
Kalian tahu kelanjutan cerita pendek yang berkisah tentang perempuan yang mengelem telapak kaki telanjangnya di langit-langit ruang tamu sementara si laki-laki menggelayut padanya itu? Yah, seperti yang sudah bisa kita duga, mereka akhirnya jatuh ke lantai. Kepala si laki-laki bocor akibat menimpa keramik; kepala si perempuan menimpa kepala si laki-laki yang bocor tadi dan membuatnya tambah bocor.
“Sakitkah?” tanya si perempuan. Ekspresinya diliputi kecemasan.
Si laki-laki menjawab dengan senyuman. Reaksi yang aneh. Tentu saja bukan gara-gara kepala si laki-laki mendapat benturan ganda lalu otaknya terguncang hingga berbuih-buih seperti minuman bersoda. Betapa sensasi luar biasa yang dirasakan si laki-laki tiga menit lalu itu telah mengalahkan segala rasa sakit, bahkan derita.
Persoalan rusaknya ending yang telah dibangun sedemikian rupa itu tidak terletak pada lemnya yang tidak kuat, kalian tahu sendiri produk-produk Jepang, tapi pada asbes sialan yang terbuat dari campuran mineral ini: amosite, crocidolite, chrysotile, tremolite, actinolite, dan anthophyllite. Meskipun nama-nama itu berbau asing, percayalah asbes itu produk lokal dan kalian tahu sendiri bagaimana kualitasnya.
Setelah kepala dan dahi si lelaki yang robek itu dijahit dan pipi si perempuan yang memar ditutupi bedak tebal hingga warna kebiru-biruan itu berubah menjadi merah muda, sehari kemudian mereka meneruskan hobi mereka yang sempat tertunda. Bahkan, frekuensinya lebih sering jika dibandingkan sebelum terjadinya fenomena langka ini; bayangkan adegan perempuan yang kakinya tergantung di plafon seperti seekor kampret.
Si laki-laki dan si perempuan yang memang tak pernah akur, bahkan sejak malam pertama, sehari kemudian langsung saling memaki meskipun hanya untuk kesalahan dan barang kecil: jarum pentul yang tertinggal di sofa sehingga menusuk pantat, batang korek api dipenuhi tahi telinga yang tertinggal di meja makan, kaus kaki yang tertukar dengan celana dalam, lupa menutup pintu sehingga kucing tetangga masuk lalu menggasak lauk, lampu teras yang belum dimatikan saat matahari terbit.
“Monyet! Babi! Sapi!” jerit si perempuan.
“Idiot! Goblok! Pekok!” balas si laki-laki, “Aa sudahlah!”
Pertengkaran si laki-laki dan si perempuan mencapai puncaknya pada hari ketiga. Si perempuan memergoki si laki-laki video call-an dengan Mindy yang telanjang bulat. Si perempuan yang berhasil merebut hape si laki-laki langsung memaki-maki Mindy.
“Pelacur! Lonte! Sundal! Jalang!”
Mindy yang tidak diterima disebut pelacur dan sinonimnya, meskipun sedang telanjang bulat saat video call-an dengan suami orang, balas mengata-ngatai si perempuan: penipu yang suka pura-pura orgasme, gedebok pisang di ranjang, tidak peduli kepada suami, suka menangnya sendiri dan seterusnya.
Pertengkaran lewat video call itu baru terhenti setelah si perempuan menghantamkan hape merk terkenal itu ke dinding kamar.
Brak! Krompyang!
Si laki-laki pun marah besar. Hape itu belum lama dibelinya dan di dalamnya banyak terdapat folder tersembunyi berisi foto-foto telanjang Yola yang belum semua sempat dilihatnya. Si laki-laki ingin menampar, memukul, menginjak-injak si perempuan, tapi tidak jadi. Si laki-laki pernah berkelahi dengan si perempuan, sebulan setelah mereka menikah, dan kalah.
Kalian pasti paham, sering kali kita bisa menduga kelanjutan rumah tangga sepasang suami-istri hanya dari melihat ekspresi mereka saat saling berbalas senyuman atau memperhatikan sikap keduanya saat di muka umum atau agresivitas mereka waktu di ranjang. Mesrakah, tak acuhkah, binalkah? Meskipun demikian, hal itu tidak seratus persen bisa dijadikan patokan. Ada syarat dan ketentuannya. Perihal kelanjutan biduk rumah tangga si laki-laki dan si perempuan, sudah pasti dengan gampang kita bisa menebak di dermaga mana biduk itu bakal bermuara.
