Middag in De Eendracht

in Cerita Pendek by

 

ilustrasi Middag in De Eendracht

Sore ini, Nyonya Barend meminta kami semua ke De Eendracht. Nyonya menyatakan, rijsttafel akan digelar di sana. Ia juga memastikan sekitar lima puluh sajian yang harus disiapkan. Ini pesta besar. Lima puluh sajian dikalikan jumlah nyonya-nyonya yang akan datang di soos paling tersohor di Magelang.

Kami, para pengurus dapur keluarga Barend, sebenarnya sudah terbiasa. Beberapa kali sebelumnya, kami sering membantu menyiapkan rijsttafel untuk tamu-tamu Tuan Barend yang datang dari Eropa yang jumlahnya juga mencapai puluhan dan kebetulan mampir ke Magelang. Yang membedakan mungkin tempat diadakannya saja.

“De Eendracht. Mbakyu bisa bayangkan? Ini tidak main-main. Salah sedikit saja ketika meletakkan piring-piring atau menyusun alat-alat makan, Mbakyu tahu sendiri apa yang akan terjadi pada kita,” ungkap Darsih atas ketakutan yang terbayang. Aku bersikap tenang mendengarnya. Aku menyibukkan diri dengan daftar belanjaan yang panjang.

“Kau terlalu membesar-besarkan, Darsih. Sudah puluhan kali kita melayani Tuan dan Nyonya menjamu rijsttafel untuk tamu-tamunya. Semua berjalan lancar, bukan? Sudahlah, bantu milih-milih sayuran saja. Itu Mbakyu mulai kewalahan bawa barang belanjaan,” sembur Samirah.

Uwes, uwes. Ora usah pada gerejegan. Pasar mulai panas, ki,” aku menengahi. Dan benar, barang-barang belanjaan memang mulai membuatku kewalahan, ditambah panasnya siang. Darsih dan Samirah pun sigap membantu membawakan.

Lagi pula, waktu berlari. Kami harus bergegas meninggalkan Pasar Redjowinangoen. Sedari lepas subuh tadi kami di dalam pasar dan berkeliling untuk keperluan masak perjamuan sore nanti. Kami tak ingin terlambat karena masih harus mengolah menjadi berpuluh masakan. Kang Pangat sudah menunggu kami dengan andongnya di pintu masuk pasar. Ia berlari menghambur ke arah kami begitu mengetahui kewalahannya kami membawa barang belanjaan.

***

Tepat tengah hari, semua sajian telah siap. Sajian-sajian lalu dimasukkan dalam rantang yang jumlahnya tak keruan banyaknya. Itu belum seberapa. Separuh dari rantang-rantang telah diangkut lebih dulu.

Sembari menunggu jemputan andong yang datang dan pergi mengangkut rantang-rantang sajian terlebih dulu; aku, Darsih, dan Samirah bersiap-siap diri. Tugas kami berikutnya adalah menjadi tiga di antara iring-iringan pelayan dalam perjamuan rijsttafel di De Eendracht sore ini. Kami bergegas membersihkan badan setelah mandi keringat lantaran mengolah barang belanjaan di pasar tadi menjadi berpuluh-puluh sajian masakan. Sudah siap tiga kebaya putih dengan kain jarit di kamarku.

“Pakaian sudah aku siapkan. Kalian tidak perlu pulang dulu. Waktunya sudah mepet. Sebentar lagi, pasti Kang Pangat mengetuk pintu kamar ini,” ujarku pada Darsih dan Samirah. Mereka memang tidak tinggal di rumah keluarga Barend. Hanya aku, kepala pengurus dapur, yang tinggal di sini. Lainnya yang tinggal denganku adalah beberapa pembantu yang mengurus kebersihan rumah, serta yang mengurus anak keluarga Barend.

Ketika aku dan Samirah terburu mengejar waktu, Darsih belum juga mengenakan kebayanya. Bahkan ia tak melanjutkan setagen yang sudah separuh panjangnya melilit ramping tubuhnya. “Darsih…,” aku memanggilnya untuk memastikan kalau ia masih dalam batas kesadarannya. Yang aku panggil menunduk. Sebentar. Ia lalu menghela napas dan melanjutkan lilitan setagennya yang belum tuntas.

