Sajak-Sajak Khalish Abniswarin

Sudah Lama Kata Itu Tak Terucap

: slank

Sudah lama ular merambat menjadi akar.

Ia tak mampu lagi membisikkan busuk dusta.

Pada tangkai buah khuldi.

Pada patahan tulang sulbi.

Sudah lama ia merampas lidah kita.
Sejak tangis pertama. Kita mulai tenggelam dalam lautan kata-kata.
Semakin jauh. Meninggalkan kayuh dan deru ombak bahtera Nuh.

Sudah lama kalimat itu tak terucap.

Meski sepatah kata.

Hanya ingatan yang ada di kepala.

Kapal kenangan kita.

Mengapa Aku Ingin ke Yogya

:kla

Ibu kota hujan gas air mata
Langit mendung abu-abu mesiu
Desah napas penembak jitu
Dada yang gugup menahan laju peluru
Itu sebabnya aku
Ingin sejenak hilang
Ditelan deru kotamu.

Akan ada sebuah sudut di dunia
Tak ada baliho dan iklan politik.
Dipancang di mana-mana. Mengancam pelancong dan pedagang kaki lima.
Bahkan di tubuh kita
Hanya ada kain batik
Dan tulisan kata-kata yang baik.
Itu sebabnya
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi.

Merasa sendiri. Merasa piatu.
Menunggu musim semu di Stasiun Tugu.
Ada yang menuhankan waktu. Tak mampu menahan rindu.
Ternyata sampai hari ini
Aku terlalu mudah tersakiti
Bila hati mulai sepi
Tanpa terobati.

Sebelum Januari

: GF

bahwa
ratusan ayat
suratan hayat


telah dituluskan amal
telah dituliskan lama
jauh hari
bahkan
sebelum Januari

Senja Saat Itu

Mercusuarku tak berhenti pada jam dua dini hari.

Di tangannya benih-benih mutiara.

Laut dan langit menyambut musim panen kejora.

Matahari masih betah membuta.

Menyelimutkan tubuhnya di balik batu bata.

Ada yang takut ia temui.

Bayangan tubuhnya sendiri.

Malam membuka pintu.

Matahari pulang karena rindu.
Senja saat itu.

Tuhan menciptakan waktu

sepasang kekasih bertemu

Rahasia di Balik Topi

:Juru Baca

Seorang penyair menyembunyikan kata-kata

yang mulai rontok di kepalanya.

Musim menyeleksi jambul diksi.

Seorang penyair menyamarkan kata

yang mulai memutih

di balik topi pandora yang tak selalu hitam.

Waktu lebih dahulu

menyemir rambutnya dengan warna

yang lebih tua dari usia.

Seorang penyair sibuk berbicara

di depan kamera. Karena dunianya kini

adalah ruang sesempit kamar mandi.

Ia bisa bercerita apa saja. Tentang dirinya

dan sejumlah kata yang tak lagi  ingin jadi rahasia.

Latest posts by Khalish Abniswarin (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.