Tahu si laki-laki ternyata masih berhubungan dengan Mindy, si perempuan langsung mengamuk, menggampari si laki-laki sejadi-jadinya. Kali ini si laki-laki melawan sebisa-bisanya, dan berhasil menangkis beberapa tamparan dan menghindari sejumlah cakaran, sebelum akhirnya lari terbirit-birit tanpa membawa apa-apa kecuali baju, dompet berisi uang tak seberapa, celana, dan batang yang ditutupinya. Dari belakang, si perempuan mengiringi si laki-laki hingga depan pintu.
“Minggat sana! Tidak usah kembali!” raungnya.
Si Lelaki lalu hidup serumah dengan Mindy dan sehari kemudian baru menyadari perempuan yang dikiranya sempurna itu ternyata tidak sesempurna yang diduganya. Mindy hanya kesepian dan sedang mencari pelampiasan. Pacar yang sudah memacarinya lima tahun itu meninggalkannya dan Mindy ingin membalasnya.
Di antara mengaso setelah bercinta, Mindy menyebut-nyebut mantan pacarnya, berkali-kali. Isinya memang sifat-sifat negatif mantan pacarnya itu. Namun, dari cara Mindy mengungkapkan, si laki-laki bisa menangkap Mindy sedang berandai-andai. Dan andai semua sifat negatif pada mantan pacarnya itu berubah menjadi positif, sudah pasti Mindy tidak akan lagi membutuhkan si laki-laki.
Pada hari ketujuh, si laki-laki tak tahan lagi dan memutuskan pergi.
“Mengapa?” Mindy bersimbah air mata. “Apakah Mindy kurang cantik?”
“Kamu sangat cantik,” jawab si laki-laki. “Tapi aku bukan tempat sampah penampung segala keluh kesah!”
Si laki-laki tiba-tiba menyadari, dalam hubungannya dengan perempuan, kaumnya sering kali berfantasi terlalu tinggi tentang cinta dan tetek bengeknya. Tak menyadari dalam hal yang satu itu, para perempuan sering berlaku seperti angin tornado yang tak bisa diduga arah terjangannya.
Si laki-laki lalu menghubungi Yola yang dikenalnya lewat aplikasi kencan. Harapannya melambung setinggi gunung ketika suara yang gurih, renyah, dan empuk itu menyambar-nyambar lubang telinganya. Tanpa berpikir dua kali, dengan naik taksi, si laki-laki menuju kos-kosan yang berlokasi di pinggiran kota. Namun, si laki-laki hanya betah tinggal sehari di kamar yang berantakan mirip kandang babi itu. Apalagi tubuh Yola yang putih mulus, payudara yang kencang menantang, bibir sensual mirip bibir Marilyn Monroe, ternyata hasil operasi. Juga jenis kelaminnya.
***
Setelah si laki-laki pergi tanpa membawa apa-apa, si perempuan tiba-tiba merasa kasihan dan mulai memikirkannya: bagaimana pakaian gantinya, siapa yang membersihkan puntung rokoknya, di mana tidurnya? Si perempuan menyadari, dirinya memang sering bersikap konyol dan berlebih-lebihan. Mestinya ia tahu pada dasarnya semua laki-laki sama dan bisa dipikat dengan cara yang sama pula: kelamin, makanan, dan perhatian. Sayangnya, si perempuan tidak menguasai ketiganya. Kelaminnya tidak sensitif dan tidak sepanas lubang knalpot. Rasa masakannya hanya dua macam: keasinan dan tidak ada rasanya. Sementara, perihal perhatian, itu juga yang selama ini sedang didambakan si perempuan, dan justru didapatnya dari orang lewat yang disuruhnya membetulkan lampu kamar. Mereka memang tidak jadi bercinta pada pertemuan pertama itu. Namun, peristiwa “nyaris saja” itu ternyata mampu membuat si perempuan orgasme berkali-kali saat membayangkannya.
Hari ke sepuluh, pagi-pagi sekali, si perempuan menyapu lantai teras dan sedikit kecewa ketika tidak mendapati bekas telapak sepatu di situ. Kekecewaannya bertambah-tambah ketika menjumpai asbak di ruang tengah bersih dan rapi, meja makan tak ada ceceran makanan sama sekali, ruang kerja tidak berantakan; semua berada di tempatnya.
“Mas! Kamu di mana? Pulanglah!”
Si perempuan batal mencuci, masuk kamar, telentang, memandang lampu neon di langit-langit, membayangkan wajah pemasangnya. Ah!
