
Beliau adalah Muhammad bin al-Fadhl bin Muhammad ath-Thaqi as-Sijistani al-Harowi. Beliau adalah murid dari Syaikh Musa bin ‘Imron al-Jirufti. Beliau adalah orang yang sangat alim, baik secara ilmu lahir maupun secara ilmu batin. Bahkan, pada masanya, beliau tidak ada tandingannya.
Syaikh al-Islam berkata: “Beliau adalah syaikhku dan guruku dalam keyakinan Imam Hanbali. Karena sesungguhnya aku jika tidak berkumpul dengannya, sungguh aku tidak akan mengenal keyakinan Imam Ahmad bin Hanbali. Dan aku tidak melihat seorang pun yang memiliki kewibawaan selain beliau.”
Syaikh al-Islam mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengan beliau, berulah aku menyadari bahwa beliau itu adalah orang yang buta. Para syaikh betul-betul mengagungkan beliau. Beliau memiliki banyak karamah dan tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Beliau sungguh memiliki firasat yang tajam. Sangat titis.”
Syaikh al-Islam mengatakan: “Beliau betul-betul mengagungkanku. Bahkan beliau mengagungkanku di atas rata-rata kebanyakan orang. Dan beliau tidak mengagungkan siapa pun selainku.” Sungguh sangat mempesona perilaku beliau. Dan itu tidak mungkin kalau tidak dikendalikan oleh Allah Ta’ala.
Syaikh al-Islam mengatakan bahwa Syaikh ‘Abdullah bin Manshur mengatakan kepadaku: “Cahaya apa ini yang telah Allah Ta’ala letakkan dalam hatimu?” Maksudnya adalah betapa jelasnya cahaya itu, berpendar sangat terang sehingga tampak keluar dirinya, bahkan orang di luar ikut menyaksikan.
Syaikh al-Islam mengatakan: “Pantas sekali aku mendidik dan mensucikan nafsu hingga empat puluh tahun sampai aku bisa memahami apa disampaikan Syaikh Abu ‘Abdillah ath-Thaqi tentang cahaya itu.” Artinya adalah untuk mencapai ilmu rasa itu seseorang harus memproses selama saat itu. Itu biasanya.
Beliau wafat pada bulan Shafar pada tahun empat ratus empat belas Hijriah. Tidak saja beliau yang pergi untuk selamanya, tapi juga lingkungan tempat beliau berada di situ. Bukan hanya orang-orang dekat beliau yang menangis, tapi juga siapa pun kenal dengan beliau ikut juga menangis.
Syaikh al-Islam mengatakan: “Allah Ta’ala mengagungkan aku di atas hati Muhammad al-Qashshab dan kedua matanya. Sedangkan al-Kharaqani telah mengenal aku. Dan ketika aku masuk pasar bersama sahabatku yang mau membeli surban untuk bapaknya, Syaikh Muhammad al-Qashshab masuk bersamaku.
Beliau berkata: Pada hari ini, telah tiga puluh tahun aku duduk di sini. Dan sama sekali aku tidak pernah melihat pasar itu.” Boleh jadi bukan tidak melihat pasar itu, tapi perhatiannya yang tidak tertuju pada pasar tersebut, tapi tertuju kepada Allah Ta’ala semata. Betapa sangat hebat pandangan yang seperti itu.
Betapa sangat terpuji orang seperti itu. Hidupnya murni untuk Allah Ta’ala melalui sejumlah jalan, terutama melalui penulisan hadits-hadits yang sangat berguna bagi siapa pun. Sungguh saya sangat berharap bahwa anak-cucu saya ada kelak yang seperti itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdillah Ath-Thaqi #2 - 14 August 2026
- SYAIKH ABU ‘ABDILLAH ATH-THAQI - 7 August 2026
- Yahya asy-Syaibani #2 - 31 July 2026
