Puisi-Puisi Gunawan Tri Atmodjo; Jarak

in Puisi by
iso.500px.com

Jarak

di luar tubuhku hujan begitu rusuh
mencari pecahan-pecahan jiwaku

di dalam diriku yang tenang
seorang perempuan sedang khusyuk
membaca buku

dan kekasihnya sibuk
membetulkan detak jantungku

Solo, 2016

 
Kutipan

seorang tokoh rekaanku berucap:
“kita cuma perambah terjal berahi
yang tak cukup doa dan lupa
berbekal setia.”

lalu ucapannya itu
menjadi kutipan kesukaanku

Solo, 2016

 
Doa Peresensi

Tuhan,
mohon karuniakan kepadaku
kemampuan menyederhanakan kata-kata
agar mampu kuringkas 500 halaman buku
menjadi tulisan 5000 karakter termasuk spasi

Solo, 2016

 
Laku

kau berjalan ke arah utara pada sebuah sore yang cerah

bayanganmu jatuh
tapi justru kau menatap wajah langit
yang mirip raut perasaanmu

betapa susah membaca isi hatimu sendiri di saat seperti itu

Solo, 2015

 
Biduanita Sera

/1/ Lara Silvi
aku gaung, terkadang sumbang dan limbung
tapi di usia begini belia telah kupukau ribuan telinga
jangan kaubawa labirin kenangan ke panggungku
karena aku tak segan untuk menyandera ingatanmu

/2/ Ina Samantha
berhati-hatilah kalau memasuki desah serakku
sebab detak jantungmu bisa seketika basah
tapi jika kau telah pasrah
akan kuperdengarkan suara terindah di nada terendah

/3/ Wiwik Sagita
kau membayangkanku dengan lamunan paling anggun
kau tahu, aku akan selalu bernyanyi dan berjoget untukmu
karena gendang telingamu adalah rumah ternyaman bagi suaraku
karena di tubuh sintalku telah memadat mimpi-mimpimu

/4/ Via Vallen
kau mengakrabi wajahku yang penuh bedak dan gincu
tapi parasku tetap saja kandas tanpa bekas
sebagaimana puja-pujimu yang tak lebih dari partikel not
hanya pita suaramu yang meriap-riap di poni rambutku

/5/ Yuni Ayunda
kau bisa memandangku tapi aku tak bisa melihatmu
tapi tak apa, dalam sebuah lagu
sejatinya kita senantiasa bertemu
akan tetap kusimpan tatap matamu di lesung pipiku

Solo, 2012

 
Pulang pada Puisi

/1/
lelaki pergi
mengumpulkan remah-remah mimpi
tapi tak pernah berjanji untuk kembali

perempuan di rumah
menyulam sulur-sulur penantian
menjadi selimut harapan
kelak lelakinya akan pulang

aku tak tahu
di mana di antara keduanya
puisi bermula

/2/
tak ada lagi kampung halaman untuk pulang
sebidang tanah telah lamur dalam lumpur ingatan
hanya tersisa sepetak puisi
untuk menanti mereka yang telah pergi

/3/
telah kulahirkan kesepianku
kupecahkan menjadi bilah-bilah sunyi
yang menyangga malam ini
kelak ketika malam tak bisa lagi dimaknai
dan gelap sepenuhnya misteri
pulanglah ia sebagai kata
penyempurna rangkaian doa
sebelum aku menutup mata

Solo, 2010

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)