Hari ke lima belas, pagi-pagi sekali, si perempuan menyapu teras dan terkejut menjumpai si laki-laki ada di situ. Duduk di kursi penjalin yang dijubeli kutu busuk. Namun, si perempuan tak segera menghampiri si laki-laki yang juga sedang memandangnya itu. Si perempuan tak tahu mesti melakukan apa kecuali berdiri termangu-mangu.
Tatapan mata si laki-laki tampak teduh, dan si perempuan hanya bisa menduga-duga dan dugaannya hanya dua: si laki-laki ingin minta maaf atau sedang kelaparan. Pakaian si laki-laki masih yang dipakainya setengah bulan lalu. Kumal dan sekotor gombal. Si perempuan ingin mencopotnya, tapi segera membatalkan; tak yakin panu di punggung si laki-laki sudah sembuh.
Setelah cukup lama bersirobok, si perempuan duduk di samping laki-laki yang sedang memandang bunga asoka, pemberian Mindy yang diakuinya dari membeli di pasar bunga. Si perempuan menunggu, dan yang ditunggu akhirnya membuka mulut juga, satu menit kemudian.
“Kamu tahu permainan kartu remi?” tanya si laki-laki, tanpa menoleh. “Kalau tidak, sekali-kali gantikan aku meronda agar bisa memahami apa yang akan aku ceritakan ini!”
“Ok! Tak masalah! Kalau itu maumu!” sahut si perempuan, menegakkan punggungnya.
Si laki-laki menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tak menyangka retorika yang begitu gamblang tadi gagal dipahami.
“Permainan kartu remi di gardu ronda malam itu tak akan bisa aku lupakan seumur hidup. Aku sudah mencoba berbagai macam cara; mengocok berulang-ulang, membagi dari tumpukan paling bawah, pindah tempat duduk menyesuaikan weton, membaca doa, menyebut-nyebut nama bapak-ibu. Namun, semuanya sia-sia. Kartu yang kudapatkan selalu jelek. Jelek sekali. Akibatnya aku selalu mendapat hukuman. Bermacam hukuman. Muka penuh coretan spidol. Kedua engkel hampir keseleo gara-gara berjam-jam jongkok. Perut hampir meletus sebab minum air putih bergelas-gelas, puluhan gelas.”
“Memangnya kenapa?” Si perempuan menoleh ke si laki-laki, “Aku tak tahu maksudmu.” Ia lalu mengalihkan pandangan, menatap orang yang sedang lewat, dan sedikit kecewa setelah tahu bukan orang sering dibayangkannya, “tapi masih ingat waktu kamu minta pijat! Buang air kecil lima menit sekali.”
“Kamu tidak paham analogi tadi?”
Si perempuan menggeleng. “Coba kamu pahamkan!”
“Aku hanya ingin mengatakan perkawinan kita seperti permainan remi. Dan, kartu remi kita sama-sama buruk. Tak bisa diapa-apakan!”
“Terus? Maumu apa?” si perempuan mendongakkan kepala seperti ular kobra disentuh ekornya.
Segera, si laki-laki bersikap waspada. “Tadi malam, waktu tidur di kantor, tiba-tiba aku teringat saat melihatmu dalam keadaan cantik sekali,” si laki-laki tersenyum manis. “Aku ingin merasakan jatuh cinta lagi. Maukah kamu mengulangnya?”
“Mengulang apa?”
***
Si perempuan tergantung terbalik seperti kalong. Kedua telapak kakinya menempel di langit-langit ruang tamu. Rambut si perempuan terurai ke bawah seperti sulur pohon beringin. Payudaranya menjuntai seperti dua tetes air mata yang terbentuk sempurna, menyembul dari balik kaos putih. Si laki-laki pun birahi, lalu menumpuk lima ensiklopedi, memanjat ke puncaknya dan mencium si perempuan, menyatukan lidahnya dengan lidah si perempuan. Buku-buku tebal itu terjengkang kena tendang. Si laki-laki tergantung di udara seperti pakaian basah. Bibir si laki-laki dan si perempuan saling memagut, tak terpisahkan.
Catatan:
Sampai sekarang si laki-laki dan si perempuan masih di sana, tergantung di langit-langit ruang tamu dalam cerita pendek karya Etgar Keret.
***
*Terinspirasi dari cerpen karya Etgar Keret berjudul Grazy Glue.
Kajen, 19 Desember 2023
- Maukah Kamu Mengulangnya? - 4 October 2024
- Di Mana Kepala JP Coen? - 23 February 2024

