Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi #1

Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan Abu al-Fadhl as-Sarkhasi. Beliau adalah guru rohani dari Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair dan murid dari Syaikh Abu al-Fadhl. Apabila Syaikh Abu Sa’id terhimpit oleh persoalan apa pun, beliau lantas berziarah ke kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi, beliau lantas lapang batinnya karena itu.

Khawajah Abu Thahir, putra dari Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa pada suatu hari bapaknya pernah mengalami kegundahan sampai beliau menangis di sebuah majelis. Orang-orang yang ada di majelis itu juga ikut menangis. Beliau mengatakan: “Kalau aku dalam keadaan sumpek, maka aku berziarah ke kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi.”

Seketika sumpek beliau berubah menjadi jembar. Orang-orang di majelis itu menyiapkan binatang-binatang sebagai kendaraan. Mereka menaiki binatang-binatang itu. Setelah mereka sampai di padang sahara, kegundahan itu lenyap dari diri mereka, berganti dengan adanya kejembaran dan kegembiraan yang luar biasa.

Orang-orang itu mengalami kegembiraan. Mereka semua gaduh karena gembira. Mereka bersorak-sorai kegirangan. Sementara Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berbicara tentang persoalan rohani yang mereka alami, satu demi satu. Hingga akhirnya sampai di Sarkhas. Sampai di situ, mereka kembali ke kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi.

Di dalam perjalanan menuju ke kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi, beliau menyuruh seorang qawwal untuk membacakan bait puisi berikut ini: “Kiblatku adalah wajah kekasihku. Kiblat manusia adalah bagian dari Tanah Haram sana. Tempat yang lebih utama ini adalah tambang rahasia yang sempurna.”

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berdiri, berthawaf di kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi. Orang-orang itu, murid-murid Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair, memegang tangan gurunya. Beliau terus berkeliling kuburan itu dan menjerit. Sementara orang-orang itu, murid-muridnya sendiri, melepas penutup kepala mereka.

Mereka menggulung-gulungkan tubuh mereka di atas debu karena gembira. Setelah kondisi mereka tenang, baru Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mulai berbicara: “Jadikan hari ini sebagai yarikh bagi hari-hari yang lain. Sebab, tidak akan ditemukan pada hari-hari yang lain sebagaimana yang terjadi pada hari ini.”

Setelah hari itu, kalau ada orang yang mau ibadah haji dari kalangan murid-murid Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair, beliau menyuruh orang itu untuk mendatangi kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi dan mengelilinginya sebanyak tujuh kali. Beliau mengatakan: “Berangkatlah kau ke kuburan Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi dan kelilingilah sebanyak tujuh kali. Cita-citamu akan tergapai.”

Allah Ta’ala telah menjadikan beliau sebagai perantara yang ampuh untuk keperluan apa pun, untuk siapa saja yang datang ke kuburan beliau dengan niat yang baik. Kenapa beliau dijadikan sebagai perantara yang ampuh? Semata karena beliau begitu tulus dalam mempersembahkan sembah sujud kepada hadiratNya. Beliau telah sampai pada kedudukan rohani yang tertinggi di hadapan Allah Ta’ala. Yaitu, kedudukan cinta dan rida kepada Allah Ta’ala. Adapun cinta dan kasih sayang kepada umat manusia adalah pantulannya dari cinta kepada hadiratNya, bukan apa pun yang lain. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!