Setrika

Kutulis cerita ini lewat bantuan amarah Abah, bahwa Ibu berselingkuh. Mata Abah memerah. Tangan Abah juga mengepal. Aku baru datang dari sekolah, tidak mengerti situasi. Ibu sedang menunduk sambil garuk-garuk pergelangan tangannya.

Baik Abah atau Ibu, keduanya sama-sama keras kepala, mudah menganggap besar sebuah perkara. Ibu mengajari jangan menunduk bila tidak bersalah. Namun, kali ini Ibu melakukannya.

Memang aku ragu, takut sekali dianggap lancang. Terpaksa kukatakan, “Ada buktinya, Bah?”

“Ibumu melicinkan pakaiannya setiap mau bekerja!” Sebab Abah melengos, telunjuknya yang bergetar justru lurus kepada diriku.

“Ibu pinjam setrika di tempat kerja?” Aku terheran-heran karena justru Ibu mengambil posisi duduk di lincak dan mulai menggosok pakaiannya.

“Ibu baru saja membelinya.”

Tidak jarang, bila ada acara penting di sekolah, Ibu diam-diam membawa baju seragamku ke tempat ia bekerja untuk curi kesempatan menyetrika di sana. Jelas kami bukannya tidak peduli kepada penampilan, tetapi ketiadaan alat pelicin pakaian.

Kamarku yang hanya tertutup kelambu berwarna cokelat tersibak. Ibu masuk sambil membawa seragamku. “Sudah Ibu setrika.”

“Terima kasih, Bu. Punya Abah tidak disetrika?”

“Buat apa? Abahmu ‘kan sekadar pergi ke masjid. Bukan sesiapa juga yang bakal memperhatikan kusut tidaknya. Abahmu hanya dikelilingi anak-anak yang mau mengaji.”

“Kalau baju Ibu, diperhatikan siapa?”

Katakanlah kalau aku mulai kelewatan. Ibu langsung keluar. Sepertinya ia marah. Aku takut tidak ada sarapan pagi ini, tetapi nasi goreng dengan telur ceplok sudah bertengger di meja makan. Tempat makan kami yang entah bagaimana caranya Abah memakunya sehingga menyatu dengan dinding tripleks kamarku.

Meski sudah berseragam lengkap, aku bukan bermaksud ke sekolah, malah melenceng ke jalan menuju tempat Ibu bekerja. Sebuah rumah di ujung perbatasan kampung menuju jalan besar kota.

Napasku hampir habis dibuat berlarian. Tidak jarang orang-orang menengok ke arahku seperti kode pertanyaan hendak ke mana, tetapi hanya aku balas senyuman. Supaya memudahkan berlari, rok biru biru tua yang aku kenakan sedikit diangkat.

Sejujurnya aku tidak percaya Ibu melakukan hal keji seperti itu kepada keluarga kami. Namun, mengingat kemarahan Abah, bisa aku bayangkan hal itu benar-benar sudah Ibu lampaui.

Aku sudah mencapai gerbang rumah tempat Ibu bekerja. Ada papan bertuliskan: Andry Laundry. Namanya laki-laki? Ah, usaha yang tidak disangka bila pemiliknya bukan perempuan. Sejenak aku berpikir mungkin saja nama anaknya.

Tanganku berhasil mencengkeram besi pagar. Aku lihat Ibu sedang membawa sekeranjang pakaian dan satu buah setrika berada di tumpukan paling atas. Gagangnya berwarna merah muda seperti yang aku lihat di rumah. Persis. Lalu muncul laki-laki di hadapan Ibu yang menghalangi pandanganku. Belum sempat aku memanggil Ibu, satpam menyeretku pergi.

Abah mungkin tidak menyadari perkataannya minggu lalu yang aku dengar. Mereka bertengkar lagi selagi aku tertidur. “O, kamu lupa istri siapa?”

“Kuli bangunan yang sesekali saja bekerja?”

“Heh! Apa kamu hanya bisa merendahkanku? Karena sudah bisa bekerja? Tidak kamu hormati posisiku sebagai guru mengaji? Apa yang akan mereka katakan bila aku beristri perempuan tidak punya harga diri!”

Pekerjaan Abah memang hanya sebatas kuli bangunan dan malamnya mengajar anak-anak kampung mengaji. Namun, Abah bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab kepada keluarga. Aku rasa ia berat hati juga membiarkan Ibu bekerja, tetapi keadaan kami tidak bisa dikatakan berkecukupan.

Kadang Ibu juga meluapkan keresahan saat kami makan bersama. “Seandainya mengajar mengaji jadi profesi bergaji, tentu aku sudah bisa membeli setrika. Biar dilihat mereka tidak terlalu parah keadaan kita.”