“Aku kesel, Mbakyu,” jawabnya mangu. Nyala matanya yang bulat memang menyorotkan kelelahan.

Ora mung kowe, Darsih. Aku karo Mbakyu yo kesel. Tangi gasik, menyang pasar, masak….” Samirah lagi-lagi menimpali.

Lha, lha. Malah dibaleni meneh,” aku menengahi lagi. Lalu aku dengar ketukan di pintu kamar. “Kae, Kang Pangat wes jemput, lhek ndang!”

***

Gedung Societeit De Eendracht belum ramai. Kami, para pelayan, diturunkan di halaman belakang gedung. Di sana sudah berjajar rapi para pelayan lainnya yang nanti bertugas menjadi pengiring sajian.

Aku menghitungnya. Ganjil lima belas orang, tujuh perempuan dan delapan laki-laki. Yang perempuan tentu saja berkebaya putih, sedang yang laki-laki berbeskap juga warna putih dengan belangkon. Seperti halnya kami, mereka juga mengenakan bawahan kain jarit yang meski tak seragam tapi hampir menyerupai satu dan lainnya.

Aku menoleh kiri ke kanan mencari Nyonya Barend. Aku lihat, ia sedang berbincang dengan nyonya lainnya. Aku agak ragu apa harus menyela mereka meski kemudian Nyonya menangkap mataku. Ia melambaikan tangan, menyuruhku mendekat.

“Tini, apa semua sudah siap?” tanya Nyonya Barend begitu aku sudah di dekatnya. Aku mengangguk menunduk tanpa menatap wajah Nyonya Barend.

“Oh, ya. Nanti selesai pesta, kamu ke Apotheek van Gorkom, ya. Saya baru dapat potongan harga dari Mevrouw van Gorkom, ini.” Aku kembali mengangguk menunduk. Kedua nyonya besar itu kemudian tertawa. Aku beringsut pergi karena tugasku selesai untuk memberitahukan Nyonya Barend kalau kami semua sudah siap di belakang.

Tapi, lagi-lagi Darsih. Ia gelisah berdiri di dekat pagar kayu yang mengungkung sebatang pohon rindang yang baru berumur bulanan. Darsih berdiri menghadap ke aloon-aloon kota, tapi tangannya sibuk mematahkan daun-daun kecil pohon itu.

Aku mencoba melihat ke arah yang sama dengan yang Darsih lihat. Di sana, sedang dibangun sesuatu yang kemudian ia tanyakan padaku. “Kalau tidak salah, Tuan Karsten akan membangun sebuah toren di sana,” aku menjawab sejauh pengetahuanku sambil menunjuk ke arah masjid besar di barat aloon-aloon. “Kau tidak ingat, kita menjamu Tuan Karsten? Ia tamu keluarga Barend beberapa minggu lalu. Ia bertanya kepadamu di mana tempat tinggalmu waktu itu,” aku mengingatkan Darsih, mencoba menarik perhatiannya.

“Oh iya. Lalu Tuan Karsten bilang kalau tempat tinggalku akan dilewati pipa-pipa dari menara itu nantinya,” Darsih rupanya menyimak bicaraku. Nyala matanya masih menyorot lelah, seperti ketika ia melamunkan diri saat mengenakan setagen tadi siang di kamarku sebelum berangkat.

“Darsih, kau kenapa, Nduk?” tanyaku sambil merapikan rambut yang lepas dari tarikan ikatan rambut yang lalu menutupi daun telinganya. “Kau sakit?” Aku mencoba mengira-ngira.

Darsih lalu menatapku. Aku menangkap nyala mata itu tak hanya lelah, tapi juga menyimpan sesuatu. Ada ketakutan. Tapi, entah apa. Darsih lalu menghindari pertanyaan dengan menarik tanganku. “Ayo, Mbakyu. Siap-siap untuk rijsttafel sore ini.” Aku menatap punggung gadis ayu yang baru genap belasan tahun itu. Langkahnya berat, ada beban yang ingin ia lepaskan segera.

