Mantra Jumahidin

in Cerita Pendek by
beauxartslondon.uk

Sore itu, di sebuah restoran Italia yang tak terlalu penuh, Jumahidin hendak mengelak lagi dari kematiannya tatkala ujung jari malaikat maut akan menyentuh rohnya. Sesuatu yang sudah dihafalnya di luar kepala hendak kembali dirapalkannya. Sebagaimana yang sudah-sudah, mantra itu akan selalu dirapalnya ketika ia merasa ajalnya sudah berada di depan mata. Lalu bagai memiliki kuasa setara Tuhan, dirinya akan terlempar kembali ke masa lalu.

Memang seperti itulah satu-satunya cara Jumahidin dapat lolos dari maut: kembali ke masa lalu sebelum waktu bagi malaikat maut untuk menjemputnya tiba.

Lelaki bertubuh tinggi dan kurus itu hendak mengambilkan lada hitam di hadapannya untuk Wahyuni ketika tiba-tiba saja bumi bergetar hebat: meja dan kursi seketika berlonjak dari tempatnya yang diikuti suara derak yang teramat nyaring dan berulang-ulang—mereka bagai berada di kapal yang terombang-ambing dihantam badai dan ombak. Setiap orang di sana bagai memiliki insting serupa: mereka berusaha bertumpu pada apa pun agar tak turut terpelanting, namun tetap saja mereka menjumpai ajal kala itu juga.

Guncangan itu terjadi selama 10 detik. Hanya 10 detik, namun kerusakan yang diakibatkan betapa dahsyat. Jumahidin seharusnya tewas tertimbun reruntuhan bangunan bersama yang lainnya di restoran Italia itu, tapi ia keburu merapalkan mantra andalannya dan selamatlah ia dari tubuh yang remuk lagi benyek bagai tikus terlindas mobil.

Jumahidin hilang tanpa meninggalkan satu pun jejak—sebagaimana yang sudah-sudah. Sementara Wahyuni, perempuan yang begitu dicintainya itu turut tewas tertimbun reruntuhan bangunan yang kelak ditemukan dengan raga tak lagi utuh.

Semula Jumahidin tak mengira bila mantra itu benar-benar bekerja. Bahkan ia hampir tak ingat sejak kapan dirinya sudah berada di ruang kelas ini―duduk bersebelahan dengan Wahyuni. Di tangannya terbuka buku catatan yang baru terisi dua baris kalimat. Sementara di depan kelas tampak seorang dosen perempuan tambun tengah menerangkan sesuatu entah apa.

“Heh!!!” sergah Wahyuni sedikit berbisik seraya menggamit lengan Jumahidin. Lelaki itu sontak terperanjat. “Kenapa malah bengong? Cepat catat atau kau disuruh maju lagi untuk menjelaskan seperti yang sudah-sudah,” bisik Wahyuni lagi.

Sekalipun tak mengerti bagaimana ia bisa lolos dari maut, namun Jumahidin amat yakin bila saat ini ia tengah berada di masa lalu. Sebab semestinya terakhir kali ia menyentuh bangku kuliah yakni lima tahun yang lalu—waktu ketika ia belum menikahi Wahyuni meski kemudian harus berpisah dua tahun setelahnya. Namun, sebentar kemudian ia tak peduli ada di mana dirinya saat ini, sebab yang terpenting baginya adalah ia masih bisa bersama Wahyuni.

Hanya itu yang terpenting baginya saat ini hingga nanti.

Jumahidin kemudian bagai menikmati lagi hari-harinya sehingga ia bagai lupa bahwa Wahyuni sudah pasti akan pergi meninggalkannya kelak. Dan sebagaimana di masanya dulu, Jumahidin dan Wahyuni kerap saling berkunjung ke kamar indekos, maka bukan hal tabu bila mereka kerap menghabiskan malam saling bercumbu sampai mereka pun menikah.

Hingga di satu malam ketika bulan tengah temaram dan udara begitu gerah, Wahyuni mendadak kelaparan. Sebab di kehidupannya kali ini Jumahidin tak lebih dari seorang buruh pabrik yang berpendapatan pas-pasan, tak banyak makanan yang bisa disimpannya di kontrakan sepetak itu kecuali stok mi instan atau roti. Namun malam itu tak ada apa pun yang bisa dimakan di rumah mereka. Tak tega melihat Istrinya kelaparan, maka Jumahidin pun mengajak Wahyuni untuk keluar sekadar mencari warung makan yang masih buka. Saat baru mengunci rumah, Jumahidin lekas menggenggam tangan Wahyuni. Perempuan itu merasakan genggaman yang begitu kuat namun tak menyiksanya.

