
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair dalam kondisi bingung dan linglung berada di rumah Syaikh Abu al-Fadhl. Beliau tidak “kuat” mendengarkan tentang penjelasan sebuah ayat yang berbicara tentang Allah Ta’ala. HadiratNya itu meliputi segalanya. Sungguh, meliputi segala sesuatu.
Syaikh Abu al-Fadhl memandang kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair, lama sekali beliau memandangnya. Setelah sekian lama memandangnya, beliau mengatakan: “Apabila hatimu penuh dengan mabuk kepada Allah Ta’ala, maka jangan seorang pun yang semestinya berjalan di belakangmu berjalan di depanmu.”
Artinya adalah bahwa ini ketentuanku kepadamu, jangan pernah kau merubahnya. Atau jangan kau pernah menghapusnya. Sampai di sini, pahamkah Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair? Justru beliau semakin tidak paham, semakin kelam. “Wahai Syaikh Abu al-Fadhl, apa sebenarnya yang kau katakan?”
Syaikh Abu al-Fadhl menjawab dengan tegas: “Masuklah dan duduklah. Jaga kalimatku tadi dengan baik. Karena menjaga kalimatku adalah kesibukan.” Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mendapatkan tugas baru. Apa itu? Menjaga kalamat Syaikh Abu al-Fadhl dengan sebaik mungkin di dalam hatinya.
Setelah Syaikh Abu al-Fadhl wafat, tidak ada seorang pun dari santri-santrinya yang sanggup menguraikan persoalan-persoalanku selain hanya satu orang, yaitu Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili. Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair pergi kepada beliau. Selama setahun penuh berkhidmat kepadanya.
Berkhidmat atau tabarrukan berarti telah memiliki makna yang sangat dalam dari masa silam. Itu adalah sebuah jalan pintas untuk mendapatkan kemuliaan. Dan orang-orang yang paling mendapatkan kemuliaan karena itu adalah mereka yang mendekat secara hakiki kepada Rasulullah Saw.
Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili memiliki kedudukan yang dimuliakan di kalangan orang-orang yang fakir. Beliau berada di situ selama empat puluh satu tahun. Kalau di antara mereka yang mau melakukan shalat sunnah, beliau bilang kepada orang itu: “Kau sebaiknya tidur saja, karena aku tak melakukan itu.”
Artinya adalah semua yang dikerjakan oleh Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili sepenuhnya untuk kebaikan mereka, demikian pula yang tidak dikerjakan oleh beliau. Jadi jelas bahwa semua yang dikerjakan oleh beliau dan tidak dikerjakan adalah untuk mereka. Mereka terlarang berinisiatif sendiri.
Kenapa demikian? Tidak lain beliau mempersiapkan kekuatan yang tangguh di dalam diri mereka. Beliau tidak memperbolehkan santri-santrinya untuk melakukan shalat sunnah semata untuk mempersiapkan rasa kangen yang begitu tangguh kepada Allah Ta’ala.
Jadi, beliau mempersiapkan kekuatan batiniah dudu sebelum kekuatan lahiriahnya. Ibarat seorang bayi yang baru mau berjalan setelah berumur lima belas bulan. Sekali berjalan, langsung dia tidak jatuh-jatuh. Beda dengan bayi yang berumur sembilan bulan sudah berjalan, dia jatuh-jatuh terus. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- SYAIKH ABU SAHL ASH-SHU’LUKI - 23 January 2026
- SYAIKH HUSIN BIN MUHAMMAD AS-SULLAMI - 16 January 2026
- Syaikh Abu ‘Abdirrahman an-Nisaburi #2 - 9 January 2026