Ya. Rijsttafel memang akan segera dimulai. Nyonya-nyonya sudah lelah berdansa, sudah habis bahan bergosip. Nyonya Barend lalu melemparkan isyarat padaku. Sebagai kepala pengurus dapur, aku bergegas meneruskan isyarat itu ke pengurus-pengurus dapur lainnya yang sudah berubah peran menjadi pengiring. Isyarat itu berarti, sajian sudah boleh dikeluarkan satu per satu.

Sajian pertama membawa iringan nasi. Ada nasi yang digoreng, nasi kuning, dan nasi uduk. Semua diletakkan di atas meja besar di dalam gedung. Para pengiring dengan sigap berganti satu dan lainnya memenuhi meja dengan nasi-nasi itu.

Sajian kedua membawa iringan sayur dan lauk-pauk. Ada salad dengan bumbu kacang, opor ayam, sayur-mayur seperti lodeh, terik telur, tumis, rendang, semur, sate dan lontongnya, juga beraneka gorengan, bermacam sambal, dan kerupuk. Semua menggenapi ruang-ruang kosong di atas meja makan.

Nyonya Barend, yang aku kira sebagai tuan rumah dalam pertemuan sore ini, mempersilakan menikmati sajian yang ia bangga-banggakan. Berkali-kali, aku menangkap ia melempar tanya pada nyonya-nyonya, “Bagaimana, Mevrouw semua. Apa saya bilang. Tak ada yang bisa mengalahkan rijsttafel saya, bukan?” Nyonya-nyonya yang ditanya hanya tersenyum kecut ditahan. Tentu, sebagian dari mereka tak terima kalau Nyonya Barend akan menjadi bahan pembicaraan di Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen Magelang edisi berikutnya.

“Mevrouw van Barend, bolehkah saya tahu siapa juru masaknya?” Tiba-tiba suara Nyonya Fagal memecah keramaian. Nyonya-nyonya lainnya tentu terkejut dengan pertanyaan Nyonya Fagal. Tak terkecuali Nyonya Barend.

Aku pernah mencuri dengar. Nyonya Fagal tersohor akan “kata-kata”-nya. Aku sempat bingung ketika nyonya-nyonya yang berkunjung ke rumah Nyonya Barend menyebutkan “kata-kata” tersebut dengan menggelengkan kepala. Baru setelah berkali-kali aku berpikir, mungkin yang dimaksudkan dengan “kata-kata” adalah hal-yang-tak-perlu-dibicarakan-tapi-malah-dibicarakan. Karena nyonya-nyonya yang datang waktu itu mengeluhkan berita yang beredar mengenai diri mereka yang disebar oleh Nyonya Fagal.

“Sierlijn!” Nyonya Barend setengah berteriak. Ia sadar akan ketidaksopanannya menyebutkan nama kecil alih-alih nama suami. “Eee, maksud saya, Mevrouw van Fagal,” Nyonya Barend meralat teriakannya menjadi sedikit melembut, “apa ada yang salah dengan sajian sore ini?”

“Saya tidak terlalu menyukai masakan sayur tumis ini. Sayurnya terlalu… muda. Belum matang. Dan, bumbunya terlalu…,” Nyonya Fagal tak melanjutkan “kata-kata”-nya. Dari mimik wajahnya yang mengerut dan bibirnya yang ditarik turun, aku tahu, sayur tumis itu tidak enak menurutnya.

“Mungkin Mevrouw van Fagal kurang menyukai sayur?” Nyonya Larz melancarkan pembelaan. Ruangan jadi berdengung. Nyonya-nyonya dalam ruangan saling berbicara satu dan lainnya. Ketegangan semakin sengit. Aku melihat senyum lega Nyonya Barend atas pembelaan itu. Tentu Nyonya Larz membela Nyonya Barend. Mereka satu kubu.

Oh, iya. Aku lupa memberi tahu kalau dalam soos ini terbagi dalam kubu-kubu. Mereka saling menguatkan kubu masing-masing. Bersaing. Tujuan mereka jelas, menjadi pusat perhatian. Pembelaan Nyonya Larz tentu beralasan. Selain satu kubu dengan Nyonya Barend, ia tentu akan menjadi satu yang disebutkan namanya di Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen Magelang edisi berikutnya apabila apa yang dikerjakan Nyonya Barend sebagai tuan rumah pertemuan sore ini berhasil. Jadi, tentu ia akan membela Nyonya Barend mati-matian.