“Belakangan ini kau sering menggenggam tanganku kuat. Ada apa?” tanya Wahyuni penasaran. Keningnya mengernyit dengan mata yang menyelidik heran. Lelaki itu lantas menatap perempuan itu sambil tersenyum canggung.

“Aku hanya tak ingin kehilanganmu lagi.”

“Lagi? Memang kapan kau pernah kehilanganku?”

Jumahidin hanya menjawab lewat senyum singkat namun sarat akan makna, sebelum kemudian ia menarik tangan Wahyuni untuk segera mengikuti langkahnya.

Tangan mereka masih saling menggenggam sampai mereka menyeberang jalan besar yang tampak lengang. Namun ketika mereka telah berada di tengah jalan, sekonyong-konyong di sebuah kelokan dua buah mobil melaju kencang membelah keheningan. Deru mesin menyeruak tajam, memerkosa malam yang sunyi. Lampu mobil menyorot tepat ke arah Jumahidin dan Wahyuni yang kadung terjebak di tengah jalan. Mereka tak bisa berlari apalagi menghindar. Wahyuni menjerit lantang mengetahui ajalnya telah dekat.

Dalam sekejap mata masing-masing mobil itu akan menubruk dua manusia yang tengah membatu di tengah jalan. Namun saat sejengkal lagi moncong mobil itu menyentuh tubuh Jumahidin, lelaki itu sudah lebih dulu merampungkan mantra yang biasa dihafalnya. Lagi-lagi, tubuh lelaki itu bagai lenyap diculik setan. Jumahidin terlempar lagi ke waktu lain tanpa meninggalkan sedikit pun jejak.

Sementara itu Wahyuni telah terkapar berkalang aspal dengan tubuh remuk bersimbah darah. Tubuhnya sempat melayang sejauh dua meter dan berputar-putar di udara sebelum kemudian jatuh menghantam aspal betapa kerasnya. Tengkoraknya remuk dan darah keluar dari mata dan hidung dan telinga dan mulutnya.

Kali pertama Jumahidin hendak disapa malaikat maut terjadi saat ia berada di tangga darurat kantornya yang berada di lantai 28 sebuah gedung. Sehari sebelumnya, Jumahidin sempat berjumpa dengan seorang wanita tua berkopiah hitam, tubuhnya sedikit bungkuk, dan ia tak henti mengenyam daun sirih yang membuat gigi-giginya tampak merah kekuning-kuningan. Wanita tua itu berpakaian kebaya kuno dan sebuah jarit dengan punduk entah terisi apa menggantung di pundaknya. Ia melangkah pelan menghampiri Jumahidin yang tengah termenung meratapi foto Wahyuni di dompetnya. Tampak raut kehilangan masih tergores di matanya selepas menghadiri pemakaman mantan istrinya itu beberapa jam yang lalu.

Wanita tua itu sekonyong-konyong menghampiri Jumahidin yang termangu di sebuah warung kopi. Kemudian, serta-merta mengulurkan secarik kertas lusuh ke wajah Jumahidin.

“Kau akan membutuhkan ini. Ambillah. Ini agar kau bisa memperbaiki masa lalumu yang buruk itu,” kata wanita kurus lagi berwajah keriput itu. Suaranya sedikit serak dan kering. Jumahidin sempat termangu sebentar, sebelum kemudian ia mengambil secarik kertas itu beserta rasa bingung di benaknya. Perempuan itu lantas melengos sambil terkekeh dan berkata, “Tak baik menyesali masa lalu. Tapi kembali ke masa lalu pun belum tentu membuat keadaan jadi lebih baik.”

Sehari berselang, Jumahidin dan teman sekantornya mendapati alarm kebakaran meraung betapa memekakkan telinga. Sebab dilanda kepanikan, ia beserta kawan-kawannya berlomba saling mendahului menuju tangga darurat. Dan ketika ia yang lebih dulu membuka pintu, tanpa dikira beberapa tubuh kawannya seketika menubruk dirinya. Jumahidin terdorong dan tubuhnya membentur pagar pembatas yang tingginya kurang dari sepinggangnya itu. Tubuhnya seketika terjun bebas dari lantai 28. Saat menuju pendaratan nahasnya, ia tahu bahwa ia pasti akan mati.

