Syaikh Yusuf Ar-Razi

pinterest.com

 

Beliau adalah Abu Ya’qub Yusuf bin Husain ar-Razi. Beliau salah seorang murid dari Syaikh Dzun Nun al-Mishri. Bersahabat dengan Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi, Syaikh Yahya bin Mu’adz ar-Razi, dan lain sebagainya. Wafat pada tahun 304 Hijriah.

Beliau adalah seorang sufi yang sangat penting pada zamannya di Rey dan Iraq. Merupakan imam dan panutan yang bermahkotakan kemuliaan dan keagungan di antara para sufi. Beliau tampil sebagai seseorang yang mengikuti tarekat Malamatiyyah: berpakaian dan berpenampilan yang menunjukkan kepada umat bahwa dirinya “bukanlah” seorang sufi. Bahkan bukan siapa-siapa. Tujuannya adalah agar mereka menjauh dan memandang beliau sebagai orang yang hina. Sama sekali tidak mengharapkan adanya puja-puji dan penghormatan dari mereka.

Beliau tekun di jalan dakwah. Atas nama cinta dan penghormatan kepada umat, beliau senantiasa mengajak dan menyerukan kepada dirinya sendiri dan kepada mereka untuk semakin suntuk di dalam memproses diri agar dari hari ke hari menjadi bertambah dekat dengan Allah Ta’ala.

Sedemikian tulus dan penuh dengan kesungguhan beliau berada di jalan dakwah itu sehingga keseluruhan umurnya yang membentang digunakannya murni untuk meneguhkan diri dan orang lain di jalan lurus yang terhubung kepada hadiratNya. Tidak dalam rangka mengharapkan pamrih apa pun, baik untuk di dunia ini maupun untuk di akhirat nanti. Tapi murni untuk semakin menebalkan cintanya kepada Allah Ta’ala dan mencurahkan kasih-sayang kepada sesama manusia.

Menjelang wafat, beliau berkeluh-kesah kepada Tuhannya: “Tuhanku, aku telah mengajak umat kepadaMu sesuai dengan kemampuan dan kesungguhanku. Sementara aku tidak berbuat apa-apa untuk diriku sendiri kecuali keburukan. Maka, demi kehormatan mereka, tolong ampunilah dosa-dosaku.” Setelah mengucapkan kalimat keluh-kesah itu, beliau langsung wafat, meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenteram.

Beberapa hari setelah wafatnya, ada beberapa orang yang berjumpa dengan beliau di dalam mimpi. Mereka bertanya: “Bagaimana kondisimu sekarang?” Beliau menjawab: “Allah Ta’ala berfirman kepadaku, ‘Ulangi lagi kalimatmu yang kau ucapkan sebelum wafat itu.’ Maka, langsung kuulangi. Allah Ta’ala lalu berfirman lagi kepadaku: ‘Kuampuni engkau sebab engkau’.”

Nah, kalimat terakhir beliau yang merupakan kutipan dari firman hadiratNya itu tidak mudah untuk kita tenggak secara langsung sebagai sebuah pemahaman: “Kuampuni engkau sebab engkau.” Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi, Allah Ta’ala menyatakan demikian karena Syaikh Yusuf ar-Razi tidaklah melihat perantara bagi dirinya selain hadiratNya itu sendiri.

Betapa tajam dan jernih penglihatan batin beliau di dalam menyaksikan peran-peran Allah Ta’ala bagi dirinya, juga di sekitar kehidupannya. Sehingga dengan demikian, di pandangan beliau gugurlah dirinya sendiri, juga orang lain, sebagai “aku” yang berdiri secara otonom atau tegak dengan mandiri. Yang ada secara hakiki adalah hadiratNya belaka.

Perolehan rohani yang begitu indah dan melimpah itu beliau dapatkan dari Allah Ta’ala lewat perantara Syaikh Dzun Nun al-Mishri. “Ceritanya begini,” kata beliau. “Dulu aku pernah sowan kepada Syaikh Dzun Nun al-Mishri. Ketika aku melihatnya, terasa merinding seluruh bulu kudukku. Beliau memandangku dan berkata, ‘Dari mana kau?’ Langsung kujawab, ‘Dari Rey.’ Beliau menimpaliku, ‘Apakah bumi di sana terasa sempit hingga kau merasa perlu untuk datang ke Mesir?’ Kataku: ‘Aku ke sini untuk mengabdi kepadamu.’ Beliau malah membentakku, ‘Menjauhlah dariku, wahai pembohong’,”

Hening sejenak. Lalu, Syaikh Dzun Nun al-Mishri memberikan nasihat dengan penuh kasih sayang kepada Syaikh Yusuf ar-Razi: “Anakku, perbaikilah hubunganmu dengan Allah Ta’ala. Jangan ada kesibukan apa pun yang menghalangimu dari hadiratNya. Dan tidak usah terlalu memikirkan apa kata orang tentang dirimu. Karena mereka sama sekali tak bisa menolongmu di hadapan Allah Ta’ala. Jika sudah baik hubunganmu dengan hadiratNya, maka Dia akan menunjukkan jalan untukmu kepadaNya. Ikutilah sunnah Rasulullah Saw. dengan nyata. Dan hati-hati, janganlah kau mengakui sesuatu yang tidak kau miliki. Karena tidak ada yang telah menghancurkan kebanyakan para murid selain pengakuan-pengakuan kosong.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Hyemi Reply

    Aku tidak tau mau berkomentar apa, tapi terimakasih telah menulis cerita ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.