Syaikh Abu al-Qasim al-Karkani

Beliau adalah ‘Ali atau Abu al-Qasim al-Jarjani. Sangat maju secara spiritual. Hingga tidak ada tandingannya di zamannya. Nisbah khirqah atau baju kebanggaannya secara rohani bersambung kepada Sayyid ath-Thaifah, Syaikh Abu al-Qasim Junaid al-Baghdadi.

Beliau bersambung kepada Syaikh Junaid al-Baghdadi melalui tiga perantara: Syaikh Abu ‘Utsman al-Maghribi, Syaikh Abu ‘Ali al-Katib dan Syaikh Abu ‘Ali ar-Rudzbari. Secara spiritual, beliau adalah seorang sufi yang sangat kuat. Beliau juga merupakan rujukan umat manusia dalam berbagai persoalan.

Beliau juga merupakan ayat Allah Ta’ala yang sanggup menyingkap berbagai kejadian murid-muridnya. Mereka, murid-muridnya itu, tentu saja keder berhadapan dengan beliau. Beliau jelas memiliki karomah yang sangat banyak, kejadian luar biasa yang terjadi pada para wali, yang sangat gamblang.

Syaikh al-Hujwiri, penulis Kitab Kasyf al-Mahjub yang terkenal itu, mengatakan bahwa kondisi rohani beliau sangat mengalami kemajuan di perjalanan, sementara keagungan Syaikh Abu al-Qasim al-Karkani sangat sulit untuk dipahami oleh beliau. Maka, Syaikh al-Hujwiri pergi kepada Syaikh Abu al-Qasim al-Karkani.

Syaikh al-Hujwiri mendapatkan beliau di sebuah masjid yang ada di dekat rumahnya. Sementara di tiang masjid itu ada seseorang yang menyebutkan peristiwa yang dialami oleh Syaikh al-Hujwiri. Beliau kemudian merasa menemukan jawaban tanpa bertanya terlebih dahulu.

Beliau kemudian berkata kepada Syaikh Abu al-Qasim al-Karkani: “Wahai  Syaikh, ini semua terjadi pada diriku.” Beliau berkata kepada Syaikh al-Hujwiri: “Wahai anakku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah membuatku berbicara tentang peristiwamu hingga kau menyampaikannya kepadaku.”

Pada kesempatan lain, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair dan Syaikh al-Qasim al-Karkani duduk di atas kursi, sementara jama’ah berjubel-jubel di antara keduanya. Terus, tiba-tiba muncul krentek di antara salah satu mereka: bagaimana keadaan rumah mereka berdua?

Pertanyaan seperti itu sebenarnya muncul di dalam hati yang tidak mungkin diketahui kecuali oleh orang yang dekat kepada Allah Ta’ala. Tapi kemudian Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kepada orang yang di dalam hatinya muncul krentek itu dan beliau berkata kepadanya:

“Siapa yang berkehendak melihat kepada dua sultan dalam satu waktu, satu tempat, satu kursi, hendaklah dia memandang kepada tempat ini.” Setelah orang itu mendengarkan kata-kata Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair, Allah Ta’ala mengangkat hijab dari pandangannya. Hingga tampak kebenaran kata-katanya.

Benar kemudian kalau keduanya itu lebih mulia ketimbang siapa pun pada masanya. Kemudian muncul lagi krentek di hatinya: adakah seseorang lebih mulia dari keduanya di muka bumi ini? Syaikh Abu Sa’id kemudian menoleh kepada orang itu dan berkata: “Wahai anakku, kerajaan dunia ini menjadi hina kalau tak ada setiap hari Abu Sa’id, dan yang seperti Abu al-Qasim 70 ribu, dan yang mati seperti Abu al-Qasim sebanyak 1000 orang.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!