Namun di saat menuju kematiannya, Jumahidin teringat pada secarik kertas pemberian perempuan tua tempo hari. Tangannya pun bergegas mengambil kertas itu di saku bajunya. Barisan kalimat itu memang sukar untuk dilafalkan dan betapa asing diucapkan. Tapi untungnya panjang kalimatnya tak lebih dari lima kata, membuatnya mampu mengucapkannya tepat waktu meski harus agak terbata-bata. Dan ketika ujung rambutnya telah menyentuh lantai, tubuh Jumahidin pun lenyap seketika―tepat setelah kata terakhir terucap dari mulutnya. Dan dalam sekejap ia sudah kembali di tempat tidurnya. Di sampingnya, Wahyuni tengah lelap dengan sekulum senyum yang samar-samar tergambar di wajahnya.

Malam itu Jumahidin ingin mengelak lagi dari kematiannya saat ujung jari malaikat maut akan menyentuh ruhnya. Ia telah terbaring lemah di rumah sakit. Tatapannya kosong. Hampir sekujur tubuhnya bermandikan darah. Tulang-tulangnya telah retak dan patah. Dadanya kembang-kempis betapa cepat bagai ikan yang megap-megap saat ditarik dari jaring nelayan.

Barangkali Jumahidin menjadi satu-satunya orang yang masih bisa hidup setelah jatuh dari lantai 5 sebuah gedung. Ia jatuh tepat di atas mobil Inova hitam yang terparkir di sana. Alarm mobil meraung tiada henti saat tubuhnya membentur keras atap mobil. Sayangnya, Wahyuni yang hendak diselamatkannya justru tewas seketika saat tubuhnya langsung menghantam aspal.

Siang itu entah mengapa Wahyuni bagai orang depresi—tingkahnya ganjil. Perempuan itu saban hari hanya mondar-mandir di dalam apartemennya. Kadang kala ia meracau sendiri sampai kemudian sesuatu yang janggal terjadi: perempuan membuka lebar-lebar pintu balkon, lantas ia melangkah mundur jauh dengan tubuh tetap menghadap balkon. Wahyuni sempat berlagak bagai seorang pelari yang sedia mengambil ancang-ancang. Lalu dalam hitungan 3 detik ia pun berlari menuju jendela. Jumahidin yang saat itu sudah melihat gelagat aneh Wahyuni berniat menangkap tubuh istrinya saat baru berlari. Namun, apa daya, langkahnya sedikit terlambat. Tangannya sempat menggapai kaos Wahyuni namun terlepas sebab lari istrinya lebih cepat. Sadar Wahyuni akan melompat, Jumahidin pun segera melompat ke arah tubuh Wahyuni dengan maksud menghentikannya, namun mereka justru terjun bebas keluar jendela bersamaan. Tubuh Jumahidin pun berakhir di atas mobil Inova yang terparkir di bawah, sedangkan Wahyuni berakhir di atas aspal dengan darah yang melembak dan tubuh yang remuk.

Kesadaran Jumahidin baru kembali saat ia berada di sebuah ruangan yang serba putih dan menyilaukan. Jumahidin tahu bahwa saat itu ia akan berjumpa lagi dengan malaikat maut. Malaikat maut yang sama yang kerap dikecohnya. Namun, entah mengapa, kali itu ia enggan merapalkan mantranya. Di benaknya, ia hafal betul kondisi yang dihadapinya setiap kali terlempar ke masa lampau dan bertemu lagi dengan istrinya. Lebih dari 53 kali dan semuanya selalu berakhir dengan kematian Wahyuni.

“Rasanya memang tak ada yang bisa diubah dengan maut. Siapa pun tak dapat lolos darinya,” batinnya yang sekarat. Ia merasa percuma meski berulang kali kembali ke masa lalu dan bertemu dengan Wahyuni bila akhirnya harus melihat Wahyuni bertemu dengan maut.

Tapi setidaknya itu lebih baik, pikir Jumahidin. Setidaknya di kehidupannya yang lain ia telah memperbaiki segalanya daripada hanya berdiam diri menanggung penyesalan. Sebab ia tak lagi mengulang kesalahan yang menyebabkan Wahyuni ingin menceraikannya setelah kadung memergokinya bercinta dengan adik Wahyuni di rumah mereka. Dan dua hari berselang Wahyuni pun memilih menghadap maut dengan cara gantung diri. ***

 

Rahardian Shandy

Rahardian Shandy

Lahir di Wonogiri 1991 silam, Shandy telah rutin menulis sejak 2011. Terhitung sudah ada 4 buah buku non-fiksi bertema bisnis yang ditulisnya. Buku fiksi pertamanya terbit secara indie 2016 lalu berjudul Mariana. Silakan menyapanya di media sosial.
Rahardian Shandy

Latest posts by Rahardian Shandy (see all)