Nyonya Fagal, yang dipastikan di kubu lainnya, tak habis akal. Ia tampak berpikir sebentar. Mungkin mencari-cari apa yang bisa menjadi bahan untuk disalahkan. Nyonya Barend sepertinya tidak tinggal diam. Ia memang tidak tahu apa yang akan direncanakan Nyonya Fagal selanjutnya. Yang ia tahu, Nyonya Fagal akan berusaha mati-matian menjatuhkan perjamuan sore itu.

“Bagaimana dengan opor ayamnya, Mevrouw van Fagal? Apakah sudah mencobanya? Opor ayam itu dimasak oleh salah satu juru masak paling berbakat di kota ini yang saya pekerjakan di dapur saya.” Nyonya Barend melancarkan serangan tiba-tiba. Seketika Nyonya Fagal pucat. Bibirnya bergetar sebelum ia melancarkan serangan.

Aku lalu ingat Darsih. Ia yang bertanggung jawab menyajikan opor ayam. Aku, Darsih, dan Samirah memang membagi diri memasak sajian-sajian. Lagi pula, kami sudah membagi tugas memasak sedari pertama keluarga Barend mempekerjakan kami. Dan, opor ayam memang sudah menjadi salah satu tugas Darsih sedari awal.

Tapi, karena pikiran Darsih yang sedang tidak keruan dimulai degan kegelisahannya sewaktu di pasar, juga kemerenungannya di kamarku, dan terakhir adalah nyala mata lelah di pekarangan depan tadi, aku khawatir jika opor ayam sore itu akan dipermasalahkan Nyonya Fagal.

“Saya… saya belum mencicipinya. Sajian opor ayam itu terlewat di meja saya,” jawab Nyonya Fagal, ragu.

Nyonya Barend menghela napas lega. Sepertinya ia yakin akan memenangkan pertarungan itu. “Tini, suruh Darsih menyajikan sepiring opor ayam untuk Nyonya Fagal!” seru Nyonya Barend padaku dengan mantap. Aku yakin Darsih mendengar seruan Nyonya Barend karena ia berada tepat di balik ruang.

Darsih aku lihat tampak gemetar ketika harus mengantar opor ayam itu sendirian di meja Nyonya Fagal. Ia seperti sedang menghadapi medan perang dengan pucuk-pucuk senapan telah diarahkan semua tepat di keningnya. Salah sedikit saja ketika menyajikan opor ayam itu, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi padamu, Darsih. Itu pesanku pada Darsih. Aku jadi ingat, itu pesan yang mirip dengan pesan Darsih di pasar tadi pagi padaku.

Rasanya jadi begitu lama ketika Darsih akhirnya sampai di meja Nyonya Fagal. Aku lantas semakin waswas. Darsih pasti tak mampu mengendalikan diri dalam situasi seperti itu. Apalagi, Nyonya Fagal menatap tajam Nyonya Barend yang tersenyum ke arahnya. Aku menangkap ada ketidakberesan. Tapi apa, aku tak tahu.

Kekhawatiranku kian menjadi, tatkala tangan-tangan Darsih gemetar hingga menimbulkan suara bergeretuk pada piring opor ayam yang disorongkan di depan Nyonya Fagal duduk. Aku menunduk. Berdoa supaya apa yang aku takutkan tak terjadi. Tolong, Darsih. Bersikap tenanglah. Kau hanya perlu hati-hati meletakkan—

Prang!

Goedkope hoer!” teriak Nyonya Fagal.

Aku mengangkat kepala. Terkejut. Di depanku, nyonya-nyonya berdiri menjauhi meja makan besar karena ikut terkejut. Bukan karena piring yang pecah berantakan di lantai dan opor ayam mengotori gaun Nyonya Fagal, melainkan oleh “kata-kata” Nyonya Fagal kepada Darsih.

