza (see all)

Comments

  1. Zelda Imtiyaz Reply

    Dikemas dari sudut pandang anak kecil, menarik. Saya tercengang dengan plot twistnya 😭😭

  2. Salsa Reply

    Kaya lagi baca tulisan bocah SD. Hoki bgt penulis nya, tulisan asal asal begini bisa di muat

    • Admin Reply

      kan memang dari sudut pandang anak kecil, kak :((((

      btw “penulisnya”, bukan penulis nya. dimuat, bukan di muat πŸ™‚

      terima kasih sudah mampir di sini, kak πŸ™‚

  3. Anna Hikari Reply

    Wah! Ceritanya sangat menarik. Penulis berhasil membuat saya seolah-olah merasakan apa yg dirasakan oleh si anak kecil itu. Seperti mendengarkan curhatan anak kecil secara lgsg. Tragis dan kasihan…

  4. naisa. glksia Reply

    bang gw ngakak pliss😭😭

  5. Ibnu Reply

    pak ustad punya istri namanya bu ustad?

  6. Inda Reply

    Keren bgt caranya mengemas cerpennya, suka!

  7. Ashyafaa Reply

    Plot twist-nya membuat saya tercengang. But, overall, ceritanya bagus, dan seru banget!!!

  8. Ntong Reply

    Kayak gini cerpen Basabasi sekarang??

  9. syahi Reply

    dapet banget sudut pandang anak kecilnya!

  10. axellaazkania Reply

    kerenn dan lucu dan kocak banget baca nya jadi ga bosen dehh

  11. Noname Reply

    Apa-apaan ini, cerpen ko giniπŸ˜‚
    Sekelas basa-basi muatnya tulisan kek gini.

Leave a Reply to naisa. glksia Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!