Puisi-Puisi Khoer Jurzani; BATU TULIS

in Puisi by
artprojectsforkids.org

PANGUMBAHAN

 

Kekasih tempat berteduh mata rapuh. Ombak pecah.

Nelayan repih-kalah. Pangumbahan rahim bagi

bayi-bayi penyu hijau yang akan lahir. Pemayang

agung bagi angan-angan sepoi-sepoi angin.

 

Ombak kalut. Ombak bersama orang hanyut.

Bahtera menyisir dermaga. Ikan mati di dada

nelayan papa. Ombak kalut. Bijih besi bersama

orang menanti. Lelaki melangkah.

Tampaknya Anda. Berburu cangkang kerang kering

di atas karang. Di kalender, Oktober telah terbakar.

 

Di laut saya menjumpai jernih benih mata kekasih.

Juga silika pasir kuarsa, kulit selembut kelopak ombak,

kulit Anda. Di laut saya mau bilang, betul saya terpencil.

Laut terus-menerus angin, asin air, asing lelaki karam.

Anda ialah dermaga. Saya nelayan papa.

 

2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CIPETIR

*

Renyai hujan rontok. Jemari sekurus lidi  mengibas rasa cemas.

Landai pantai masih jauh, kata Anda, riak ombak masih jauh.
Kata saya, beri ujung kemeja Anda bilamana air mata

melimpah-tumpah.

 

*
Sepasang sepatu putih basah. Tanah yang saya injak basah.
Berangkat hitam pohon-pohon. Berangkat menyala lampu-lampu.

 

*
Pintu. Cuma sebuah pintu. Tidak langit. Tidak matahari
menyala sengit. Juga kamar buat tubuh. Buat menutup
tirai subuh. Senyap sungguh. Di luar dinding pabrik karet,

petir menyalak. Rongsokan tubuh saya menyalak.

 

*
Cokelat corak kulit saya. Cokelat corak kemeja saya.
Saya danyang yang menyaru. Gelayaran menjaga batu-batu,
pohon-pohon bambu. Saya ingin menitis. Bagai hujan
menitis. Bagai air mata. Menjadi jari-jemari air.

Menjulur menjamah tanah, ziarah ke sawah-sawah.

 

*
Tetapi air suci tidak pernah surut. Senyum siput dibawa turut.
2017

 

 

 

 

 

CICURUG

 

1

Sebagai samar dahan damar. Di pucuk bibir Anda, tak lekas

saya eja masa silam. Baris-baris gerimis, kabut, sinar matahari

pukul tujuh pagi, lampu mati. Sawah malih rupa menjadi pabrik.

Petani malih rupa menjadi buruh. Tak memanen sawi,

tak memanen rindu duka kembang sepatu. Kupu-kupu hutan

hinggap di atas luka anak-anak papa. Selain embus angin

di sekujur jasad Cicurug, semua orang bikin saya kecewa.
Saya dahan damar, mengasihi jendela kayu sebuah kamar: dada Anda.

 

2

Secangkir teh bagi umbai kendaraan, berbaris bak umbai

cacing bengis. Anda: Kaisar Shen Nung, ada dalam wujud

ibun. Leluhur tak pernah meneguk air mentah. Anda jerang

belasungkawa orang-orang di jalan; semut rangrang menyesaki aspal.

O, langkah ke surga tambah jauh. Selain lima lembar daun teh hijau,

mengambang di cangkir bimbang. Kabar ajal tersiar. Mata air

dikemas dikuasai. Paru-paru Anda dipompa, dijaja.

 

2017

 

 

CIREUNGHAS

 

Saya menilik rupa Anda dari dalam gerbong kereta:

irigasi Ciburuluk menitik ke sawah-sawah sepi,

kulit-kulit bukit sepi, ladang-ladang singkong

terancam, ladang jagung, rumah-rumah

perajin batu bata merah berdiri gelisah.

 

Saban subuh, perempuan-perempuan Cireunghas

tamasya ke pabrik sepatu, sebagai buruh payah,

was-was menahan marah. Puasa tak serta merta

menyiah lelah. Di Cireunghas, musim panen

belum tiba. Seorang petani berparas pucat menatap

kereta api bergerak, melaju menuju jantung, jantung iman.

 

Di Cireunghas, warung ringkih-rapuh mirip warung

kelam-remang lingkung gunung. Di surga apa orang-orang

akan khusyuk puasa seraya tadarus membaca daftar belanja.

Seorang ibu  tengah malam menjelang lebaran, bertanya,

kiranya di mana  penjual ikan air tawar berada, sebab

sisa darah hanya cukup membeli ikan air tawar dua-tiga ekor saja.

 

2017

 

 

 

 

BATU TULIS

 

Dari lubuk kereta saya tiba. Memahat hujan.

Memahat badan kereta api berjalan. Pantulan

mata ibu pada mata saya adalah pijar dendam.

Musim masih basah, Embus napas Anda bagai

sungai, sungai lengang. Dada saya muara. Kampung

halaman bagi stasiun hantu. Ingatan ditatahkan di atas

batu. Pelukan hanya angkutan umum melintas.

 

Aroma segar menguar dari rambut Anda tak hendak

saya sandang sebagai tempat pulang seorang lelaki malang.

 

2017

Khoer Jurzani

Lahir di Bogor, 22 maret 1987. ia memperoleh beasiswa kuliah dari STAI Al-Azhary Cianjur hingga lulus SI, saat ini aktivitasnya masih kuliah dan mengajar di SMA Pelita Madania, Pembina Sanggar Sastra Pelita Sukabumi (SANGSAKA) dan tutor di Paket B dan Paket C PKBM Ummi kulsum. Empat buku antologi tunggalnya yang sudah terbit ialah Senter Adam Kaisinan (Buku Bianglala: 2012) Anak-anak lampu (Komunitas Malaikat: 2013), Tidak Ada Lagi Emily (Sang Freud Press: 2013), Dua Bait Rahasia (Sang Freud Press: 2015) Madah Arum Endah (UNSA PRESS:2016).

Latest posts by Khoer Jurzani (see all)