
Beliau adalah Muhammad bin Muhammad. Beliau termasuk syaikh yang agung di Nisabur. Termasuk pembesar di antara mereka. Beliau termasuk sahabat di antara para sahabat Abu ‘Usman al-Hiri. Beliau termasuk alim dengan ilmu-ilmu dzohir, juga alim dalam hakikat ilmu-ilmu batin.
Beliau termasuk mengerti tentang ilmu-ilmu mu’amalat dengan sesama, bahkan mengerti tentang perbuatan-perbuatan yang termasuk buruk di antara sesama manusia. Beliau wafat pada tahun sebelum tiga ratus dua puluh Hijriah, pada tahun yang masih sangat awal.
Syaikh Abu al-Husin al-Warraq mengatakan bahwa termasuk berderma di dalam pengampunan adalah tidak pernah menyebutkan kesalahan-kesalahan seseorang yang dicintainya setelah memberikan permaafan. Sungguh, sangat bagus sekali orang seperti itu.
Beliau juga mengatakan bahwa kehidupan hati seseorang adalah dengan cara mengingat Tuhan yang tidak pernah mati, sama sekali bukan sesuatu yang lain. Itulah kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian, itulah hidup yang penuh dengan ketentraman, bukan sesuatu yang lain.
Tanda-tanda bahwa orang itu cinta pada Allah Ta’ala adalah orang itu mencintai Rasulullah Saw. Dan Nabi Muhammad Saw adalah orang yang bisa ditiru seluruh perilakunya. Allah Ta’ala yang menyatakan perkara itu bukan seseorang yang lain yang masih nisbi perkataan dan perbuatannya.
Berbeda dengan Syaikh Abu al-Husin ad-Darraj. Sufi yang berasal dari Baghdad itu menjadi khadim, menjadi pelayan bagi Syaikh Ibrahim al-Khawwash. Beliau wafat pada tahun tiga ratus dua puluh Hijriah bersama Syaikh Abubakar ad-Dimasyqi dan Syaikh Abu ‘Imran al-Muzayyin ar-Razi.
Syaikh al-Islam mengatakan bahwa Syaikh Abu al-Husin ad-Darraj datang dari Baghdad untuk menziarahi Syaikh Yusuf bin al-Husin. Syaikh Yusuf bin al-Husin berkata kepadanya: “Kenapa kau datang ke mari?” Yang ditanya menjawab: “Untuk berziarah kepadamu dan menyaksikanmu.”
Syaikh Yusuf bin al-Husin berkata lagi: “Jika seseorang memberikan perempuan cantik kepadamu dan rumah yang senantiasa berhias, apakah itu akan mencegahmu untuk menziarahiku?” Yang ditanya itu memberikan jawaban: “Aku tidak tahu. Sebab Allah Ta’ala tidak mengujiku begitu.”
Syaikh al-Islam mengatakan bahwa jawaban itu lebih bagus ketimbang pertanyaannya. Dan tidak pantas untuk Syaikh Yusuf bin al-Husin untuk mempertanyakan hal tersebut kepada beliau. Sesuatu yang tidak seharusnya ditanyakan kepada beliau, tentu lebih baik disimpan saja pertanyaan seperti itu.
Hanya Dia sebagai satu-satunya yang mutlak di dunia ini. Selebihnya hanyalah sebagai satu atau dua atau tiga yang amburadul. Tidak ada yang mutlak di antara mereka. Yang Wajib al-Wujud hanya satu. Dari dulu, bahkan ketika kata dulunya itu tidak ada. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- SYAIKH ABU AL-HUSIN AL-WARRAQ DLL - 11 September 2026
- SYAIKH ABU AL-KHAIR AL-‘ASQALANI DLL - 4 September 2026
- Syaikh Abu Manshur Al-Anshari - 28 August 2026
