Syaikh Muhammad al-Banna’

Sufi Whirl II Painting by Mawra Tahreem

 

Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mi’dan al-Banna’. Beliau termasuk salah seorang sufi yang namanya termaktub di dalam kitab Hilyah al-Awliya yang ditulis oleh Syaikh Abu Nu’aim al-Ashfihani. Hal itu menunjukkan bahwa sang sufi termasuk wali terdahulu. Karena penulis kitab legendaris itu sendiri sudah wafat pada tahun 430 Hijriah.

Saya tidak menemukan data yang berkaitan dengan tahun kelahiran dan wafat beliau. Juga tentang tempat kelahiran dan wafatnya. Akan tetapi reputasi spiritual yang melekat pada diri beliau memastikan kepada saya bahwa beliau merupakan seorang sufi yang sangat penting untuk dituliskan, biarpun hanya dengan ulasan yang sekadarnya.

Beliau mendapatkan sebutan al-Banna’ atau si tukang bangunan karena di siang hari beliau memang senantiasa sibuk menjadi kuli bangunan. Hanya sedikit sekali uang yang dipakai untuk dirinya sendiri dari hasil menjadi kuli bangunan itu. Selebihnya disedekahkan kepada para fakir yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Bersamaan dengan kesibukannya itu, setiap hari beliau mengkhatamkan Qur’an. Dan setiap malam setelah shalat ‘Isya, beliau pergi ke gunung untuk sepenuhnya bermunajat kepada Allah Ta’ala, sampai pagi. Di gunung itu, beliau senantiasa memanjatkan doa berikut ini: “Ya Allah, tolong anugerahkanlah makrifat kepadaku atau timpakanlah gunung ini di atas kepalaku. Karena sesungguhnya aku tidak ingin hidup tanpa makrifat kepada hadiratMu.”

Itulah realisasi dari seluruh waktu beliau yang semata diorientasikan untuk Allah Ta’ala, baik siang maupun malam. Juga nyata bahwa buah dari transendensi umur sang sufi itu adalah adanya kepedulian yang konkret terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung di bidang ekonomi. Di tangan beliau, agama betul-betul terealisasi dengan “bercabang dua.” Yakni, selain tegak secara vertikal, juga membentang dengan penuh kasih-sayang secara horizontal.

Semakin dalam menyelam di samudera ketauhidan, beliau semakin menikmati hidangan-hidangan nikmat keilahian. Beliau pernah berkisah tentang suatu episode dari perjalanan rohaninya yang sangat menarik bahwa ketika memasuki kota Mekkah, beliau melihat para sufi sedang duduk di sekitar Maqam Ibrahim. Beliau mendatangi dan berbaur dengan mereka.

Seseorang di antara mereka mulai membaca basmalah dengan fasih dan khusyuk, hati beliau langsung merespons dengan getaran tidak terkira, begitu mengguncang, lalu beliau menjerit sejadi-jadinya. Orang-orang yang ada di situ mencegah sang pembaca basmalah tadi untuk melanjutkan bacaannya. “Kenapa kau menjerit sebelum si pembaca tadi membaca satu ayat pun dari Qur’an?” tanya mereka kepada beliau.

“Dengan nama hadiratNya, langit dan bumi menjadi wujud. Dan dengan nama hadiratNya pula, segala sesuatu menjadi tegak. Cukuplah bagiku menyimak Bismillah saja,” jawab beliau. Para sufi semuanya berdiri, memuliakan dan mengagungkan beliau di antara mereka. Begitu takzim mereka kepada beliau. Begitu miris hati mereka menyaksikan respons rohani beliau. Sebuah pemandangan rohani yang sungguh sangat menyenangkan sekaligus mengagumkan.

Seluruh kedirian sang sufi berarti telah betul-betul tersedot terhadap kemahaan hadiratNya. Alam semesta terlampau ringkih dan transparan untuk menjadi hijab yang bisa menghalangi beliau dari menyaksikan dan menikmati Allah Ta’ala. Segala apa pun yang lain telah gugur di pandangannya.

Sufi seperti itu, hanya jasadnya saja yang terkungkung di dalam penjara dunia dan kefanaan ini. Sementara hati dan pikirannya telah menempuh kebersamaan yang begitu nikmat dan mesra dengan Sang Mahaabadi. Betapa sangat menyenangkan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.