Syaikh Abubakar asy-Sya’rani

Beliau adalah persis sebagaimana judul di atas. Saya tidak menemukan kitab yang menyebutkan nama tambahan untuk beliau. Salah satu testimoni diberikan oleh Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif: “Saya tidak pernah melihat seorang asketik yang menghindar dari perkara duniawi lebih benar secara konkret dibandingkan dengan Syaikh Abubakar sy-Sya’rani.”

Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif pernah mengatakan bahwa pada suatu hari dia bermaksud untuk pergi ke Estakhar, sebuah kota kuno yang berada di Provinsi Fars, Iran Selatan, sekitar lima kilo meter di utara Persepolis. Tujuannya adalah untuk mengunjungi Syaikh Abubakar sy-Sya’rani.

Ketika Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif berjumpa dengan beliau, beliau lalu bilang: “Wahai Abu ‘Abdillah, karena berkah persahabatan denganmu, aku bisa merasakan makan enak pada malam hari ini.” Sebuah ungkapan yang merupakan ekspresi dari kejujuran seorang sufi.

Syaikh Abubakar sy-Sya’rani berdiri. Beliau naik ke atas kuwali di atas tungku perapian. Beliau menaruh air di dalam kuwali itu. Juga menaruh garam di dalamnya. Tak ketinggalan pula daging dendengnya. Ada seseorang di “dapur” umum itu. Ia ditanya oleh Syaikh Abubakar sy-Sya’rani apakah ia memiliki remahan-remahan roti?

Orang yang ditanya itu betul-betul memberikan remahan-remahan roti kepada beliau. Beliau menjadikannya sebagai bubur. Dan di bubur itu, ditaruhlah sebuah daging sampai bubur itu matang. Kepada seseorang yang ada di “dapur” umum itu, Syaikh Abubakar sy-Sya’rani mengatakan: “Makanlah.” Orang itu lantas makan.

Kepada Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif, Syaikh Abubakar sy-Sya’rani mengatakan: “Makanlah dagingnya.” Beliau lantas mengambil sepotong daging. Beliau bermaksud untuk menyuapi Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif dengan daging itu. Tapi yang mau disuapi tidak berkenan. Sama sekali tidak mau.

“Mungkin engkau menginginkan jenis makanan yang lain. Baiklah, insyaallah hal itu mudah besok. Saya akan memasuki kota dan saya akan membelinya untukmu,” kata Syaikh Abubakar sy-Sya’rani dengan penuh keyakinan yang tidak terbantahkan oleh siapa pun. Seolah realitas hari esok itu bisa ditekuk menjadi realitas hari ini.

Betul. Keesokan harinya, Syaikh Abubakar sy-Sya’rani memasuki kota, mau membeli makanan yang ada di benaknya. Makanan untuk temannya sendiri, bukan untuk dirinya. Pada hari itu, orang-orang fakir berkumpul. Mereka membawa makanan. Syaikh Abubakar sy-Sya’rani mengambil makanan itu sedikit. Lalu, diberikan kepada temannya, Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif.

“Apa yang engkau lakukan?” tanya Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif kepada temennya, Syaikh Abubakar sy-Sya’rani. “Ketahuilah,” sambungnya, “bahwa sampai hari saya tidak makan apa pun. Dan saya berharap bahwa engkau mau makan bersamaku.” Kemudian keduanya makan bersama. Setelah makan, Syaikh Abubakar sy-Sya’rani lalu pergi ke Syiraz.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut? Mendahulukan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan diri sendiri. Itulah substansi dari perjalanan tasawuf. Mematikan ego besar di dalam diri dan menggantikannya dengan adanya kepedulian terhadap sesama. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!