“Pertama, jangan berbicara ketika makan. Kedua, kamu juga mengeluh di depan rezeki yang Allah beri sedang ada di hadapan kita. Ketiga, berhentilah mengutang perabotan rumah. Bisa kenyang saja sudah cukup. Untung sekolah anak kita gratis hanya beli seragam. Malah memikirkan beli setrika.”

Abah memang pandai menasihati. Kadang, itu semua tidak masuk logika Ibu. “Hidup bukan hanya tentang mengisi perut, Bah. Aku juga butuh beli bedak supaya muka tidak tua melebihi umurku. Kalau tidak mencicil membeli barang, memangnya sendok dan piring yang kita gunakan ada sendiri?”

“Bukannya itu hadiah pernikahan kita? Kamu justru menambah barang karena tergiur dengan tawaran tetangga. Mulai dari baskom aluminium, padahal apa bedanya dengan yang plastik soal kegunaannya?” Waktu itu Ibu langsung menanyaiku sudah kenyang apa belum.

Mengabaikan ucapan Abah, Ibu berkata, “Kalau kamu, Nak. Jangan bicara kalau lagi makan.” Aku mengangguk. Hari-hari selanjutnya, sudah tidak ada lagi pembicaraan di meja makan.

Hari Minggu, Ibu tidak bekerja. Masih pagi sudah diawali dengan komentar Abah kepada Ibu yang duduk di teras rumah tanpa mengenakan jilbab. Lalu omelan Abah berhenti ketika ada tetangga giat menjelaskan barang yang ditawarkan. Abah langsung pergi entah ke mana, mengenakan peci hitam yang sudah setengah kemerahan di bagian bawahnya.

Tetangga yang alis dan rambutnya merah itu, membawa satu barang yang dilihat dari gambar kardusnya berarti sebuah setrika. “Sungguh, kamu sudah punya setrika?”

Ibu mengangguk.

“Lho, aku pikir mau ikut arisan barang. Kamu ‘kan tinggal bilang mau barang apa. Nanti kalau sudah waktunya pengundian dan nama kamu yang muncul, kamu bisa dapat itu. Sisa uangnya juga bisa dimintai barang lain. Mudah, kan?” Ibu-ibu tetangga tadi melirik ke arahku sebelum akhirnya mencolek bahu Ibu, “Apa kamu mendapat cara yang jauh lebih mudah?”

Sepeninggal tetangga yang sepertinya ketua arisan, aku langsung mengekori Ibu masuk ke dalam rumah. Dadaku bergemuruh. Sikap Ibu membuatku belajar menduga-duga.

“Ibu, bilang sama aku. Setrika ini dapat dari mana kalau tidak mau aku lempar!”

Bahu Ibu bergetar. Ia menoleh. Lalu melotot ke arahku yang memegang setrika.

“Lempar saja.”

Jawaban Ibu begitu tenang. Ia memunggungiku. Detik selanjutnya, benda itu sungguh-sungguh aku lempar lalu teronggok begitu saja di tiang kayu utama rumah. Ibu menoleh dan menatapku dengan remang-remang air matanya.

“Minta maaf, Nak.” Abah mendorong bahuku. Aku melongo kepada Abah dengan bibir bergetar. “Abah juga akan minta maaf kepada Ibu,” katanya.

Aku sungguh-sungguh takut melangkah ke arah Ibu. Ia sedang tersedu-sedu di lantai rumah kami yang asli tanah diratakan. Abah ikut bersimpuh dan memegang kedua bahunya. Ibu mendongak dan mengatakan, “Aku menyisihkan upah kepada majikanku. Setiap hari dua ribu. Setelah dirasa cukup, aku menitip dibelikan barang yang sama ketika dia berbelanja. Lebih mudah karena tidak ada tagihan seperti di arisan.”

Buatlah sebuah karangan bebas!

Catatan tambahan: Pak Andry, mohon dimaklumi. Ini tugas pertama sejak Bapak mulai mengajar di sini, karena saking senangnya mendapat tugas mudah, saya sampai lupa menulis kalimat perintah di awal kisah.***

Firda SofiaZu
Latest posts by Firda SofiaZu (see all)

Comments

  1. Dom Reply

    Endingnya sangat menggetarkan ubun2 kepala Rocky Gerung.

  2. kiki Reply

    emosional sekali 👏

  3. Hellohayden Reply

    Bagus

  4. Hotma D.L. Tobing Reply

    Boleh juga.

  5. Afsheen Reply

    2 dari 1 bacaan yang aku baca disini. Sangat bagus!

  6. ainna Reply

    dari kalimat buatlah sebuah karangan bebas mksdnya gimana

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!