
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa hijab antara Allah Ta’ala dan hambaNya bukanlah bumi, bukanlah langit, bukanlah ‘arsy atau istana, bukanlah kursi. Tapi jelas bahwa hijab itu adalah nafsumu sendiri. Tinggalkan nafsumu dan mari bergabung bersama kami kemari.
Jadi, benar sekali keterangan dalam Kitab al-Hikam karya Syaikh Tajuddin ibn ‘Athaillah as-Sakandari bahwa asal-usul dari segala pengingkaran, lupa kepada hadiratNya, dan syahwat kepada apa pun selain Allah Ta’ala adalah rida atau setuju terhadap nafsu. Itu saja. Tidak ada yang lain.
Sebaliknya, asal-usul dari segala ketaatan, dari segala keterjagaan dari kantuk kelalaian, dari segala kebaikan adalah tidak rida sama sekali terhadap nafsu. Maka, janganlah rida kau sama nafsumu, kau akan jadi pabrik kebaikan demi kebaikan. Engkau akan senantiasa nikmat mengerjakan kebaikan.
Jadi, jelas bahwa andaikan tidak ada nafsu yang bejat, maka sama sekali tidak diperlukan adanya perjalanan kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya hadiratNya itu sangat dekat dengan diri kita, tidak tertabiri oleh apa atau siapa pun. Bahkan lebih dekat kepada kita ketimbang apa saja yang terdekat dengan diri kita.
Musuh yang paling akut terhadap diri kita adalah nafsu buruk kita sendiri. Tidak apa pun yang lain. Bahkan seandainya nafsu yang buruk itu sudah kita kalahkan, sudah kita ganti dengan berbagai keinginan terhadap kebaikan, maka seluruh potensi dalam diri kita akan berubah menjadi kebaikan.
Di saat itu kita akan berjumpa secara rohani dengan golongan para rasul, dengan golongan para nabi, dengan golongan para wali. Absyir bi muwafaqah an-nabiyyin: bergembiralah karena adanya perjumpaan dengan para nabi. Betapa riang dan gembira yang sungguh luar biasa.
Sungguh, betapa perjalanan melintasi nafsu itu sangat sulit. Bahkan mustahil kita akan berhasil menyebranginya seandainya kita tidak mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala. Maka jelas, dalam perkara menjalankan ajaran-ajaran agama, kita sangat butuh pada Allah dan wajib mendapatkan pertolongan hadiratNya.
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berkata bahwa pada suatu hari beliau berada dalam sebuah perjalanan. Beliau sampai di sebuah desa. Beliau mengatakan bahwa di sana ada salah seorang syaikh yang bernama Dad. “Adakah seseorang yang mau berkumpul dengannya?” tanya beliau kepada orang-orang yang ada di sana.
Mereka menjawab bahwa di sana ada seseorang yang diberi umur panjang. Beliau seorang laki-laki yang berwibawa dan bestari. Salah seorang dari mereka bertanya: “Apakah engkau pernah melihat Dad?” Dia menjawab bahwa dia melihatnya dalam rupa yang masih sangat muda. Terus dia bertanya lagi:
“Adakah engkau mendengar sesuatu tentang dia?” Yang ditanya itu menjawab: “Aku betul-betul tidak kuat untuk mendengarkan kata-katanya. Tapi satu kalimat dari beliau aku menghafalnya dengan pasti. Pada suatu hari, Dad duduk-duduk di suatu tempat. Seseorang yang berpakaian compang-camping datang kepada beliau dan mengucap salam.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi - 30 January 2026
- SYAIKH ABU SAHL ASH-SHU’LUKI - 23 January 2026
- SYAIKH HUSIN BIN MUHAMMAD AS-SULLAMI - 16 January 2026
