
“Hornby?”
Itu pertanyaan C.W. Watson, antropolog dan pengkaji sastra Indonesia asal Inggris, kepada saya lewat email. “Itu bukan jawaban yang saya bayangkan,” sambungnya.
Pak Bill, demikian kolega dan murid-murid Indonesianya biasa memanggilnya, menawari saya oleh-oleh buku dari pulang kampungnya ke Inggris. Kami terhubung setelah ia membaca novel saya, Kambing dan Hujan (terbit 2015), yang tampaknya menarik minatnya.
Mungkin ia membayangkan saya akan menyebut karya-karya klasik dari Dickens atau Joyce atau Forster, atau karya dari nama yang lebih baru yang belum lama memenangkan Booker, atau, mungkin saja, buku-buku nonfiksi dari penulis yang sedikit punya reputasi serius. Sialnya, satu-satunya nama yang ada di kepala saya saat itu adalah seorang penulis populer best seller bernama Nick Hornby.
“Saya suka tulisan-tulisan sepakbolanya, Pak,” tulis saya kepada Pak Bill, mencoba menjelaskan pilihan saya. “Dan,” saya tambahkan, “sejujurnya saya tak cukup tahu nama-nama atau karya sastra berbahasa Inggris yang lebih baru. Lagi pula, bahasa Inggris saya terlalu terbatas untuk membaca novel yang terlalu serius.”
Selebihnya saya tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Bill. Buku-buku Hornby itu datang beberapa waktu kemudian.
***
Nick Hornby, lepas apakah ia adalah penulis serius atau pasaran, untuk saya lebih menyerupai sebuah obsesi.
Saya menemukan namanya mula-mula di dunia film—tentu saja. Awal 2000an, saya masih mahasiswa Sastra di Kampus Bulaksumur, dan tiap hari menongkrongi lapak-lapak penyewaan kepingan film di sekitaran Sagan-Samirono. Fever Pitch (1997) kemungkinan adalah salah satu film yang disewa seorang teman, yang dikiranya sejenis komedi romantis macam Four Wedding and A Funeral atau Notting Hill—ya, itu adalah tahun-tahun kejayaan komedi romantis Inggris. Dalam beberapa hal, tentu saja Fever Picth adalah komedi romantis, meskipun dalam bentuk yang agak terlalu aneh, dan karena itu saya tak terlalu terkesan olehnya kecuali sedikit berkait dialog-dialognya yang menyinggung sepakbola. Tapi setidaknya dari sinilah saya tahu bahwa film ini diadaptasi dari memoar seorang penggemar sepakbola bernama Nick Hornby. Hanya itu.
Menonton High Fidelity (2000) di televisi pada tengah malam beberapa tahun kemudian tampaknya lebih mengesankan. Meski itu peristiwa 20 tahun silam, saya bisa mengingat apa-apa saja yang menyenangkan dari film itu ketika pertama kali menontonnya: 1) penampilan John Cusack yang menyebalkan; 2) Jack Black yang lebih menyebalkan lagi; 3) Tim Robbins yang biasanya punya kesan dingin (ingat karakter Andy Dufresne dalam Shawshank Redemption?) muncul dengan rambut ekor kuda yang konyol; 4) Lisa Bonet yang entah kenapa terlihat begitu ganjil sekaligus begitu jelita, meskipun hanya sekilas saja.
Gaya penceritaan yang menabrak Tembok Keempat (Fourth Wall), yang tokoh utamanya bercerita langsung ke penonton dengan menghadap ke kamera, juga meninggalkan kesan menyenangkan lainnya. (High Fidelity adalah jenis film dengan teknik naratif demikian yang pertama saya tonton.) Namun yang paling bikin film ini jauh lebih mudah diingat adalah karakter obsesif-kompulsif tokoh utamanya, Rob Gordon, terhadap musik—sesuatu yang nanti saya kenali betul sebagai kekhasan tokoh-tokoh fiksi Hornby sekaligus kekhasan Hornby sebagai pribadi.
