Syaikh Abu ‘Iqal al-Maghribi

Hossein Irandoust / Darvish series from the ‘Spirituality in Motion’ / Courtesy of Pro Art Gallery and the Artist

 

Beliau adalah Ghalbun bin al-Hasan bin Ghalbun Abu ‘Iqal al-Maghribi. Hidup di Kairouan, Tunisia, pada abad ketiga Hijriah. Bersahabat dengan Syaikh Abu Harun al-Andalusi. Wafat di Mekkah pada sekitar tahun 290 Hijriah.

Beliau adalah contoh konkret dari konsepsi “Hijrah Spiritual” yang bisa diteladani oleh siapa pun yang membutuhkannya. Bagaimana mungkin tidak, semula beliau merupakan orang yang bergelimang dengan kekuasaan, kemewahan, dan kesia-siaan secara spiritual.

Akan tetapi beliau kemudian merasa terbebani dan tersiksa oleh semua yang ditekuninya itu. Beliau lalu memutuskan untuk meninggalkan semuanya dan bertekad untuk menggantinya dengan episode-episode hidup yang jauh lebih cemerlang secara spiritual. Sesal datang bertubi-tubi, lalu muncul benih-benih harapan dan sayap-sayap rohani.

Mula-mula beliau meninggalkan Kairouan, Tunisia. Bergerak ke arah timur sebagai seorang asketis baru yang di dalam hatinya telah bertekad mengucap sayonara kepada segala masa silamnya yang suram. Diam-diam beliau juga sedang mempelajari tasawuf. Bergerak ke arah timur, seolah bukan di daratan, tapi di angkasa kesadaran yang baru.

Mula-mula bermukim di Mesir selama beberapa waktu. Dan karena Mesir hanyalah tempat transit, beliau lalu bergerak lagi ke arah timur, menuju kota idaman yang sedang diimpikannya. Itulah kota Mekkah Mukarromah. Di sana beliau mengambil “posisi yang sangat strategis” dalam konteks pengabdian sosial. Yaitu, sebagai pemberi minum kepada para jama’ah haji yang menjadi tamu-tamu Allah Ta’ala di Baitul Haram sehingga beliau dijuluki sebagai jeding Tanah Haram (Hamamah al-Haram).

Di tempat barunya itu, beliau menekuni dan mendalami ilmu hadis, tasawuf, dan sastra. Sampai menempati derajat alim di semua bidang yang dipelajari tersebut. Beliau pernah menuliskan sesalnya pada masa silam, pada baris-baris yang menawan sebagaimana berikut ini:

“Sungguh telah kutinggalkan para kekasih dan kenalan/ Kuputus tali hubungan dengan gerombolan kesia-siaan/ Kutangisi masa lalu yang kelabu/ Karena demi kesenangan aku telah tertipu/ Moga Dia yang berlimpah karunia/ Menghidupkan hatiku dengan derita.”

Bertahun-tahun beliau tidak pulang ke kampung halamannya di Kairouan, Tunisia. Bahkan sampai akhirnya beliau wafat di Mekkah. Saudara perempuan beliau, Mahriyah binti al-Hasan bin Ghalbun, pernah beberapa kali menulis dan mengirim surat untuk beliau. Di antara kalimat yang ada di dalam suratnya adalah sebagaimana berikut ini: “Demi puting susu ibu di mana engkau dan aku dulu pernah menyusunya ketika masih bayi, tolong pulang, aku ingin menyaksikan wajahmu sebelum datangnya kematian, sebelum kita meninggalkan alam yang fana ini.”

Lantas setelah membaca surat demi surat dari saudara perempuannya itu beliau pulang? Ternyata tidak. Bahkan beliau menulis surat balasan yang berisi penolakan untuk pulang. “Aku tidak akan meninggalkan sebuah negeri,” tulisnya, “di mana aku telah mengenal Allah di dalamnya. Aku tidak akan kembali ke sebuah negeri di mana aku dulu selalu berbuat dosa di situ. Aku khawatir, kalau pulang aku akan dicekam lagi oleh dosa-dosa di masa lalu.”

Pelajaran rohani macam apa yang bisa kita ambil dari perjalanan hidupnya? Pertama, kesadaran dan kesanggupan untuk mengambil jarak dari timbunan dosa-dosa yang telah menggencetnya di masa muda. Padahal jelas bahwa hal itu sama sekali tidak mudah. Sebab, konon setiap orang yang semakin terjerumus ke tengah kubangan dosa akan menjadi semakin sulit untuk membebaskan diri dari belenggunya.

Kedua, kesungguhan beliau di dalam menebus hamparan dosa di masa silam dengan berbagai macam kebaikan dan perilaku yang sangat terpuji. Menimba air zamzam dan membagi-bagikannya kepada para jama’ah haji adalah tindakan yang begitu luhur. Demikian pula dengan menyelami ilmu hadis dan tasawuf, lalu mengamalkannya dengan seindah mungkin, sungguh merupakan tindakan yang sangat menawan. Sebuah tauladan dari akhir kehidupan yang sedemikian memukau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.