Nyonya Fagal sebenarnya tak menyangka akan keluar kata-kata itu dari mulutnya. Ia kelepasan bicara. Ia menatap marah pada Nyonya Barend yang lagi-lagi tersenyum kecil. Di dekat Nyonya Fagal berdiri, aku melihat Darsih yang tersungkur menunduk. Ia menahan takut.

Lebih terkejut lagi, bahuku ditabrak dari belakang oleh seseorang. Samirah. Ia berlari mendekati Darsih. Ia memeluk Darsih, seperti ingin melindunginya. “Nyonya, apa yang Anda katakan padanya? Jangan asal bicara!” Samirah meneriaki Nyonya Fagal.

Sempurna. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Nyonya Fagal berkata sedemikan kasarnya pada Darsih. Satu-satunya jalan, aku harus segera membawa lari mereka berdua menjauh dari Nyonya Fagal. Karena sesuatu yang mengerikan sudah pasti akan terjadi. Tapi, isyarat kembali dilemparkan padaku oleh Nyonya Barend. Tubuhku seketika memaku.

“Mevrouw van Barend! Jadi begini, kau mendidik pembantumu?!” Nyonya Fagal beringas. Ia berteriak pada Darsih dan Samirah. Ia kesal. Kesal pada Nyonya Barend yang menjebaknya hingga ia tak bisa mengendalikan diri. Semua yang ada dalam ruangan itu terdiam.

“Hentikan, Nyonya. Jangan asal bicara!” Samirah berteriak pada Nyonya Fagal yang tambah garang.

“Tanyakan sendiri pada pelacur itu!” Kepalang tanggung. Nyonya Fagal sudah tak memikirkan lagi tentang kehormatan di mata para anggota soos itu. Amarahnya sudah di ubun-ubun.

Samirah mengangkat wajah Darsih. “Katakan itu tidak benar, Darsih….” Samirah memastikan kalau Darsih bukanlah seperti yang dituduhkan Nyonya Fagal. “Darsih, katakan kalau kau tak ada hubungan dengan Tuan Fagal….”

Tapi Darsih diam. Ia mengunci mulutnya yang bergetar. Air mata deras membasahi wajah ayunya. Darsih mengatupkan kedua matanya, siap dengan apa yang akan dihadapinya.

Samirah melepaskan tangannya dari wajah Darsih. Ia lalu mundur, menjauh dari Darsih. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Tak percaya. Samirah bangkit dan berlari ke arahku. Ia memelukku. Erat. “Mbak Tini, tolong Darsih, Mbak,” Samirah berbisik sambil menahan tangis padaku. Aku hanya bisa membalas pelukan Samirah dengan sama eratnya. Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa.

Aku menunduk, memejamkan mata, karena yang aku dengar kemudian adalah teriakan Darsih yang minta tolong. Lalu suara piring-piring pecah. Juga suara kerak kayu yang patah. Teriakan itu kian keras dan baru berhenti oleh suara yang lebih keras dari itu semua. Tembakan.

Aku membuka mata. Di pintu besar gedung pertemuan ini, berbaris polisi kota praja siap di tempat. Opsir Kepala baru saja melepaskan tembakan angin ke arah langit-langit gedung.

Nyonya Fagal aku lihat sudah tak keruan. Rambut yang sedari pagi sudah dipersiapkan seharian untuk pertemuan sore ini, acak-acakan dibuatnya. Gaun indah yang sudah dipesannya berhari-hari sebelumnya itu, kusut dan kotor oleh tumpahan opor ayam dan masakan lainnya dari piring yang ia lemparkan ke Darsih. Ia sudah tak memedulikan lagi tatapan nyonya-nyonya dalam pertemuan itu. Ia tak peduli. Bahkan ia siap dikucilkan dari kubunya. Tampaknya, sudah sedari lama ia menahan sampai menemukan saat yang tepat baginya meluapkan rasa amarahnya. Baik kepada nyonya-nyonya yang menggosipkan hubungan gelap suaminya dengan gundik pribumi dan pasti kepada Darsih, gundik suaminya yang diketahuinya akan melayani para anggota soos sore ini.