Meski begitu, nama Hornby, baik untuk film maupun untuk buku, masih belum terlalu menarik. Alih-alih novelis, saat itu para vokalis band Inggris-lah yang lebih menguasai kepala saya. Thom York, Brett Anderson, Matt Bellamy, James Blunt, hingga Tom Chaplin, bersama musik dan cara nyanyi mereka yang mleyat-mleyot, sepertinya jauh lebih cocok untuk seorang karyawan kantoran usia 25an yang merasa rapuh dan rentan. Sementara sebagai seorang yang sedang menyiapkan novel pertama, film-film Iran, novel-novel otobiografis penulis Yahudi korban Nazi ( Elli Wiesel dan Imre Kertesz, misalnya), kisah-kisah anak miskin dari Irlandia hinga India, juga Thailand, jauh lebih saya butuhkan.
***
Butuh waktu hingga lima-enam tahun kemudian sampai saya betul-betul menemukan Nick Hornby dengan cara yang seharusnya. Saya menemukan Suami Sempurna di sebuah pameran buku yang sepi di Jogja pada akhir 2010—saya tahu ini karena saya mencatatnya dalam tengara di sampul dalamnya. Itu adalah buku Hornby pertama yang saya punya. Lucunya, seperti juga Fever Pitch sebagai film, buku ini pun tidak memberikan kesan yang terlalu baik.
Hampir pasti, jika bukan karena ada nama Hornby di sampulnya, saya tak akan punya alasan untuk membeli buku dengan harga obralan itu. Dari judul, ukuran, desain sampul, hingga tata letak, termasuk di dalamnya cap dagang membiarkan nama penulis tanpa keterangan sedikit pun, novel ini lebih dekat kepada novel-novel romansa terjemahan dari penulis macam Sidney Sheldon atau Sandra Brown atau Nicholas Spark atau bahkan seri Harlequin, jenis bacaan yang tidak pernah dan tidak ingin saya sentuh—apalagi mengingat novel-novel itu diterbitkan oleh penerbit yang sama. Saya rasa, baru jauh lebih belakangan saya menyadari bahwa, berdasar novel-novelnya yang diterjemahkan di Indonesia, lalu ditegaskan oleh judul-judul yang dipilih, Hornby sepertinya memang dipersepsikan oleh penerbitnya di Indonesia sebagai penulis dengan pasar yang kurang lebih sama dengan Sheldon dan Brown.
Saat itu saya sudah memiliki informasi yang lumayan tentang Hornby, setidaknya dari sisi film. Belum lama Hornby mendapatkan nominasi Oscar pertamanya lewat naskah adaptasi yang ditulisnya untuk film An Education (2009). Film High Fidelity, yang saya sukai sejak pertama menontonnya,telah menjadi koleksi wajib bersama film-film tentang musik rock lain, macam Pink Floyd: The Wall, Syd and Nancy, The Doors, Velvet Goldmind, Almost Famous, dan The Boat That Rocked. Sementara, meskipun sedikit agak memaksa, Fever Pitch bergabung bersama film-film bertema sepakbola seperti Purely Belter, Bend It Like Beckham, The Miracle of Bern, Sixty Six, The Year My Parent Went of Vacation, Maradona by Kusturica, The Damned United, dan Looking for Eric. Barangkali karena itu, dengan berbagai bayangan dan harapan yang sudah agak mengeras, saya jadi sulit terkesan dengan Suami Sempurna.
Novelini belum-belum sudah bikin geli hanya dari bagaimana penerbit edisi Indonesianya menjudulinya. Bagaimana bisa How To Be Good (2001), novel ketiga Hornby, diterjemahkan sebagai Suami Sempurna? Saya sulit sekali menemukan hubungan yang masuk akal antara judul Inggrisnya dengan judul Indonesianya, kecuali bahwa ia dipikir cocok untuk menggoda ibu-ibu perkotaan pengunjung tetap toko Gramedia untuk membelinya.
