
Nama beliau adalah Muhammad bin Husin bin Muhammad bin Musa as-Sullami Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami an-Nisaburi. Beliau adalah pengarang Kitab Tafsir al-Haqaiq, Kitab Thabaqat al-Masyayikh dan beberapa kitab yang sangat banyak. Beliau adalah murid dari Syaikh Abu al-Qasim an-Nashraabadzi.
Beliau mengenakan baju khirqah, legalitas kesufian, dari gurunya ini, Syaikh an-Nashraabadzi. Syaikh an-Nashraabadzi dari gurunya, Syaikh Abubakar asy-Syibli. Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair ziarah ke Syaikh Abu al-Fadhl setelah kematian beliau. Dan mengenakan baju khirqah dari beliau.
Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami an-Nisaburi berkata bahwa beliau mendengarkan kakeknya yang menyatakan bahwa “Saya mendengarkan Syaikh Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Baghdadi bahwa tasawuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah akhlaknya, maka bertambah pula tasawufnya.”
Siapa orang yang makin berakhlak kepada Allah Ta’ala, maka dia semakin bertasawuf. Seperti apa berakhlak kepada hadiratNya itu? Menjadikan Allah sebagaimana semestinya, menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang ada, sebagai satu-satunya yang kaya, sebagai satu-satunya yang Mahakuasa.
Kalau bumi dan seluruh isinya sebagai segala sesuatu yang diadakan, langit dan seluruh isinya sebagai segala sesuatu yang diadakan. Apa saja selain Allah Ta’ala sebagai segala sesuatu yang diadakan. Segala sesuatu itu bermula dari ketiadaan. Apa pun itu.
Dalam sebuah kitab tafsir dalam wacana moralitas, apa yang dikatakan oleh Syaikh Abu Sahl as-Su’luki benar sekali. Apa kata beliau? Beliau mengatakan bahwa akhlak adalah menghindari segala macam pertentangan. Itu pada awalnya kalau pertentangan bisa dihindari.
Adapun kalau pertentangan itu sudah tidak bisa dihindari, maka kita melakukan apa yang dilakukan oleh panutan teragung, Rasulullah Muhammad Saw. Bahkan beliau beberapa kali menjadi pemimpin perang. Di dalam perang-perang itu, kebanyakan beliau menang. Adakalanya juga kalah.
Kenapa Allah Ta’ala mengalahkan kekasih terpilihNya? Kenapa Dia memenangkan peperangan juga? Kalah dan menang adalah kebiasaan yang bisa dialami oleh umat manusia. Kalau manusia tak pernah kalah, lama-lama dia meyakini bahwa dirinya akan senantiasa menang, tidak akan pernah kalah.
Sebagaimana Fir’aun yang selama empat ratus tahun tidak pernah mengalami sakit walaupun hanya flu, akhirnya dia merasa sebagai tuhan bagi masyarakat Masir sebagaimana dikutip dalam Qur’an. “Aku,” katanya dengan penuh congkak, “adalah tuhan kalian yang tertinggi,” (QS. An-Naziat: 24).
Kalau Nabi Muhammad Saw dikalahkan sebagaimana di Perang Uhud, sebenarnya hal itu merupaka. kasih sayang Allah Ta’ala kepada beliau. Terutama terhadap jiwa beliau. Agar beliau masih merasa sebagai makhluk yang tahu apa arti rendah hati yang sesungguhnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami an-Nisaburi - 2 January 2026
- Syaikh Ma’syuq at-Thusi - 26 December 2025
- Syaikh Muzhaffar bin Ahmad - 19 December 2025