Aku lalu mencari Darsih. Ia dengan napas masih tersengal, terkapar di lantai tak jauh dari Nyonya Fagal berdiri. Darah bersimbah di seluruh tubuhnya. Aku tak tega melihatnya. Tapi, mendekat juga tidak mungkin kulakukan. Aku hanya berharap, opsir-opsir itu segera memanggil ambulans dan segera membawanya ke rumah sakit.

***

De Eendracht dililit tali larangan mendekat. Nyonya Fagal sudah diamankan. Darsih, semoga seperti harapanku, juga telah menjalani penanganan. Kami yang ada pada saat peristiwa itu terjadi, belum diperbolehkan pulang sebelum menjawab beberapa pertanyaan dari polisi kota praja.

Selang beberapa waktu, kami pun diizinkan pulang. Aku melihat sekeliling. Nyonya Barend bersama kubunya, sedang tergelak kecil. Nyonya Barend menangkapku melihat. Kembali, ia melambaikan tangan, menyuruhku mendekat. Begitu aku berada di dekat Nyonya Barend, ia berkata bisik padaku, “Jangan lupa untuk singgah ke Apotheek van Gorkom. Saya tidak mau potongan harga dari Mevrouw van Gorkom terbuang sia-sia. Karena potongan harga itu hanya untuk hari ini saja.”

Aku terhenyak dengan kata-kata Nyonya Barend. Maka, aku mengangkat wajahku. Sekali dalam seumur hidupku mengabdi sebagai pelayan Nyonya Barend, aku mencoba menatap wajah Nyonya Barend. Ia datar-datar saja, seolah tak terpengaruh akan kejadian sore barusan di gedung tempat ia berkumpul dengan societeit sekelasnya. Wajar saja, tak ada di pihaknya yang terluka. Darsih, bukankah ia hanya kutu bagi Nyonya Barend?

Aku pun iseng menatap wajah nyonya-nyonya lainnya di kubu yang berseberangan. Aku lagi-lagi terhenyak. Wajah mereka sama datarnya dengan wajah nyonya-nyonya di kubu Nyonya Barend. Kejadian sore barusan juga seolah tak memengaruhi mereka. Meski salah satu anggota kubu mereka menghadapi hal yang luar biasa.

Aku lantas menatap Samirah yang sudah duduk di kursi andong yang sedianya juga segera mengangkutku pulang. Samirah tampak terpukul. Matanya merah, sembap habis menangis. Darsih, meski sering membuat ia berdebat berkali-kali, adalah senasib seperjuangannya.

Dadaku bergemuruh. Ada gelisah yang menggelayut. Aku mengingat-ingat pagi ketika di pasar, siang di kamar tidurku, dan tentunya sore di gedung societeit ini. Ternyata ada kubu lainnya selain kubu Nyonya Barend dan kubu Nyonya Fagal, yakni kubuku. Kubu yang bagai kutu bagi nyonya-nyonya itu.

Aku menghirup napas dan menghelanya pelan. Sepertinya aku punya ide yang menarik. Dengan pasti lalu aku menyuruh Kang Pangat segera berangkat membawaku ke Apotheek van Gorkom. Aku kemudian mengelus lembut kepala Samirah yang bersandar di bahuku sambil berbisik padanya, “Tenang. Kita akan membawa obat untuk Darsih. Aku dapat potongan harga dari Mevrouw van Gorkom. Tapi harus cepat, karena potongan harga itu hanya untuk hari ini. Aku tak mau itu terbuang sia-sia.”

Andong kami pun meninggalkan De Eendracht pelan. Waktu itu, sore hampir habis dan akan berganti malam.

 

Ginanjar Teguh Iman

Ginanjar Teguh Iman

Lahir di Magelang, 7 Mei 1984. Buku pertamanya berisi kumpulan cerita pendek Cerita Hujan yang diterbitkan sendiri di tahun 2012. Novel pertamanya berjudul Bulan Merah (Qanita, Mizan Group) yang terbit di tahun 2014 lalu setelah memenangkan beasiswa kepenulisan Antitesa Mizan 2013.
Ginanjar Teguh Iman

Latest posts by Ginanjar Teguh Iman (see all)

  • kadarwati TA

    bagusss… suka sama settingnya 🙂

Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co