Tema perceraian juga tidak related dengan seorang bujangan awal 30an yang masih menertawakan ide tentang perkawinan. Juga singgungannya dengan new age, meskipun tujuannya lebih mengolok-olok dibanding membesar-besarkan,rasanya aneh sekali.
Sebagai orang yang pada masa mahasiswa, di awal 2000an, pernah terlibat diskusi dan peliputan fenomena spiritualisme urban—mulai dari kemunculan Komunitas Lia Eden dan ramalan-ramalannya tentang kiamat di Jakarta, naiknya tren pengajian di perkantoran dan hotel-hotel berbintang di ibukota, membludaknya buku-buku bertema spiritual macam Celestine Prophecy-nya James Redfields, larisnya seri Chicken Soup for The Soul, hingga ketenaran tiba-tiba penulis-spiritualis Anand Krishna di I ndonesia—ide tentang penyembuh bertangan hangat bernama GoodNews untuk saya terasa agak dangkal dan ketinggalan zaman. Ya, barangkali terlambat 10 tahun membaca novel tersebut menjadi penjelasannya.
Tapi, Suami Sempurna yang tak sempurna-sempurna amat ini tidak sepenuhnya tidak menyenangkan. Ada hal-hal yang saya sukai dari novel ini, dan itu membuat saya sesekali masih membacanya ulang.
Seperti yang banyak saya baca tentang diri dan karya Hornby, sepakbola dan musik dan film dan buku-buku (nama penulis maupun judulnya) berhamburan di sekujur novel ini. Dalam dua halaman novel yang hanya diisi daftar nama-nama orang terkenal yang dianggap oleh David, tokoh utama novel ini, sebagai orang yang bakatnya dilebih-lebihkan atau sama sekali tidak berbakat, sepertiganya adalah para pemain sepakbola atau olahragawan, sementara tiga perempat sisanya diisi musisi, aktor, sutradara maupun pengarang. (Jika ingin tahu, coba cek halaman 216-217 untuk edisi Indonesia, atau halaman 129-130 untuk edisi Inggrisnya.)
Membuat metafora atau parabel dari khazanah olahraga, film, buku, atau musik, seringkali dengan cara yang nyaris seenaknya, adalah hal yang khas di novel ini, dan itu menjadi salah satu dari beberapa hal yang saya suka—dan nantinya menjadi salah satu hal yang paling saya sukai dari Hornby. Misalnya, ketika hendak menggambarkan bahwa sifat seseorang akan berubah seiring waktu, Hornby mengumpamakannya dengan Martina yang tak akan terus-terusan menjuarai Wimbledon. Demikian juga ketika salah satu karakter menjadi lebih ramah dibanding karakter lain karena karakter pertama tak ingin sama dengan karakter kedua, yang muncul adalah gambaran tentang suporter sepakbola Skotlandia yang tak suka rusuh bukan karena mereka pada dasarnya baik, melainkan karena mereka tak ingin disamakan dengan musuh mereka, suporter Inggris. Atau, ketika mencoba menjelaskan perasaan narator tentang suaminya yang menjengkelkan, ia menyebutnya seperti membaca novel jelek, lengkap dengan menyebut judul novelnya.
Jelas, parabel atau metafora atau simile semacam ini bukan untuk semua orang. Kalau Anda sedikit tahu tentang tenis misalnya, atau setidaknya tahu hal-hal umum berkait olahraga, Anda tak akan punya masalah: Martina yang disebut dengan seenaknya di situ tentunya Martina Navratilova, petenis putri Ceko(slovakia), juara Wimbledon sembilan kali berturut-turut. Demikian juga soal sikap bermusuhan suporter Skotlandia terhadap suporter Inggris, yang memang sudah kondang di kalangan penggemar sepakbola. Tapi untuk pembaca yang awam olahraga, tak tahu apa-apa tentang sepakbola, atau sama sekali tak peduli dengan sastra, saya bisa bayangkan makian semacam “Martina siapa, Su!?”, atau gugatan “Ini novel soal rumah tangga, kenapa bawa-bawa sepakbola?”, atau omelan “Bisa tidak sih tidak melakukan book shaming?”, atau ucapan lain senada itu. Tapi justru karena “lelucon internal” inilah saya merasa dilibatkan oleh Hornby.
