
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa penafsiran ayat “Dan mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya daripada ibadah yang lain,” (al-‘Ankabut: 45), tidaklah berarti ketika engkau mengingat hadiratNya, sama sekali tidak, tapi ketika Allah Ta’ala mengingat namamu.
Ini jelas mengingatkan saya bahwa selama ini saya beranggapan kalau saya mengingat Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat saya. Ternyata tidak demikian. Dialah yang pertama kali mengingat saya, baru saya belajar dari hadiratNya bagaimana saya bisa mengingat Dia. Bahkan Dialah yang pertama kali berbuat kebaikan.
Andaikan Dia tidak mengerjakan kebaikan, tidak mungkin ada seorang pun di dunia ini yang mengerjakan kebaikan. Dalam perbuatan baik apa pun, Dialah yang pertama kali mengerjakannya, tak mungkin yang lain. Karena itu, hakikat yang mengerjakan shalat itu adalah Allah Ta’ala semata.
Kita hanyalah sarana dalam mengerjakan shalat. Hakikatnya Allah menghadap kepada Allah. Di sini yang berlaku adalah al-‘abid wa al-Ma’bud wahid, yang menyembah dan disembah itu hakikatnya satu. Jadi, pahamilah bahwa kita itu hanyalah merupakan sarana, tak lebih dari itu.
Terus, di manakah dari dimensi zhahir dzikirmu itu? Ya, tentu saja berada pada dirimu, bukan berada pada orang lain. Yang jelas, Allah Ta’ala meliputi seluruh diri kita, meliputi dunia ini, bahkan tidak ada apa pun kecuali Allah meliputinya. Sayangnya adalah, kita seringkali tidak merasakan hadiratNya.
Karena itu, laki-laki tersebut bertanya kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair: “Di manakah aku akan mencari Allah Ta’ala?” Beliau memberikan jawaban: “Di mana pun engkau mencari Allah Ta’ala, kau pasti mendapatkan hadiratNya, tidak mungkin tidak. Allah itu Mahagamblang, Mahanyata.”
“Tapi engkau perlu hari-hati. Sebab, Allah juga Mahasamar.” Laki-laki itu makin lama makin bingung, bagaimana mungkin di satu sisi Mahagamblang dan Mahanyata, sementara di sisi yang lain Mahasamar? Ya, dalam diri Allah ada sifat-sifat yang kontradiktif, yang berlawanan.
Di satu sisi Allah Yang Awal, karena segala sesuatu bermula dari Allah. Sementara di sisi yang lain, Allah juga Yang Akhir, karena segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Karena itu, Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa tidak ada tujuan apa pun di belakang hadiratNya. Sama sekali tidak ada.
Karena itu, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan kepada laki-laki tadi bahwa di mana pun engkau mencari Allah, pasti engkau akan mendapatkan hadiratNya kalau engkau beruntung. Kenapa kalau beruntung? Sebab, kalau Allah tidak berkehendak, tidak mungkin seseorang akan mendapatkan hadiratNya.
Jadi, mendapatkan Allah atau tidak, sama sekali tidak bergantung kepada kehendak orang itu, tapi bergantung mutlak kepada kehendak Allah. “Kepada kehendak Allah Ta’ala segala peristiwa di dunia ini bersandar,” kata Syaikh Tajuddin ibn ‘Athaillah as-Sakandari dalam Kitab al-Hikam. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi - 30 January 2026
- SYAIKH ABU SAHL ASH-SHU’LUKI - 23 January 2026
- SYAIKH HUSIN BIN MUHAMMAD AS-SULLAMI - 16 January 2026

rahma
ini tentang mengingatkan kita kepada Allah swt, bahwa kita jika tidak ada Allah swt tidak akan ada di dunia