Sementara tema dan ceritanya terasa mengada-ada, karakter utamanya justru terasa aku banget. David, sang tokoh utama, seorang laki-laki uring-uringan yang sehari-hari menulis kolom bernama “Pria Termarah di Holloway” di sebuah koran lokal, yang harus tetap marah-marah agar kolom itu tidak diberikan kepada penulis lain yang lebih marah, rasanya amat mirip dengan saya di masa itu.
(Ya, saya masih suka uring-uringan hingga saat ini, tapi tidak seperti masa-masa itu. Saat itu, hingga saya keluar dari pekerjaan kantoran saya pada 2009, saya adalah karyawan yang tidak bahagia. Terutama dua tahun terakhir, karena tak memiliki jobdesk yang jelas, sebagian waktu kerja saya pakai untuk menulis novel dan mengkonsumsi bacaan-bacaan yang tidak jelas juntrungannya. Sebagian dari bacaan itu adalah bacaan-bacaan yang menimbulkan amarah, semisal tulisan-tulisan dari kelompok New Left, dan saya mempercayai semua hal buruk yang mereka katakan tentang tatanan Dunia, tentang Imperium Baru Amerika yang culas dan bengis, tentang persekongkolan para Hawkish, Neokon, dan Ateis Baru pro-perang terhadap Islam pasca-9/11. Di saat bersamaan, saya membuat blog bernama Sceptic Tank, yang kebanyakan berisi tulisan olok-olok dan caci maki terhadap buku-buku atau film-film atau orang-orang yang saya benci. Ketika saya keluar dari pekerjaan pada 2010, novel pertama saya bernasib lebih buruk dibanding sampulnya yang sudah sangat buruk, dan satu-satunya hiburan adalah menulis status-status sengak di Facebook, yang kemudian lebih dimaterialkan dalam Dushman Duniya Ka, dan Belakang Gawang, dua blog film dan sepakbola yang juga ditulis dengan sikap uring-uringan.)
Jika David adalah “Pria Termarah di Holloway”, tak diragukan saya adalah “Bujangan Paling Uring-uringan di Sambilegi”. Kalau David bermasalah dengan perkawinannya karena karakternya, saya agak yakin saya juga akan jadi suami yang tidak kompeten jika saat itu berada dalam pernikahan.
Sarkasme dan selera humor Hornby juga cocok dengan selera saya. Misalnya, ketika narator menyebut adegan terbaik dari seri Star Wars adalah adegan senyap di film kedua, atau bahwa Erin Brockovich bisa ditonton karena film itu setidaknya berwarna dan tokoh utamanya bukan seekor serangga, saya terpingkal-pingkal tak habis-habis.
Mungkin hal inilah yang membuat saya sempat membeli Suami Sempurna untuk kedua kali ketika buku pertama dipinjam seorang kawan dan bertahun-tahun tak dikembalikan. Di atas itu, dari Suami Sempurna, saya rasa ketertarikan dan keingintahuan terhadap karya-karya Hornby yang lain menjadi sedikit lebih serius.
(Bersambung…)
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025


Harlan Alamsyah
Saya suka novel seperti ini, saya mahasiswa Unhas prodi sastra jepang.
Fridy
Saya masih SMA , apakah saya bisa mengikuti event ini?
Fridy
Saya sangat suka dengan novel seperti ini
Novelnya bagus dan tidak membuat bosan ketika membacanya.